Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
43


__ADS_3

Dalam perjalanan ke supermarket Ara dan Satria saling diam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Sesampainya di supermarket Ara turun lebih dulu lalu masuk kedalam supermarket sendiri.


" Apa dia marah?" Gumma Satria sembari memandangi Ara.


Satria turun menyusul Ara. Didalam supermarket Satria celingak celinguk mencari Ara. Akhirnya Satria memutuskan untuk berkeliling mencari Ara. Setelah berkeliling, Satria menemukan Ara sedang memilih barang khusus wanita. Satria diam ditempat, tanpa menghampirinya. Setelah Ara selesai, Satria menyusul Ara. Ara mengambil beberapa kebutuhan dirinya dan Satria yang sudah mau habis. Bumbu dapur, sabun dan bahan makanan untuk beberapa hari kedepan.


" Ada yang kamu butuhkan lagi?" Tanya Ara pada Satria tanpa menoleh padanya.


" Tidak ada"


Ara mendorong troli menuju kasir. Sedangkan Satria jangan ditanya, dia selalu berada dibelakang Ara. Setelah selesai membayar belanjaannya Ara menghampiri Satria dengan menenteng dua kantong belanjaan.


" Jangan main HP mulu, nih bawa!" Ara melenggang pergi meninggalkan Satria dan belanjaannya.


" Aku kira dia marah, ternyata malu" Satria mengambil belanjaan dan setengah berlari mengejar Ara yang sudah sampai parkiran.


Satria langsung membuka kunci mobil supaya Ara bisa langsung masuk. Sedangkan Satria menyimpan belanjan dibagasi mobil.


" Mau makan dimana?"


" Nasi goreng yang dijual pinggir jalan itu kaya nya enak" Kata Ara berbinar


" Yakin?" Ara mengagguk mantap


Satria menepikan mobilnya di warung nasi goreng pinggir jalan. Lalu mereka keluar bersamaan.


" Mang nasi goreng nya dua porsi ya, satu pedas yang satu lagi tidak" Ucap Ara


" Iya Neng" Jawab tukang nasi goreng


Ara duduk dikursi yang disediakan bersama Satria. Satria menatap Ara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


" Apa aku melewatkan sesuatu, kenapa dia sepertinya terbiasa makan pinggir jalan" Batin Satria


" Kamu sering makan pinggir jalan?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Satria


" Iya" Jawabnya tanpa sadar


Satria terus menatap Ara sampai suara penjual nasi goreng mengalihkan perhatiannya


" Ini nasi gorengnya. Satu pedas dan yang satu tidak" Ucap penjual nasi goreng


" Terima kasih mang" Ucap Ara,


Penjual nasi goreng itu mengagguk lalu pergi. Satria memandang nasi goreng didepannya. Lalu ia melirik Ara yang memakan nasi goreng pedasnya dengan lahap.

__ADS_1


" Apa segitu enaknya?" Ara menganguk.


"Ini enak, coba lah" Ara menyuapi Satria


Satria menerima suapan dari Ara. Satria terkejut ternyata nasi gorengnya enak sama dengan nasi goreng buatan Ara.


" Ini enak, sama seperti buatan mu" Tanpa sadar Satria memuji masakan Ara.


" Ya jelas enak lah, orang aku belajar dari ahlinya. Eh tunggu dia memuji ku?" Batin Ara. Lalu Ara melirik Satria


"Jadi masakan ku enak, kenapa tidak pernah bilang" Ara mencebikkan bibirnya


" Bukankah Aku selalu menghabiskan makanan yang kau masak. Kalau tidak enak aku tidak akan menghabiskannya" Ucap Satria datar


" Dasar Pangeran Es. Pantas kamu dijuluki seperti itu!" Batin Ara


Mereka melanjutkan makannya sampai habis.


" Alhamdulillah kenyang nya" Ucap Ara mengusap perutnya. "Aku tunggu dimobil ya"


Ara masuk kedalam mobil. Satria menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ara seperti mempunyai dua sifat yang berbeda. Saat Satria membayar makanannya, tepukan dipundaknya membuat dia menoleh.


" Susan. Sedang apa dia disini?. Apa dia melihat Ara juga?" Batin Satria


Satria melirik kearah mobilnya. Satria bernafas lega karena kemungkinan Susan tidak melihat Ara bersamanya.


" Ternyata kamu merakyat juga yah" Senyum manja Susan tampilkan untuk Satria.


Dari dalam mobil Ara memperhatikan Satria dan Susan. Ara tersenyum mengejek melihat Satria mengabaikan Susan.


" Dia kira akan mudah mendapatkan Satria, tidak akan!" Ucap Ara pelan


Ara meraih masker dan topi dan memakainya. Ara menggerai rambutnya lalu ia melihat wajahnya dicermin.


" Dia tidak akan mengenaliku kan?"


Satria menerima uang kembalian dari penjual nasi goreng. Satria berbalik menuju mobilnya namun tangan Satria dicekal oleh Susan.


"Satria tunggu aku mohon" Ucap Susan menahan Satria untuk pergi


Susan memasang wajah memelasnya namun Satria malah menatap tajam Susan. Satria hendak melepaskan tangannya namun seseorang melepaskannya dengan kasar.


" Jangan pernah menyentuhnya!. Hanya aku yang bisa, dia milik ku!. Camkan itu!"


Ara bergelayut manja dilengan Satria dan Satria mengusap lengan Ara lembut. "Dasar PELAKOR" Ucap Ara penuh penekanan

__ADS_1


Susan menggeram kesal dijuluki Pelakor oleh Ara.


" Lo!!" Susan menunjuk Ara dengan jarinya " Jangan sembarangan bicara. Karena gue bukan pelakor!"


" Kalau lo bukan pelakor, ngapain dekat-dekat cowok gue!"


Satria tersenyum tipis melihat tingkah Ara


" Apa dia cemburu?" Batin Satria


Susan terdiam melihat Ara dari atas sampai bawah. Dan berusaha mengenali wajah Ara yang tertutup masker juga topi.


" Siapa dia kenapa suaranya begitu tidak asing?" Batin Susan


" Cih. malah diem" Ara melirik Satria " Ayo sayang kita pulang, aku ngantuk" Ucap Ara manja


" Ayo" Satria mencium kepala Ara lalu mereka berbalik pergi meninggalkan Susan


" Hei tunggu!. Lo siapa?" Teriak Susan


Ara dan Satria tidak menggubris teriakan Susan. Mereka masuk kedalam mobil dan pergi.


Dalam perjalanan pulang, Ara diam tidak berbicara. Ingatannya menerawang, mengingat kembali kejadian yang membuatnya berpindah tubuh. Satria sesekali melirik Ara. Ia bingung apa yang harus melakukan apa. Satria tidak berpengalaman menghadapi perempuan selain Ibunya.


Sesampainya di apartemen. Tidak seperti biasanya Ara langsung masuk kedalam kamar tanpa membereskan barang belanjaannya. Satria membereskan barang belanjaan yang tadi mereka beli. Memasukan bahan makanan segar dikulkas dan yang lainnya dilemari penyimpanan. Membawa sisanya kekamar, termasuk barang untuk tamu bulanan Ara.


Satria masuk kamar, dilihatnya Ara sedang berbaring dengan posisi telungkup dengan bantal menutupi kepalanya. Satria melangkah menuju sofa yang berada dikamar. Baru saja ia duduk, Ara langsung merubah posisinya menjadi duduk. Tangannya disilangkan didada. Ara menatap tajam Satria.


" Kenapa?." Tanya Satria bingung mendapat tatapan dari Ara


" Bisa tidak kamu jangan berurusan dengan cewek cewek ganjen kaya Susan dan Angel!." Ucap Ara dengan nada yang tidak bersahabat


Satria tersenyum mendengar Ara. Berarti dugaannya benar Ara cemburu


" Ih malah senyum lagi!. Jawab!."


" Kamu cemburu?" Tanya Satria


" Eh ditanya malah balik nanya!" Batin Ara " Tidak!" Jawab Ara. Ada rasa kecewa dihati Satria saat mendengarnya.


" Lalu kenapa kamu marah?" Tanya Satria


" Aku tidak marah tapi kesal!"


" Bukannya itu sama saja" Batin Satria

__ADS_1


" Walaupun aku belum mencintaimu tapi aku tidak suka milikku diganggu oleh orang lain. Apalagi sampai merebutnya dariku. Aku tidak akan membiarkan orang lain merebut apa yang menjadi milikku!" Tegas Ara


Ara beranjak dari duduknya dan keluar kamar meninggalkan Satria yang masih diam mendengarkan kata-kata Ara.


__ADS_2