
"Kalian jahat!. Kalian jahat!." Teriak Ara
Ara bangkit lalu memanjat tembok pembatas setinggi satu meter. Lalu ia berdiri dan melempar handphone miliknya.
Puk...
Handphone Ara mengenai tepat dikepala Haris. Haris meringis kesakitan.
" Sayang. Kamu gak apa-apa kan?" Ucap Susan sambil mengusap kepala Haris.
Lalu mereka berdua melihat keatas atap. Dan betapa terkejutnya Haris melihat Ara yang berdiri dipembatas atap gedung.
"A Ar Ra" Ucap Haris tergagap.
"Ar Ra" Ucap Susan yang pura-pura terkejut " Bangaimana ini?" Tanyanya pada Haris.
Belum sempat Haris menjawab Ara berteriak diatas atap lantai empat.
" BANGSAT LO DASAR PENGHIANAT!." Teriak Ara dari atas atap.
" ARGHHH... " Ara mengacak-ngacak rambutnya prustasi.
Ara menegadagkan kepalanya keatas lalu ia tertawa.
" Hahahahaha. Gue memang bodoh! Bodoh!" Rancau Ara
Ara berbalik dan hendak turun namun ia terpeleset dan terjatuh dari atas atap.
"Ahhhhhhh"
" ARAA!" Teriak Haris dan Susan dari bawah.
__ADS_1
Brugg
Ara terjatuh tepat didepan Haris dan Susan. Mereka mundur satu langkah, mereka terkejut. Susan yang ketakutan memegang tangan Haris dengan erat. Ada rasa bersalah menyelimuti hati mereka.
Kepala Ara terbentur batu. Darah mengalir deras dari kepalanya namun Ara masih sadar. Ara menatap sahabat dan mantan kekasihnya dengan linangan air mata. Dengan sekuat tenaga Ara mengulurkan tangannya meminta bantuan.
" Ara " Ucap Haris
Haris akan berjongkok dan menyambut tangan Ara namun Susan menghentikannya. Tangan Ara jatuh karena sudah tidak ada tenaga.
" Kamu mau ngapain" Ucap Susan, ia melirik kekanan dan kekiri lalu mengajak Haris untuk pergi.
" Ayo kita pergi" Ajak Susan
" Tapi bagaimana dengan Ara, dia terluka parah. Kita harus secepatnya membawa dia ke Rumah Sakit" Ucap Haris
" Ayo kita pergi mumpung gak ada yang lihat. Bagaimana jika dia mati!. Kita yang akan disalahkan. Aku tak mau masuk penjara" Rengek Susan
"Ayo" Susan menarik lengan Haris dan pergi meninggalkan Ara.
Ara yang masih sadar, menangis mendapat perlakuan seperti itu dari orang-orang yang ia sayangi.
" Kalian kejam. Gue benci kalian berdua!" Ucap Ara pelan lalu mata Ara terpejam
Flash Back Off
Mendengar cerita Ara, Devina langsung memeluk Ara sembari menangis. Begitu pula dengan Lisa yang juga menangis mendengar menantunya diperlakukan seperti itu. Lisa menggenngam erat tangan Ara.
Lain hal dengan para lelaki. Rahang mereka mengeras, tangannya mengepal menahan amarah. Bahkan Mata Satria memerah, kuku-kukunya memutih saking kuatnya ia mengepalkan tangannya.
" Papa berjanji padamu. Walau mereka tidak bisa dijerat dengan hukum, tapi Papa akan buat hidup mereka sengsara" Ucap Bambang penuh amarah.
__ADS_1
Ara melepaskan pelukan dan genggaman dari Mama dan Ibu mertuanya. Lalu beranjak dan berlutut didepan Papanya.
"Apa yang kamu lakukan Nak" Ucap Bambang terkejut.
"Papa. Ara tahu kalian marah. Tapi balas dendam bukan penyelesaian masalah Pa" Ucap Ara
" Apa maksudmu Nak, Apa kau akan membiarkan mereka begitu saja" Ucap Devina.
Ara menghela nafas panjang. Lalu ia duduk disamping Satria. Ara melirik Satria meminta dukungan. Satria yang mengerti menggenggam tangan Ara dan tersenyum padanya.
"Jika memang itu baik, dengarkan lah" Ucap Satria. Semuanya terdiam, Ara pun mulai berbicara.
"Ara tahu pasti Mama, Papa, Ibu, Ayah dan juga Satria. Pasti marah dengan perlakuan Susan dan Haris. Tapi apakah kalian berfikir ini semua salah mereka?. Tidak. Ara juga salah. Seandainya dulu Ara tidak terbawa emosi dan memanjat serta berdiri ditembok pembatas atap. Mungkin kita tidak akan berkumpul disini hari ini. Kita tidak akan bersama sekarang" Ara menundukan kepalanya
" Jika itu tidak terjadi, Aku tidak akan bersama kalian yang begitu menyayangiku dengan tulus dan mendapatkan kebahagian." Batin Ara
" Ara, sayang" Ucap Lisa, Ara mendongkrak menatap Lisa dan tersenyum.
" Kita ambil sisi baiknya. Jika kecelakaan itu tidak terjadi, kita tidak akan berkump disini hari ini. Ara tidak akan menikah dengan Satria. Ara tidak akan mendapatkan teman-teman baru yang menyenangkan. Ara tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Ibu dan Ayah." Ucap Ara. Lalu Ara menghela nafas panjang " Papa tidak akan bolos kerja hanya demi menunggh Ara" Ucap ara sendu.
" Nak" Ucap Bambang yang sedih mendengar kalimat terakhir Ara. Ia sadar bahwa ia terlalu sibuk dan jarang bersama anak-anaknya.
" Papa, balas dendam tidak akan membuat kita puas. Kita akan terus menyakiti orang yang telah menyakiti kita dan malah mengotori tangan kita dengan perbuatan kita. Kita hanya akan terjerumus dalam neraka yang kita buat sendiri. Jika kita melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan pada kita. Apa bedanya kita dengan mereka. " Jalas Ara dan semuanya terdiam
"Maaf bukan maksud Ara menggurui, tapi Ara hanya ingin hidup bahagia dengan kalian semua. Ara tidak perduli dengan masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu dan biarlah Tuhan yang membalas perbuatan mereka pada kita."
" Tapi bagaimana jika dia membuat ulah lagi dan membuat mu dalam bahaya" Ucal Heri.
" Ayah, kita tidak akan selamanya menghindari masalah. Masalah akan selalu ada seumur hidup Yah. Tidak hari ini atai mungkin esok hari masalah ini datang. Karena masalah yang datang pada kita itu adalah ujian dari Tuhan. " Ucap Ara panjang lebar
Devina yang mendengar penuturan Ara pun meneteskan air matanya. Lalu memeluk Ara.
__ADS_1
"Anak Mama sudah dewasa ternyata"