Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
100


__ADS_3

Dikafe tepatnya diruang kerjanya Satria, Dion dan Alvin menunggu si tuan rumah yang belum menampakkan batang hidungnya.


"Kok Satria belum datang sih. Dari rumahnya ke mari paling sekitar tiga puluh menit juga sampai kalau gak macet. Lah ini dah ampir sejam belum nongol juga tuh anak!" Dion mengomel karena Satria belum datang.


"Tadi sih kayanya langsung OTW. Gak tau lah dia kemana dulu!" Jawab Alvin


"Ach paling lagi manja manja sama istrinya" Ucap Dion


"Siapa yang lagi manja manja sama istrinya!" Ucap Satria tiba-tiba dengan nada tidak bersahabat.


Mendengar suara Satria, Alvin dan Dion pun menoleh. Kemudian tersenyum kaku.


"Eh lo dah datang Sat" Ucap Dion sembari cengengesan


"Jadi Lo kira yang ada didepan lo siapa?"


"Ya lo lah Sat, emangnya siapa?"


Satria memutar bola matanya malas mendengar jawaban Dion. Kemudian ia duduk di sofa bersama kedua sahabatnya.


"Jadi siapa yang menyebarkan berita kehamilan Ara?" Tanya Satria to the poin.


"Dia anak kelas XI IPA 2. Dia salah satu penggemar berat lo. Namanya Margaretha Sudirjo, keturunan keluarga bangsawan jawa" Ucap Dion


"Gue gak kenal" Ucap Satria datar


"Ach lo anak cewek sekelas kita aja gak tahu semua. Apalagi Adel tingkat" Dion mencibir


"Hahahaha. Lo bener" Timpal Alvin


"Jadi apa yang mau Lo lakuin buat anak ini" Tanya Dion


"Dia posting apa?"


Dion yang sedang minum langsung tersedak " Uhukk Uhukk. "


"Lo gak baca?" Tanya Alvin kaget


"Belum, gue belum sempat" Mendengar jawaban Satria Alvin dan Dion hanya menggelengkan kepalanya.


Alvin membuka handphone miliknya dan menyodorkan pada Satria


"Nih lo baca sendiri" Ucap Alvin


Satria mengambil handphone milik Alvin dan membaca apa yang tertera dilayar.


Tiara kekasih Yang begitu dipuja-puja oleh Satria hamil. Ternyata dia tidak lebih dari seorang ****** yang menggoda Satria dengan merangkak keatas ranjang Satria. Sayang sekali seorang yang sempurna seperti Satria harus terjerumus pergaulan bebas gara-gara j*lang yang bernama Tiara.


Satria mengepalkan tangannya menahan amarah. Siapa juga yang tidak marah jika orang yang kita sayangi di fitnah sebegitu kejam. Lalu Satria melihat komentar-komentar yang begitu menusuk hatinya. Rasanya ingin sekali ia patahkan jari-jari orang yang telah menulis komentar jahat pada Ara.

__ADS_1


Pantesan Satria begitu lengket dengan murid baru itu, ternyata sudah dikasih yang enak-enak.


Owh jadi kemarin dia pingsan itu karena lagi bunting!. Sungguh disayangkan cantik-cantik tapi j*lang.


Keliatan dari wajahnya juga. Cewek gak bener dia.


Gak nyangka yah, muka polos gitu


Polos dari mana, dia printer aja aktingnya


Sayang banget ya Satria itu kan murid berprestasi


Hei Tiara!. Lo dibayar berapa sih sama Satria. Gue bayar dua kali lipat deh. Gue juga pengen ngerasain, sampai Satria gak bisa jauh dari lo. Hahahaha


Muka Satria merah, amarahnya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Satria mengangkat tangannya dan hendak melemparkan handphone yang berada digenggamnya namun dihentikan oleh Alvin.


"Woi itu handphone gue." Teriak Alvin lalu merebut handphone yang berada digenggaman Satria " Lo mah maen lempar-lemparan aja" Alvin mengusap-usap Handphone miliknya.


"SIALAN!." Teriak Satria


Alvin dan Dion kaget melihat amarah Satria yang meledak. Dulu saat difitnah oleh Angel, Satria masih bisa tenang. Dan Sekarang mereka terkejut karena belum pernah melihat Satria semarah ini. Mungkin karena menyangkut orang yang paling dia cintai. Fikir Dion dan Alvin.


"Mereka membangunkan harimau yang sedang tidur " Batin Alvin dan Dion


Wajah Satria menggelap. Sorot matanya tajam, menusuk siapapun yang melihatnya. Bahkan Alvin dan Dion bergidik ngeri melihatnya.


"O-ok ok kita akan mencarinya" Ucap Dion tergagap


Alvin menghembuskan nafasnya kasar lalu menepuk pundak Satria.


"Gue tahu lo marah. Bahkan gue yang bukan siapa-siapa Ara juga emosi. Tapi lo harus berfikir dengan kepala dingin kalau mau eksekusi. Jangan sampai lo malah terkena masalah yang akan membuat Ara menderita" Ucap Alvin menasehati Satria


"Gue tahu. Gue gak akan melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Tapi gue bakalan buat mereka menderita dari pada dipenjara!"


Mendengar jawaban Satria, Dion dan Alvin menjadi sedikit tentang.


Satria mencoba untuk tenang dan mengatur emosi nya. Ia menyandarkan kepalanya di sofa kemudian memejamkan mata dan mengatur nafas. Tak lama Satria melihat jam di pergelangan tangannya lalu tersenyum


"Sahabat kita baik-baik saja kan? Tadi marah sekarang senyum-senyum gak jelas" Tanya Dion pada Alvin


"Gue denger dan gue gak gila!" Lalu menatap kedua sahabatnya


Dion cengengesan ditatap oleh Satria " Terus lo kenapa senyum gitu. Gue kan jadi ngeri liat nya" Ucap Dion


Bukannya menjawab Satria malah mengajukan pertanyaan yang membuat kedua sahabatnya melongo tidak percaya.


"Kalian tahu gak Dimana biasanya mang-mang tukang tahu gejrot mangkal?"


"Hah" Ucap Dion dan Alvin bersamaan. mereka pun saling pandang sejurus kemudian mereka menggeleng.

__ADS_1


"Huft" Satria mendesah " Dimana coba nyarinya" Gumma Satria pelan namun masih bisa didengar oleh kedua sahabatnya.


"Ara minta tahu gejrot?" Tanya Alvin dan Satria mengagguk lemah sebagai jawaban


Flash Back On


"Ra aku mau ketemu Dion dan Alvin dikafe sebentar" Ucap Satria


"Ngapain sih ke kafe?" Ara menekuk wajahnya


Tangan Satria terangkat mengelus pipi Ara. " Sebentar, ada sedikit masalah dikafe" Satria memberikan alasan yang logis menurutnya


Satria menatap satu persatu wajah orang tua dan mertuanya meminta bantuan. Karena sebenarnya semua orang sudah tahu masalah yang menimpa Ara. Hanya Ara saja yang belum tahu.


Devina menghampiri Ara " Sayang, jangan ditekuk gitu doank mukanya. Satria itu mau kerja, buat nafkahi kamu dan anak yang ada didalam perut mu. Jadi biarkan saja Satria pergi. dan jangan memasang wajah seperti ini" Devina mencolek dagu Ara " Nanti suami mu tidak tenang pergi nya" Tutur Devina


"Iya Mama mu benar" Ucap Bambang dan diangguki Heru


"Tapi Ara gak mau ditinggal Ma, Pa" Ucap Ara manja


"Satria cuma pergi kerja bukan ninggalin kamu sayang" Ucap Devina


Lisa menghampiri Ara dan menyuruh Satria untuk pindah sehingga ia bisa duduk disamping Ara. Lisa memegang tangan Ara.


" Satria gak bakalan macem-macem. Percaya sama Ibu. Kalau dia macem-macem Ibu yang akan berada digaris terdepan untuk membela menantu kesayangan Ibu." Ucap Lisa sembari tersenyum


Ara tersenyum mendengar penuturan mertuanya. Sungguh ia sangat bahagia dicintai sebegitu besar oleh Kedua orang tua dan kedua mertuanya. Ara menatap Satria kemudian tersenyum. Senyum yang membuat Satria merasakan firasat buruk.


" Baiklah, tapi pulangnya bawa tahu gejrot ya" Ucap Ara dengan mata berbinar menatap Satria


"Tuh kan. Gak bakalan semulus yang dibayangkan. Apa itu tahu gejrot?" Batin Satria


"Sepertinya enak ya. Asam manis pedas" Ucap Ara membayangkan memakan tahu gejrot


"Apa itu tahu gejrot?" Tanya Satria


"Iya Nak, makanan apa itu?" Tanya Lisa dan diangguki Devina dan yang lainnya


"Itu loh, tahu yang digoreng terus dibumbui. Bumbunya kaya bumbu rujak gitu" Ara menjelaskan


"Emang ada?" Tanya Satria yang asing dengan nama makanan yang satu ini


"Ada!. Pokoknya cari sampai dapat" Ucap Ara penuh tekanan


Satria menghela nafas " Baiklah nanti aku cari, sekarang aku pergi dulu udah telat" Ucap Satria


Satria pun berpamitan pada orang tuanya dan mertuanya. Lalu terakhir ia berpamitan pada istrinya. Tak lupa mencium kening Ara dan mengusap perut Ara


Flas Back Off

__ADS_1


__ADS_2