Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
75


__ADS_3

Dibelakang sekolah, Satria, Alvin dan Dion duduk dibangku dibawah pohon. Suasana yang sepi membuat mereka memilih tempat itu untuk berbicara hal yang serius.


"Lo udah dapet apa yang gue mau?" Tanya Satria pada Dion


"Gue dapet rekaman CCTV nya tapi" Dion menjeda ucapannya melihat kearah kedua sahabatnya


"Apa!. Lo jangan bikin kita penasaran" Ucap Alvin kesal


"Ehm yang gue dapet rekaman CCTV hari itu hanya saja tidak ada yang spesial."


Satria mengerutkan keningnya "Maksudnya" Tanya Satria


"Maksud gue gak ada yang wow gitu, ya cuma rekaman biasa aja. Sama lo yang masuk toilet trus disusul Angel dan trus lo keluar. Gak lama Renaldi datang" Satria langsung menatap Dion


"Dia datang?"


"Iya dia datang jemput Angel depan toilet dan Angel berhabur memeluk Renaldi sambil menangis dan mereka pergi"


"Gitu doank" Ucap Alvin


"Apa lo bilang?. Gitu doank" Marah Dion menatap tajam Alvin


"Udah" Satria menengahi "Sekarang kita harus terus menyelidiki apa yang mereka lakukan setelah pergi dari toilet. Lo" Tunjuknya pada Dion " Cari rekaman CCTV disetiap langkah mereka kemarin malam. Dan lo "Tunjuknya pada Alvin " Gerakin anak buah lo buat ngawasin merek berdua. Cari informasi selengkap lengkapnya kegiatan mereka dari sebelum kita kumpul dikaroke!" Ucap Satria panjang lebar.


"Ok" Jawab Alvin dan Dion


Satria berdiri dari duduknya, tangannya masuk kedalam saku celana.


"Lo mau kemana?" Tanya Alvin


"Gue mau liat Ara. Dari tadi dia aneh"


"Ya ela" Cibir Dion


"Eh Sat tunggu sebentar" Cengah Alvin


"Apa?"


"Itu. Kalian gak masalah apa berangkat berdua gitu. Tadi pagi aja sampe seheboh itu" Ucap Alvin khawatir


" Bener tuh" Timpal Dion


Satria menghela nafas. Ia memang sedikit khawatir sebenarnya. Banyak sekali yang mencibir dan menghina Ara karena dekat dengannya. Apalagi dengan terang-terangan mereka mengatakan hal-hal buruk didepan Ara.


"Kita lihat saja nanti" Ucap Satria lalu meninggalkan kedua sahabatnya.


"Tunggu gue ikut lah" Teriak Dion lalu menyusul Satria begitu pula Alvin.


...****************...


Dikantin, Ara sedang menikmati baksonya dengan level ekstra pedas. Entah kenapa dia bengitu mengiginkan makanan pedas. Mungkin bawaan hormon. Tanpa perduli dengan para murid yang sedang bergunjing tentangnya.


"Mulut mereka gak disekolahin kali ya" Ucap Alia yang ikut kesal mendengar sahabatnya dijelek-jelekan tanpa mengetahui faktanya.


"Biarin aja lah. Entar juga capek sendiri." Ucap Ara cuek


"Kamu kok bisa setenang itu Ra. Aku dengernya aja udah panas banget" Ucap Alia sembari menusuk kasar siomay punyanya.

__ADS_1


"Kasihan makanannya kamu siksa kaya gitu. Mending dimakan."Alia menghela nafas dan memakan makanannya "Biarkan saja mereka mau bilang apa, aku gak perduli. Mereka tidak tahu apapun. Lagipula aku tidak seperti yang mereka katakan. "


"Iya bu Ustadzah" Ucap Alia menyindir


"Aamiin" Ucap Ara lalu mereka tertawa dan membuat para murid yang berada dikantin mencibir Ara dan Alia


Setelah makanan mereka habis. Ara dan Alia segera beranjak dari tempat duduknya. Ditengah-tengah perjalanan menuju kelas Alia ingin ke toilet.


"Ra ketoilet dulu ya. Kebelet nih" Ucap Alia tidak tahan lalu menyambar tangan Ara dan berlari ketoilet. Untung Saja dikoridor sedang sepi, jadi tidak masalah saat mereka berlari. Ara dan Alia masuk kedalam toilet perempuan. Ara menunggu didalam, sedangkan Alia masuk ke salah satu bilik toilet yang berjejer.


Brak


Pintu dibuka dengan kasar. Ara terlonjak kaget mendengarnya, masuklah empat orang siswi lalu mereka mengunci pintu.


"Wo wo wo. Disini rupanya pelakor yang tidak tahu malu itu. Hahahahaha"


"Bersembunyi kali dia" Tunjuknya pada Ara.


Ara diam memainkan gawainya. Tidak memperdulikan keempat siswa itu. Sedangkan Alia didalam sudah ketakutan.


"Hei lo budeg ya" Teriak Caca


"Lo ngomong sama gue" Tunjuk Ara pada dirinya sendiri.


"Lah dasar bego lo. Emang gue ngomong sama siapa lagi" Ucap Yang bernametag Dwi Cahyani


"Wah nyari mati ini anak. Hajar aja Wie " Ucap Tika mempropokasi


"Iya bener hajar aja. Biar tahu rasa dia!" Ucap Rani menimpali.


"Sorry kalian kenal ma gue. Gue gak kenal tuh. Gue ngerasa gak punya urusan sama lo berempat" Ucap Ara santai


"Wah songong lo" Ucap Caca


"Iya mentang-mentang deket sama Satria" Ucap Rani


"Emang gue deket sama Satria. Trus kalian mau apa!" Tantang Ara


"Heh anak baru!. Lebih baik lo jauhin Satria. Dia gak pantes buat lo!" Ucap Dwi


"Trus dia pantesnya sama lo gitu!. Mimpi!" Ucap Ara


"Jangan sok kecantikan deh lo"


"Emang gue cantik. Cantikan gue malah kemana-mana dari pada lo berempat!"


"Sialan!" Ucap Dwi


Dwi mendekati Ara dan mencengkram kerahnya.


"Gue peringatin lo sekali lagi!. Jauhin Satria!. Ngerti gak lo" Ucap Dwi


"Emang kalau gue ngejauhin Satria. Lo bakal dapetin perhatiannya gitu!. Gak bakalan, Mimpi aja sana!"


"Dasar Jalang" Tangan Dwi terangkat, akan memukul Ara namun tangannya hanya melayang diudara. Tangan Dwi dicekal oleh Ara. Ia mencengkram tangan Dwi dengan sekuat tenaga.


"Lo Salah milih lawan. Gue cewek yang gak bisa lo tindas dengan seenak jidat lo" Ucap Ara

__ADS_1


Ia menghempaskan tangan Dwi dan mendorongnya dengan kuat sampai terjungkal dan terjatuh dengan posisi duduk.


"Aww, ish. Sialan lo jalang" Teriak Dwi


Alia yang berada dibilik toilet semakin ketakutan. Ia tadi sudah menghubungi Dion untuk menyelamatkan mereka.


Ara jongkok didepan Dwi. Ia meraih rambut Dwi dan menariknya sampai kepala Dwi tertarik kebelakang. Sampai Dwi meringis kesakitan. Sedangkan ketiga temannya diam mematung


"Jangan pernah lo ganggu gue kaya gini lagi. Atau lo akan tahu akibatnya" Ucap Ara mengancam.


"Lo yang bakalan habis hari ini sama gue"


Rani dan Caca memegang kedua lengan Ara dan membuat Ara berdiri. Dwi yang melihat itu langsung berdiri dan mendekati Ara


"Lo bisa apa sekarang HAH!". Ara tersenyum mengejek


"Heh malah senyum lagi" Ucap Tika


Dwi mau menampar Ara namun sebelum tangan Dwi mendarat dipipi mulus Ara. Ara lebih dulu menendang perut Dwi sekuat tenaga hingga terjungkir


"Ahhh. Sakit" Rintih Dwi sembari memegang perutnya


"Awas lo" Ucap Tika lalu menghampiri Ara dan memukul Ara namun Ara cepat menghindar sehingga bogem mentah Tika malah mengenai Caca.


"Aww muka gue" Rintih Caca kesakitan


Sebelah tangan Ara yang bebas menarik Rambut Tika sekuat tenaga lalu mendorong bahunya sampai terjungkir.


Ara menatap tajam Rina yang masih memegang tangannya. Sehingga Rina ketakutan dan melepaskan tangannya dan melangkah mundur. Ara menepuk-nepuk seragamnya yang tidak kotor. Ia berjalan menghampiri bilik yang dimasuki Alia


Tok..


Tok...


Tok...


"Ayo keluar Al, sebentar lagi bel" Teriak Ara


Cklek...


Alia keluar, ia melihat Dwi, Caca, dan Tika yang melantai. Tanpa banyak bicara ia mengikuti Ara yang melangkah keluar dari toilet.


Ara membuka pintu bertepatan dengan Satria yang membuka pintu dari luar. Pandangan mereka bertemu.


"Kamu gak apa-apa" Tanya Satria sembari membolak balikan Badan Ara


"Gak" Jawab Ara


"Lo salah kalau tanya keadaan Ara. Noh seharusnya lo tanya mereka" Tunjuk Dion pada keempat gadis yang berada didalam toilet


Satria melirik keempat gadis yang membully Ara. Ia hanya melirik tanpa perduli. Lalu ia mengenggam tangan Ara dan pergi dari sana diikuti Alia dan Alvin dibelakangnya.


Dion menghampiri keempat gadis yang keadaannya berantakan.


"Jangan pernah kalian mengusik orang-orang kami. Termasuk Alia, Atau kalian akan tahu apa yang akan terjadi" Dion tersenyum smirk lalu pergi meninggalkan keempat gadis itu.


"Sadisnya macan betina milik Satria" Dion bergidik ngeri

__ADS_1


__ADS_2