Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
44


__ADS_3

Dengan malas Ara melangkah menuju kelasnya. Dari jauh Alia melihat Ara lalu mengejarnya. Alia bergelayut dilengan Ara. Ara langsung menepisnya.


" Hei!. Kenapa pagi-pagi lemes gitu?" Tanya Alia


" Lagi BT aja!. " Belum juga Alia membuka mulutnya, Ara langsung membungkamnya" Jangan tanya apapun!"


" Ih PD banget!. Siapa juga yang bakalan nanya suasana hati mu yang galau. Aku itu mau tanya kamu udah dapet ijin belum buat maen ke pantai bareng aku?"


Ara langsung menepuk dahinya. Ia benar-benar tidak ingat bahwa Alia mengajaknya kepantai besok dan dia belum bicara dengan satria.


" Duh maaf maaf ya. Aku benar-benar lupa"


" Aish. Dasar kamu tuh pelupa berat!"


" Maaf ya. Aku chat sekarang ya. Jangan ngambek gitu donk. Jelek mukanya." Pinta Ara memelas


" Awas lo kalau bohong"


" Gak beneran. Nih aku chat sekarang, tunggu ya"


Ara mengeluarkan HP nya dan mengirim chat pada Satria.


" Besok aku mau pergi kepantai bersama Alia boleh gak?"


" Noh udah di chat orangnya, tapi belum dibalas."


Ara menyodorkan HPnya pada Alia. Alia pun melihatnya sekilas pesan yang Ara kirimkan pada Satri yang sudah tercentang dua namun belum dibaca


" Iya percaya-percaya" Ucap Alia sembari mengaggukan kepalanya. Tidak lama Alia membulatkan matanya langsung menatap Ara.


" Tunggu Ara menamai pacarnya Pangeran Es. Itu bukannya Sama dengan julukan Satria ya?" Alia memggelengkan kepalanya " Tidak mungkin, itu pasti hanya kebetulan" Batin Alia


"Kamu kenapa?. Kaya orang kesurupan" Ucap Ara heran melihat tingkah Alia


"Ehmm tidak apa-apa. Hehehe" Ara menatap Alia " Udah yuk masuk kelas."


Satria sedang berada ditempat parkir bersama kedua sahabatnya.


" Kalian akhir pekan ini ada acara gak?" Tanya Alvin pada dua sahabatnya.


" Gak" Jawab Satria


" Kalau gue sih ada kencan bareng Sisil" Jawab Dion


" Tumben Lo masih betah sama Sisil. Lo beneran suka sama dia?" Tanya Alvin curiga?


" Gak juga sih, beneran deh gue belum nemu cewek yang bisa membuat hati gue berdebar kaya udah lari maraton"


" Saran gue lo berhenti melakukan hal koyol kaya gini" Satria menghembuskan nafasnya kasar " Jangan permainkan perasaan perempuan, bayangkan saja jika itu Ibumu. Bagaiman perasaan mu?" Lanjutnya


" Benar yang Satria bilang. Gue setuju!"


Dion diam, apa yang dikatakan kedua sahabtnya memang benar. Lagi pula Dion merasa sudah capek dengan situasi seperti ini.

__ADS_1


"Iya gue tahu, ini yang terakhir" Dion menjeda ucapannya " Gue bakalan putusin dia kalau gue benar benar gak suka."


" Ayo kekelas" Ajak Alvin


Satria memeriksa HP nya takut ada pesan yang penting. Dan ternyata ada pesan dari Ara. Satria pun tersenyum manis, lalu ia dengan cepat membalas chat dari Ara.


Pangeran Es


" Aku gak ijinin"


Ara yang memang sedang memegang HP menunggu balasan dari Satria pun langsung membalas.


Ara


" Bukankah kamu bilang aku boleh minta apapun yang ku mau kemarin?"


Pangeran Es


"Iya, tapi selain itu"


Ara


"Pokoknya aku mau kepantai"


Satria mendesah dan tingkah lakunya pun tidak luput dari pengamatan kedua Sahabatnya.


Pangeran Es


" Baiklah tapi dengan satu syarat"


Ara


Pangeran Es


" Aku ikut dengan mu"


Ara


" Apa!. kau benar benar!"


Satria memasukan HP nya didalam saku. Tanpa berniat membalas pesan Ara. Tiba-tiba Susan datang dan menyeret Ara keluat kelas menuju Atap.


Satria melihat Ara diseret Susan. Ia langsung mengikuti mereka.


" Woi Sat lo mau kemana?" Ucap Dion


" Ikuti saja lah" Ucal Alvin.


Akhirnya merek berdua mengejar Satria. Ara Dibawa keatap gedung sekolah oleh Susan. Sesampainya diatap Susan menghempaskan tubuh Ara dengan kasar. Lalu Ara terjatuh, seketika kepala Ara menjadi sakit. Sekelebat potongan kenangan datang membuat Ara semakin kesakitan.


" Berdiri lo Tiara!" Ara mencoba berdiri di saat kepalanya masih sangat sakit.


" Apa yang lo lakukan?. kenapa lo nyeret gue kesini" Ucap Ara kesal

__ADS_1


" Gue tahu yang semalam bersama Satria itu lo!" Ara tercengang mendengar ucapan Susan. " Walau lo memakai masker dan topi buat nutupin identitas lo. Tapi suara lo masih gue kenal dengan baik" Ucap Susan


" Trus lo mau apa?" Ucap Ara menantang


" Gue pernah denger kalau Satria berpacaran dengan seorang putri dari pengusaha ternama. Yaitu Wiguna Grup!. Dan Semalam itu lo bersama Satria. Berarti putri keluarga Wiguna itu lo. Benar bukan?"


" Bukan urusan lo"


" Jadi benar kan. Pantas saja gue susan mencari informasi tentang lo. Karena lo putri dari keluarga Wiguna!."


Ara mendekati Susan dan mengikis jarak diantara mereka.


" Kalau memang iya. Trus kenapa?" Ara menatap tajam Susan


Susan menarik kerah baju Ara dengan kedua tangannya. Satria yang melihat itu berniat menghampiri Susan dan Ara, namun di cegah oleh Alvin dan Dion


"Biarkan dulu, kita awasi dari sini. Kalau mengancam nyawa Ara baru kita bertindak" Saran Alvin dianggukin Dion " Ion, lo rekam. Bila sesuatu terjadi kita punya bukti"


Dion melaksanakan apa yang dikatakan Alvin. Satria diam memperhatikan, walau dalam hati ia gelisah. Takut sesuatu terjadi pada Ara.


" Gue ingetin lo sekali lagi. Gue bakalan rebut apapun yang lo punya, termasuk Satria" Ucapan Susan membuat Ara kembali memegang kepalanya. Rasa sakit bersamaan dengan datangnya sekelebat ingatan.


Ara dan Susan berada diatap saling berhadapan. Mereka memakai seragam sekolah yang berbeda dengan apa yang sekarang mereka pakai. Susan menatap Ara penuh kebencian


" Gue bakalan rebut apapun yang lo punya. Karena gue benci liat lo bahagia!"


"Apa ini, Sakit sekali" Batin Ara


" Apa salah gue sama lo. Kenapa lo begitu membeci gue. Hah!" Tanya Ara kesal


" Salah lo karena selalu mendapatkan apa yang gue inginkan!" Ara mengerutkan keningnya


"Gue benci. Sangat membenci lo!."


Susan mendorong Ara dengan keras. Ara terjatuh, Rasa sakit dikepalanya kian menjadi. Sekelebat ingatan Susan mendorongnya Sampai terjatuh pun terlintas.


"Argh. Sakit banget" Ara memegang kepalanya " Dia pernah mendorong Ara seperti ini" Batin Ara


Susan memperhatikan Ara yang terus memegang kepalanya dan terlihat kesakitan. Tapi ia tidak perduli, ia berbalik berniat meninggalkan Ara. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Satria dan kedua Sahabatnya melangkah kearahnya. Ia melihat raut wajah Satria yang terlihat sangat cemas. Susan ingin pergi namun dicekal Alvin dan Dion.


Satria menghampiri Ara yang terduduk dilantai memegang kepalanya dan merintih kesakitan.


" Ra, kamu kenapa?. Ini aku Ra. Lihat Aku"


Satria memegangi tangan Ara yang berada dikepalanya.


" Sakit" Rintih Ara


" Aku disini, Tenanglah" Satria memeluk Ara.


" Argh.." Teriak Ara kesakitan, lalu Ara pinsan


" Ra. Ara! Bangun Ra" Satria menepuk-nepuk pipi Ara.

__ADS_1


Dengan sigap Satria langsung menggendong Ara ala bridal style dan pergi


__ADS_2