Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
49


__ADS_3

Devina berlari dari lantai dua menuju lantai satu tempat dimana suaminya berada, sambil berderai air mata. Setelah mendapat kabar dari menantunya Satria.


" Pa...Pa...Papaaa" Teriak Devina saat menuruni tangga.


Bambang yang sedang berada didalam ruang kerjanya tidak mendengar teriakan sang Istri yang terus memanggilnya.


" Bibi, dimana Tuan?" Tanya nya pada pelayan


" Di ruang kerjanya Nyonya" Devina berlari keruang kerja Suaminya.


Brak...


Pintu terbuka dengan kasar. Bambang yang sedang memeriksa dokumen langsung menengok kearah suara. Ia melihat Istrinya berderai air mata langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Devina.


" Pa..." Panggil Devina yang masih berdiri di ambang pintu.


" Kenapa Ma?" Tanya Bambang


Ia menghapus air mata Istrinya, lalu memeluknya. Berharap Istrinya bisa tenang.


" Ara Pa.." Ucap Devina dengan suara serak khas orang menangis.


Bambang terkejut langsung melepaskan pelukannya. Ia menaruh tangannya dipundak Devina.


"Ada apa?. Ara kenapa Ma!" Ucap Bambang setengah teriak.


" Ara Ara dia.."


" Ia kenapa?. Cepetan jawab DEVINA!" Teriak Bambang pada Istrinya


"Ara Sadar Pa" Ucap Devina langsung memeluk Suaminya.


Bambang yang mendengar kabar bahagia itu langsung menangis sembari berpelukan dengan Istrinya.


Setelah mereka agak tenang. Pasangan Suami istri itu langaung bertolak ke Rumah Sakit tempat Ara dirawat. Tak lupa sebelumnya mereka menghubungi Putra mereka Bara. Namun Handphonenya tidak Aktif, akhirnya mereka pun mengirim pesan.

__ADS_1


Berbeda dengan Devina dan Bambang. Setelah mendapat kabar dari anaknya Satria. Lisa langsung mengajak Heru Suaminya untuk langsung ke Rumah Sakit tempat Ara dirawat.


Lisa dan Heru tiba lebih dulu di Rumah Sakit. Mereka cepat-cepat pergi ke ruangan yang ditempati Ara segera setelah turun dari mobil.


Cklek...


Lisa membuka pintu. Nampak Satria sedang duduk disamping Ara. Sedangkan Ara berbaring dengan posisi setengah duduk. Ara dan Satria sedang melihatnya.


" Ibu, Ayah" Ucap Satria dan Ara berbarengan.


Lisa dan Heru menghampiri Ara. Satria yang melihat orang tuanya datang langsung berdiri. Satria manyalami dan memeluk kedua orang tuanya. Setelah itu Lisa memeluk Ara sambil menangis.


" Sayang akhirnya kamu sadar Nak, Ibu sangat merindukan mu" Ucap lisa


Lisa lalu melepaskan pelukannya. Ia menciumi seluruh wajah Ara.


" Ibu geli" Ucap Ara


" Jadi kalau sama dia tidak geli" Ucap Lisa


" Maksud Ibu, Satria mencium aku kaya barusan Ibu mencium aku?. Kapan?" Batin Ara


" Sudah-sudah, kasihan Ara kebingungan" Ucap Heru melihat Ara yang bingung " Bagaiman kabar mu Nak, Apa ada yang sakit?." Tanya Heru


" Tidak ada Ayah, hanya masih sedikit pusing" Jawab Ara.


Didepan Rumah Sakit seorang wanita paruh baya turun dari mobil mewah. Dengan tergesah-gesah ia masuk disusul Suaminya.


" Ma tunggu!. " Ucap Bambang mencekal lengan Devina. " Jangan berjalan seperti itu nanti kamu terjatuh" Lanjutnya lagi.


" Pa, aku ingin cepat ketemu Ara" Ucapnya Sambil menangis


" Aku tahu, Ara akan sedih bila melihatmu kesakitan karena nya"


"Maaf" Ucap Devina

__ADS_1


Bambang lalu memeluk Devina dan menenangkannya.


" Ara tidak Apa-apa. Ia telah berhasil melewati masa sulitnya. Dia akan ada bersama kita sekarang. Jadi tenanglah, tersenyumlah saat kamu melihatnya" Devina mengagguk " Ayo" Ajak Bambang


Pasutri itu berjalan menuju ruang perawatan Ara.


Cklek...


Devina membuka pintu, dilihatnya Ara sedang berbincang bersama Mertua dan


Suaminya. Ara yang melihat Mamanya datang tersenyum manis. Dilihatnya Devina nampak kusut. Kulitnya sedikit pucat, ada lingkaran hitam dibawah matanya dan matanya yang bengkak. Ara yakin itu karena dirinya.


Devina menghambur memeluk Ara dengan erat. Ia mengusap-ngusap kepala Ara dan menangis


" Akhirnya kamu sadar Nak. Mama sangat bahagia bisa melihat senyum mu kembali" Ucap Devina


Kemudian Bambang memeluk Istri dan Anaknya secara bersamaan. Bambang mencium puncak kepala Ara. Setetes air matanya jatuh tak tertahan. Cepat-cepat ia menghapusnya. Namun Satria melihatnya.


Melihat adegan mengharukan ini Lisa memeluk Suaminya. Ia tak sanggup menahan air matanya, dan akhirnya menangis tanpa menimbulkan suara.


Satria, Bambang dan Heru duduk disofa sedangkan kedua wanita paruh baya itu duduk dusamping kiri dan kanan Ara. Devina memegang mangkuk berisi bubur yang baru saja petugas Rumah Sakit memberikannya untuk disantap Ara. Sedangkan Lisa memegang gelas dengan sedotan untuk memudahkan Ara minum.


Devina menyuapi Ara sembari bercerita tentang masa lalu kedua orang tua dan mertuanya. Ara nampak bahagia sesekali ia tersenyum lalu tertawa. Satria melihat itu sangat bahagia. Ia terus saja memandang Istrinya yang manis. Melihat itu Bambang dan Heru saling sikut.


" Lihatlah, Anak mu sepertinya telah jatuh hati pada putri ku" Ucap bambang


" Kau benar, Aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini. Terima kasih telah melahirkan putri yang bisa membuat anakku jatuh cinta." Ucap Heru


" Tidak kau salah, seharusnya yang berterima kasih itu adalah aku karena kau sudah melahirkan putra yang begitu sempurna untuk anakku.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras.


Brak...


Semua orang terkejut. Dan menoleh kearah sumber suara. Seorang laki-lak- berlari memeluk Ara.

__ADS_1


__ADS_2