
Didapur Ara membantu Lisa menata bahan makanan dan menyimpannya. Walaupun Lisa mempunyai dua asisten rumah tangga tapi ia suka melakukan pekerjaan yang masih bisa ia lakukan.
" Pergilah kekamar, istrirahat saja. Nanti Ibu panggil saat makan siang tiba"
" Tapi Bu" Ara merasa tidak enak pada mertuanya
" Tidak ada tapi-tapian. Sana pergi!. Eh itu roti sama minuman bawa sekalian kekamar buat kalian ngemil" Senyum menggoda terbit dari bibir Lisa
Ara lalu pergi kekamar dengan membawa nampan berisi roti dan minuman dingin untuknya dan Satria.
Cklek...
Ara membuka pintu kamar Satria. Ara memasuki kamar dan melihat Satria tengah tertidur. Ara meletakkan nampan yang ia bawa dimeja. Ara ikut berbaring disebelah Satria. Baru saja Ara akan menggapai mimpi indahnya. Suara handphone Satria berbunyi nyaring sekali sehinggal Ara terganggu. Ara melihat Satria tidak terganggu dengan suara handphone nya, meraih benda pipih milik Satria. Ara melihat ada nomor baru menghubungi suaminya. Karena tidak berhenti berbunyi, Ara pada akhirnya memberanikan diri untuk mengagkat panggilan untuk Satria.
" Hallo ini siapa ya?" Jawab Ara. Namun hening tidak ada suara disebrang sana.
" Hallo apa kau mendengar ku. Hallo" Lalu Ara melihat penggilannya ternyata masih tersambung.
" Masih tersambung, tapi gak ada suaranya ya!"Lalu meletakkan kembali di telinganya " Hallo. Maaf Satria nya lagi tidur nanti kamu bisa hubungin la.." Belum Ara menyelesaikan perkataannya. Sambungan telepon sudah terputus.
"Ih kok mati. Siapa sih gak jelas banget "
" Kenapa kamu megang HP aku?" Ara terlonjak kaget
" Astagfirullah. Kamu ngagetin aku tahu!." Satria menatap Ara.
" Kenapa pegang HP aku?."
" Owh. Hehe. Maaf ya tadi ada yang hubungin kamu tapi kamu tidurnya kaya kebo. Gak bangun bangun jadi aku angkat aja. Eh tapi gak ada suaranya. Pas aku bilang kamu tidur. Langsung dimatiin, Aneh kan?."
Satria mengerutkan keningnya lalu menyambar HPnya yang Ara pegang. Satria melihat no yang menghubunginya tapi ia tidak kenal.
" Nomor siapa ini?." Batin Satria
Disebrang sana seorang gadis sedang menangis tersedu-sedu didalam kamarnya yang bernuansa pink. Sahabatnya memeluk erat dirinya.
"Apa yang kurang dari gue Sil?" Angel melepaskan pelukannya
" Tidak ada lo sempurna" Sisil mengusap air mata Angel dengan menggunakan sapu tangan.
" Lalu kenapa dia tidak mencintai gue?" Sisil memdesah
__ADS_1
" Lo benar-benar bodoh karena dibutakan cinta!" Batin Sisil " Kenapa Lo tidak mencintai Robi yang jelas cinta sama lo. Dia baik, gak kalah tampan dari Satria dan juga pintar" Angel menatap tajam Sisil.
" Karena gue mencintai Satria!" Teriak Angel
" Lo bodoh tahu gak!. Posisi Robi sama kaya lo!. Dia sempurna tapi lo gak bisa kan jatuh cinta padanya karena apa?. lo tahu!. Karena cinta tidak bisa memilih sendiri orang yang dicintainya tanpa pandang bulu!. " Sisil menjeda ucapannya
" Sama seperti lo yang mencintai Satria tapi dia mencintai orang lain!. please buka mata lo. "
" Gue mencintai Satria dan dia harus jadi milik gue!" Teriak Angel
Sisil mendesah dia tidak tahu lagi harua bilang apa pada Angel.
" Terserah lo. Gue cape!" Lalu Sisil pergi meninggalkan Angel.
...----------------...
Sore menjelang, Ara dan Satria bersiap-siap untuk pergi kerumah keluarga Wiguna.
" Ibu, Ayah. Kita pergi dulu" Ucap Ara lalu mencium tangan kedua mertuanya. Begitu pula dengan Satria.
"Assalamualaikum" Ucap Ara dan Satria
" Waalaikumussalam" Ucap Heru dan Lisa berbarengan.
Hanya butuh empat puluh menit untuk Satria dan Ara sampai dikediaman keluarga Wiguna. Baru saja mobil Satria sampai dipekarangan rumah Ara. Mama Ara nyonya Devina sudah menyambut mereka didepan pintu rumah. Kebahagian terpancar diwajah Devina ketika melihat mobil Satria dan Ara sudah sampai dirumahnya.
Satria melepaskan sabuk pengamannya. Ia melirik Ara yang masih tertidur. Satria pun turun dari mobil lalu menghampiri mertuanya dan menyalaminya.
" Assalamualikum" Ucap Satria
" Waalaikumussalam. Kenapa turun sendiri?." Tanya Devina yang merasa curiga melihat menantunya menghampirinya sendiri.
" Ara tertidur Ma" Jawab Satria. Devina menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
" Bangunkan saja. Kebiasaan dia itu" Lalu melenggang pergi masuk kedalam rumah
Satria berbalik menghampiri mobilnya lalu membuka pintu mobil. Satria tidak tega membangunkan Ara. Lalu Satria membuka sabuk pengamannya dan menggendong Ara ala bridal style. Satria memasuki rumah sambil menggendong Ara.
Devina melihat Satria menggendong Ara sangat bahagia. Ia berharap cinta diantara mereka akan cepat tumbuh
" Kamu menggendongnya Sat" Tegur Devina
__ADS_1
" Eh iya ma" Satria tersenyum kikuk
" Langsung bawa kekamar saja" Satria mengagguk sebagai jawaban.
Satria menaiki tangga menuju kamar Ara. Sesampainya dikamar, Satria menidurkan Ara dikasur dengan hati-hati agar tidak membangunkan Ara.
" Dia berat juga!"
Satria melihat sekeliling kamar Ara. Dulu waktu mereka menikah, Satria tidak terlalu memperhatikannya. Satria membuka laci yang sedikit terbuka. Dia mengeluarkan sebuah frame foto Ara bersama Susan.
" Apa ini sahabatmu yang telah membuatmu menderita karen penghianatannya?" Satria berbicara sendiri
Ara terbangun, ia melihat Satria sedang memegang bingkai foto.
"Dia sedang memegang bingkai foto siapa?. Terakhir seingat ku tidak ada bingkai foto dilaci." Batin Ara
" Apa yang kau lihat" Satria terkejut, lansung melirik Ara
Ara merebut bingkai foto yang berada ditangan Satria. Ara mencoba berfikir keras siapa yang disamping Tiara. Ia merasa pernah bertemu dengannya.
" Siapa dia?.wajahnya begiti familiar" Batin Ara
Tak lama Ara membulakan matanya. Ia terkejut dan saking terjekutnya Ara sampai menjatuhkan bingkai foto itu. Namun gerakan satria yang cepat, menangkap bingkai foto itu sebelum sampai menyentuh lantai.
Ara terdiam, ia berfikir kapan ia pernah bertemu dengannya. Ara lalu teringat malam pesta Universary perusahaan rekan bisnis Papanya. Ia Ara ingat bertemu dengan gadis itu dipesta. Dua gadis yang menyapanya. Saat Ara duduk disofa menunggu Satria. Ara duduk dikursi meja riasnya. Pandangannya kosong kedepan. Sekelebat ingatan melintas dikepalanya.
" Argh.." Ara memegang kepalanya yang terasa sakit. Melihat itu Satria khawatir.
" Kamu tidak apa-apa" Dijawab gelengan oleh Ara.
Satria memapah Ara untuk duduk disofa yang berada dikamar itu. Lalu Satria mengambil air minum untuk Ara.
" Ini diminum dulu" Satria membantu Ara meminum airnya.
Setelah Ara minum. Stria meletakkan gelasnya diatas meja. Satria menghapus sisa air minum di ujung bibir Ara dengan jempolnya. Satria menatap Ara dengan pandangam yang sulit diartikan. Sejurus kemudian pandangan Satria tertuju pada bibir Ara yang berwarna merah muda. Ara melirik Satria yang tengah memandangnya. Pandangan mereka pun bertemu. Ara langsung memalingkan wajahnya. Tanpa diduga satria menangkup wajah Ara.
Deg...
Bunyi jantung Ara berdetak begitu kencang, begitu pula Satria. Satria mendekatkan wajahnya pada wajah Ara. Lalu Satria memiringkan wajahnya. Jarak wajah mereka sangat dekat. Hanya beberpa centi meter. Hembusan nafas Satria begitu terasa membuat tubuh Ara menegang. Bibir Satria hampir menyentuh bibir Ara dan...
Cklek...
__ADS_1
Pintu kamar Ara terbuka