
Mereka berbondong-bondong mengikuti Satria, Ara dan Angel. Murid murid sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Angel. Setelah mereka sampai dikelas, Satria langsung memeriksa tas ranselnya. Saat Satria memeriksanya ia tersenyum pada Ara lalu mengubah ekspresinya menjadi datar pada Angel.
"Bagaiman apa ada yang hilang?" Tanya Angel penasaran karena melihat Satria yang santai
"Tidak!" Jawab Satria
"Ta tapi tadi beneran kok aku liat dia ngambil sesuatu" Ucap Angel
"CUKUP ANGEL!" Teriak Satria "Jangan pernah melakukan hal-hal seperti ini lagi" Lalu Satria pergi meninggalkan Angel.
"Tapi aku tidak bohong! SATRIA DENGARKAN AKU, AKU TIDAK BERBOHONG" Teriak Angel
Murid-murid yang melihat kejadian itu mencibir Angel dan memandang Angel dengan tatapan tidak suka.
"APA! Pergi kalian. PERGI!" Ucap Angel pada murid yang menonton drama tersebut.
Ara menghembuskan nafasnya kasar. Ia menepuk pundak Angel dan Angel langsung berbalik pada Ara.
" Semua gara-gara lo. " Tunjuk Angel pada Ara " Gue gak akan pernah maafin lo. Lo udah buat gue jelek dimata Satria!" Ucap Angel
Ara memijit pangkal hidungnya. "Lo tahu kenapa Satria tidak suka sama Lo?." Angel diam menatap Ara tajam "Karena lo ngerendahin diri lo serendah rendahnya dihadapan Satria" Ucap Ara
Angel diam mematung, ia mengepalkan tangannya kuat sampai buku jarinya memutih. Ia terkejut mendengarkan ucapan Ara. Tak pernah terfikirkan akan hal itu. Tapi obsesinya terhadap Satria mengalahkan segalanya.
Ara melihat Angel merasa kasihan. Tapi ia harap Angel sadar sehingga bisa melupakan Satria. Ara pun pergi meninggalkan Angel yang masih diam mematung. Ia berencana menyusul Satria.
__ADS_1
Sepeninggal Ara Angel berteriak histeris
" Arghhhh Sialan kalian. Agrh gue benci lo!. Gue benci!" Teriak Angel " Gue pastiin lo bakalan jadi milik gue bagaimanapun caranya. Hahahaha" Lalu Angel pergi dari kelas Satria.
Murid-murid yang melihat tingkah Angel bergidik ngeri. Mereka menganggapnya gila karena sudah ditolak dan dipermalukan oleh Satria.
Diatap Satria sedang duduk dilantai dengan posisi satu kaki diluruskan dan satu lagi ditekuk. Ia bersandar pada dinding pembatas sambil memejamkan mata mendengarkan alunan musik dari handphonenya. Ara datang dengan membawa bekal makanan yang baru ia makan sedikit untuk dimakan bersama Satria. Karena Satria juga sama seperti Ara baru memakan sedikit makanannya. Ara duduk disamping Satria lalu melepaskan headset yang terpasang ditelinga Satria. Satria terkejut, seketika ia membuka mata dan menoleh pada orang yang mencabut headsetnya. Satria bernapas lega karena ternyata itu adalah Ara, ia pun tersenyum dan Ara membalas senyumannya.
"Kamu tahu aku disini dari siapa?" Tanya Satria
"Ya dari siapalagi coba" Jawab Ara
Satria pun tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Ara. Sejurus kemudian ia melihat bekal makan Ara yang ia bawa.
Ara tersenyum bahagia melihat Satria tertawa. Lalu Ara teringat bahwa ia akan makan bersama Satria.
"Ayo kita makan" Ara membuka kotak makannya " Masih lapar kan?" Tananya
Satria tersenyum, Sungguh bersama dengan Ara ia menjadi mudah tersenyum bahkan hanya dengan memikirkannya saja Satria selalu tersenyum. Apa ini rasanya jatuh cinta, fikir Satria.
" Kamu makan saja, Aku tidak lapar" Jawabnya dan itu membuat Ara cemberut
" Pokoknya kamu harus makan dengan ku!. Kalau tidak mau aku juga tidak akan makan" Kekehnya
Satria menghembuskan nafasnya kasar lalu ia mengabil bekal makan Ara dan menyuapi Ara yang sedang cemberut
__ADS_1
"Aaa, buka mulutnya" Ara menggeleng " Aku janji akan makan" Ucap Satria
Ara tersenyum lalu membuka mulutnya menerima suapan Satria. Ara lalu mengambil sendoknya dan menyuapi Satria dan begitu seterusnya sampai makanannya habis. Satria membuka Air mineral yang Ara bawa dan menyodorkan air mineral itu pada Ara lalu Ara meminumnya. Setelah itu Ara memberikan air yang tinggal setengahnya pada Satria. Setetelah selesai, mereka membereskan tempat makannya.
Satria menyadarkan kepalanya ke bahu Ara dan itu membuat Ara terdiam namun sejurus kemudian ia mengusap-ngusap kepala Satria.
"Apa karena masalah tadi?" Satria menggeleng
Satria masih bersandar ia menatap Ara dan mereka saling menatap. Tatapan Satria beralih pada bibir Ara yang ranum, sedikit basah menggoda iman Satria untuk segera menikmatinya. Ara memalingkan wajahnya yang terasa panas walau hanya ditatap oleh Satria. Satria mengagkat tangannya membelai wajah Ara dan menariknya menghadap Satria. Lalu Satria memegang tengkuk Ara dan mengikis jarak diantara mereka. Sehingga hembusan nafas Ara terasa oleh Satria. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Cup...
Satria mencium sekilas bibir Ara. Ara terkejut ia hanya diam dan tubuhnya menegang, jantungnya berpacu dengan cepat. Satria pun merasakan hal yang sama. Satria mengangakat kepalanya dari bahu Ara dan memandang lurus kedepan.
Ara yang melihat itu merasa bersalah, karena selama ini ia tidak pernah membalas ciuman Satria. Lalu Ara memberanikan diri menangkup wajah Satria. Menepelkan bibirnya dan memejamkam matanya lalu ia **********. Satria terkejut namun sedetik kemudian ia memejamkan matanya dan membalas ciuman Ara. Satria melepaskan tangan Ara dan menaruhnya dilehenya. Ia berbalik menghadap Ara, tangannya memegang tengkuk dan satu tangan lagi melingkar dipinggang Ara. Satria melakukan itu tanpa melepaskan pungutannya. Ciuman panas pun terjadi, mereka saling *******, menyesap sampai Ara kehabisan nafas dan mendorong Satria.
"Hah. Hah. Hah" Bunyi nafas mereka terengah-engah.
Satria mengelap Air liur yang berada dibibir Ara dengan jarinya. menempelkan keningnya pada kening Ara. Ara memejamkan matanya, ia tidak berani melihat Satria. Satria tersenyum lalu ia menempelkan bibirnya pada bibir Ara dan memejamkan matanya. Satria kembali ******* bibir Ara dan Ara membalasnya. Mereka saling *******, decapan demi decapan terdengar dari bibir mereka. Satria menggigit bibir Ara sehingga Ara membuka mulutnya dan Satria mulai memasukan lidahnya menjelajahi mulut Ara. Satria merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia memperdalam pungutannya, Satria menarik tubuh Ara. Sampai tubuh mereka menepel dan itu membuat Satria dan Ara lebih bergairah. Ia tidak ingin mengakhirinya dan ingin terus menikmati bibir Ara yang ranum. Bunyi handphone Ara dan Satria yang saling bersautan pun mereka abaikan. Sampai suara yang tidak asing ditelinga mereka membuat kegiatan panas mereka terhenti.
"Oh My Good!!." Ucap Dion setengah berteriak dan Alvin yang melihat itu tercengang.
Mendengar suara Dion, Satria melepaskan pungutannya. Ara tertunduk malu karena ketahuan berciuman dengan Satria. Ara merasakan mukanya panas, ia menutup wajahnya dengan tangan lalu berlari meninggalkan Satria. Setelah Ara pergi Satria berdiri ia menatap tajam kedua sahabatnya yang datang diwaktu yang tidak tepat.
Maaf episode 58 ini terus ditolak...jadi saya harap readers maklum
__ADS_1