Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
66


__ADS_3

Sore menjelang, Ara terbangun. Ia melihat jam ditangannya.


"Udah jam empat. Apa mereka belum selesai" Gumma Ara


Ara merentangkan kaki dan tangannya lalu menyibakan selimut yang ia pakai. Ara duduk lalu mengambil handphonenya menghubungi Satria.


"Hallo. Sudah bangun"


"Ehmm. Apa belum selesai acaranya?"


"Kenapa, kamu bosan"


"Ehmz"


"Wah Sat, lo lagi ngomong ma pacar lo yang putri Wiguna itu" Satria mengagguk " Kenalin lah. Iya kan bro?"


"Betul" Serempak


Ara hanya mendengarkan, sudut bibirnya terangkat.


Satria menggeleng "Belum saatnya"


"Pelit lo"


"Ehm sayang tunggu sebentar ya" Ara membulatkan matanya mendengar kata sayang dari Satria. Ara tersenyum lebar, tidak bisa dipungkiri bahwa ia senang.


" cie sayang" dan semua tertawa


Ara langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu Satria.


"Jantungku" Ara memegang dadanya "Kenapa berdegup kencang gini cuma karena kata sayang darinya. Aku kaya anak remaja yang pertama kali kasmaran" Lalu Ara tertawa " Hahahaha. Aku memang sekarang jadi anak remaja" Ara berbicara sendiri.


Tut...


Tut...


Tut...


Satria melihat handphone nya. Ia menggeleng seraya tersenyum. Satria tahu bahwa Ara mungkin malu sekarang.


"Gue cabut" Ucap Satria pada teman-temannya


"Jangan dulu lah Sat, baru juga jam empat ini"


"Iya betul itu"


"Kita lanjut lah, bagaimana kalau kita ke tempat karoke milik keluarga gue" Ajak Renaldi


"Boleh itu"


"Setuju gue"


"Gimana Sat" Ucap Alvin, karena ia dan Dion tahu bahwa Ara ada disini diruangan Satria.


"Ayolah Sat. Kapan lagi kita kumpul kaya gini. Bentar lagi kita ujian dan bakalan sibuk masing-masing. Udah itu kita juga bakalan sibuk dengan studi kita nanti. Kita gak mungkin kan satu kampus sama satu fakultas" Ucap Renaldi membujuk Satria


"Ikut aja lah Sat. Ara mah bawa aja tapi beda tempat!" Bisik Dion


Satria menimbang-nimbang dan akhirnya ia setuju dengan usul Renaldi.


"Baik. Tapi kalian duluan saja, aku ada urusan sebentar" Ucap Satria

__ADS_1


"Wah pasti sama Doi" Dan gelak tawa pun pecah.


Satria hanya tersenyum, tidak menyangkal atau membenarkan. Tapi mereka tahu hanya dengan senyum Satria. Bahwa itu adalah benar.


"Share Loc aja nanti. Ok" Ucap Satria lalu beranjak dan pergi keruangannya.


Mereka semua akhirnya pergi meninggalkan Satria menuju tempat karoke milik keluarga Renaldi.


Cklek...


Satria membuka pintu, nampak Ara sedang duduk sembari memainkan Handphone nya. Satria memandang Ara diambang pintu, entah kenapa ia tidak ingin jauh dari Ara hari ini.


Merasa ada yang memperhatikan, Ara menengok kearah pintu dan tersenyum melihat Satria sedang memperhatikannya.


"Sudah?" Satria mengagguk dan duduk disebelah Ara "Ayo berangkat sekarang, ini udah sore" Lanjutnya.


Satria menghela nafas dan itu membuat Ara mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa?. Ada masalah?" Tanya Ara


Satria menggeleng "Tidak, tapi anak-anak sekarang OTW ke tempat karoke milik keluarga Renaldi. Kita akan lanjut disana" Jelas Satria


"Owh ya udah kalau gitu antar aku pulang dulu. Eh aku pulang aja naik taksi dan kamu langsung kesana aja." Ucap Satria


Lagi-lagi Satria menggeleng" Kamu ikut aku Ra" Ucapnya lembut.


"Hah" Ara merasa aneh " Masa ikut sih, nanti ketahuan donk" Satria menggeleng


"Tidak akan. Kita pesan saja satu ruangan disebelah ruangan yang akan anak-anak tempati" Usul Satria


"Terus aku sendiri gitu" Satria mengagguk "Ogah!" Malas Ara


"Sekali ini, please Ra" Mohon Satria


"Iya memang, aku pun merasakannya Ra. Namun yang pasti aku tidak ingin berada jauh darimu saat ini"Batin Satria


"Ayo sekali ini saja. Aku akan menuruti apapun yang kau mau" Ucap Satria


"Janji?" Ucap Ara memasatikan


Satria mengagguk " Janji"


Ara tersenyum sumringah "Yeah... Apapun Ok"


"Ok" Satria mengambil hodie miliknya lalu memberikannya pada Ara. "Pakailah ini" Ara mengagguk dan memakainya


Mereka berjalan keluar kafe sembari bergandengan tangan. Setelah sampai didepan kafe, Satria memasangakan helm yang tadi sempat ia pinjam dari karyawannya. Karena Satria tidak mempunyai cadangan helm di kafe. Lalu ia memaikai helmnya sendiri.


"Ayo naik" Ajak Satria setelah ia menaiki motornya


Ara menaruh tangannya dipundak Satria sebagai pegangan kemudian naikdan duduk menghadap Satria.


"Pegangan Ra" Perintahnya


Ara melingkarkan tangannya dipinggang Satria lalu ia menyenderkan kepalanya dipunggung Satria. Satria yang melihat tangan Ara melingkar dipinggangnya tersenyum, ia mengusap lengan Ara kemudian menjalankan motornya.


Sesampainya mereka ditempat parkir, Satria menghubungi Dion.


"Hallo" Suara Dion disebrang sana


"Gue sudah ada dibawah. Tolong lo pesan satu ruangan disebelah ruangan kita. Jangan sampai anak-anak tahu!"

__ADS_1


"Ok"


Setelah selesai Ara dan Satria masuk kedalam lift menuju lantai tiga dimana anggota OSIS berada.


Dion memasukkan handphonenya kedalam saku lalu ia beranjak dari duduknya.


"Guys gue ketoilet sebentar" Ijin Dion


"Ok"


"Gue ikut" Ucap Alvin


Mereka keluar ruangan bersama sama.


"Jadi..." Ucap Alvin meminta penjelasan


"Satria minta gue buat pesen satu ruangan disebelah buat Ara" Alvin mengagguk.


"Kenapa dia gak anterin pulang dulu aja" Saran Alvin


"Gue juga heran. Gue tanya alasannya dia bilang perasaannya gak enak" Jelas Dion


"Gitu aja" Dion mengangguk " Aneh"


Mereka berdua memesan ruangan untuk Ara. Setelah itu Dion mengirim pesan pada Satria dan mereka berdua menunggu diruangan itu.


cklek...


Ara dan Satria membuka pintu dan masuk. Mereka meliahat Dion dan Alvin sedang menikmati minumannya. Disana juga tersedia minuman bersoda dan juga jus kesukaan Ara serta beberapa cemilan ringan.


"Woi kalian udah sampai" Ucap Dion


Ara memutar matanya jengah " Gak liat apa udah ada didepan mata. Pake nanya lagi" Gummanya pelan


"Lo bilang apa?" Tanya Dion


"Gak Ada" Jawab Ara. Dion membuang nafasnya kasar. Saat ini dia sedang tidak mood buat berdebat dengan Ara.


"Ayo cabut" Ajak Dion kesal


Alvin dan Satria menggelengkan kepalanya melihat Dion dan Ara.


"Ayo" Dion menyeret Alvin


"Ra sorry kita tinggal dulu" Ucap Alvin setengah berteriak. Ara melambaikan tangannya pada Alvin


Ara kemudian duduk disusul Satria yang duduk disampingnya. Ara menyenderkan kepalanya disofa lalu memejamkan matanya.


Melihat itu Satria merasa bersalah " Maaf" Cicitnya


Ara membuka matanya dan melihat Satria. Ara memposisikan duduknya tegak.


"Tidak apa. Pergilah, mereka sudah menunggu mu" Satria mengagguk lalu mencium kening Ara.


"Maaf, aku tidak akan lama. Janji" Ucap Satria


Ara melihat jam yang melingkat ditangannya, lalu tersenyum.


"Ok waktumu satu jam, tidak boleh lebih."


"Kalau lebih?" Tanya Satria

__ADS_1


"Aku akan pulang tanpa menunggumu" Ancam Ara


Satria tersenyum, tangannya terulur mengacak-ngacak rambut Ara. "Baiklah. Aku pergi " Ara mengaggukan kepalanya dan Satria pun keluar meninggalkan Ara.


__ADS_2