Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
46


__ADS_3

Sudah satu minggu Ara tidak sadarkan diri. Satria selalu berada disamping Ara. Ia hanya pulang ke apartmen untuk mengambil pakaiannya. Setiap hari sepulang sekolah Satria selalu pulang ke Rumah Sakit menemani Ara. Ia bahkan belajar dengan bersuara, agar Ara mendengarnya dan ikut belajar bersamanya. Seperti hari ini, Satria membacakan buku pelajaran untuk Ara. Mama Ara yang melihat itu sangat sedih. Ia juga selalu berada dekat dengan Putrinya. Pagi ia datang sebelum Satria berangkat kesekolah dan pulang saat petang.


Sebuah tepukan dipundaknya menghentikan aktifitas Satria. Satria melirik pada Mama Mertuanya.


" Pulanglah, kamu pasti sangat lelah. Biar Mama yang menemani Ara malam ini" Ucap Devina


Satria melirik Ara lalu beralih pada Mertuanya.


" Tidak apa Ma, Satria ingin disini" Jawabnya sendu


" Nanti kamu sakit Nak" Ucap Devina dengan raut wajah cemas melihat kondisi menantunya.


" Satria kuat Ma" Jawab Satria.


Devina menghela nafas, dia sudah sering menyuruh Satria untuk bermalam di apartmen atau rumah orang tuanya tapi Satria selalu menolak


" Jika Mama jadi Ara. Mama tidak mau melihat orang yang Mama sayangi sakit karena Mama. Jadi istirahatlah malam ini, besok kamu bisa kembali lagi kemari. Ini perintah!. Tidak ada bantahan!"


Satria tidak bisa berkata apa-apa kali ini. Karena sebenarnya dia juga lelah. Hanya saja Satria ingin yang dilihat Ara pertama kali saat ia terbagun itu adalah dirinya. Tapi mertuanya memang benar, dia harus mengistirahatkan tubuhnya saat ini. Satria tidak ingin Ara melihatnya sakit dan terlihat kacau.


"Baiklah Ma, hari ini Satria pulang. Beri Satria waktu sebentar Ma" Devina mengagguk lalu keluar dari ruang rawat Ara.


Satria menggegam tangan Ara dan menciumnya " Cepatlah bangun, aku merindukan masakan mu" Satria tersenyum tipis " Kau tahu, tidak enak makan masakan orang lain. Aku akan selalu menunggu mu disini, kau tahu kan!."


Satria berdiri, ia mengusap pipi Ara dan merapikan anak rambutnya. Lalu Satria membungkuk dan mencium kening Ara lalu hidung, pipi dan terakhir ia mengecup bibir Ara lama. Setelah beberapa saat Satria melepaskan kecupannya dibibir Ara. Satria berdiri lalu mengusap rambut Ara penuh sayang.


" Aku pulang, hanya malam ini. Aku janji!."


Satria berbalik melangkah menuju sofa dan mengambil tas ranselnya. Lalu ia berjalan menuju pintu, tepat didepan pintu ia berhenti dan berbalik menatap Ara. Satria menghela nafas dan keluar dari ruang rawat Ara. Air mata Ara menetes saat Satria pergi.


Didepan ruang rawat Ara, terlihat Devina sedang duduk menunggu Satria keluar.


" Ma" Panggil Satria. Devina melirik Satria lalu berdiri.


" Pulang lah" Ucap Devina, Satria mengangguk

__ADS_1


"Tolong jaga Ara Ma"


" Tentu Nak. Dia juga putri Mama jika kamu lupa" Devina tersenyum


Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ah iya Ma" Satria terseyum. Senyum yang membuat Devina bahagia melihatnya.


" Ma kalau Ara sadar atau apapun itu tolong hubungi Satria secepatnya." Devina memgagguk " Satria pulang dulu Ma" Lanjutnya


Satria mencium tangan Devina dan melangkah meninggalkan Mertuanya yang terus menatap Satria sampai Satria tidak terlihat lagi. Setelah Satria pergi Devina masuk, ia duduk mengusap lengan Ara. Sejurus kemudian Devina melihat lelehan air mata Ara lalu menghapusnya. Ia pun ikut menangis.


" Lihat lah, Mama tidak salah bukan menikahkan kamu dan dia Nak?. Apa sekarang kami tidak bisa berpisah dengannya Nak?. Lihatlah Dia Sangat menyayangi mu Nak. Walau dia tidak bisa mengekspresikan rasa sayangnya pada mu seperti pada umumnya. Tapi orang yang melihat akan tahu bahwa dia sangat menyayangi mu. Kamu beruntung sayang" Devina mengecup kening Ara.


...----------------...


Satria melangkah dengan malas masuk ke apartmennya. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling penjuru apartmen. Bayangan Ara terlihat oleh Satria dihampir sudut apartmen. Ia menghela nafas lalu masuk kekamar. Didalam kamar pun tak jauh berbeda. Satria merasa lebih kesepian dibanding sebelum ada Ara.


Satria merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Lalu ia memiringkan tubuhnya menghadap tempat dimana Ara selalu tidur. Bau parfum Ara tercium oleh Satria. Membuat Satria merasa kehilangan teman tidurnya. Satria mengambil bantal yang selalu Ara pakai dan memakainya. Lalu ia mengambil guling Ara dan memeluknya. Mencium aroma tubuh Ara yang berada di bantal dan guling. Satria meneteskan air matanya.


Drtt...


Drtt...


Drtt...


Bunyi Handphone Satria terus berdering. Satria terbangun dari tidurnya. Ia meraih Handphone nya lalu menerimanya setelah melihat siapa yang menghubunginya.


" Hallo" Ucap Satria


" Sat lo dimana?. Di apartmen atau di rumah lo?"


" Gue di apartmen Ion"


" Kalau gitu gue sama Alvin kesana"

__ADS_1


" Ok"


Sambungan terputus, Satria meletakan kembali Handphone nya. Ia beranjak dan melangkah ke kamar mandi. Satria membersihkan dirinya lalu keluar dengan hanya memakai handuk dipinggang. Satria tidak melihat baju yang biasa selalu Ara siapkan diatas tempat tidur. Ia menghela nafas, Satria lupa bahwa Ara tidak ada disana.


" Aku lupa bahwa kamu bahkan tidak ada disini" Gumma Satria


Satria melangkahkan kakinya ke wardrobe untuk mengambil pakaiannya. Setelah berpakaian ia pergi kedapur menuangkan air lalu meminumnya. Satria duduk lalu mengedarkan pandangannya kesekeliling dapur lalu menghela nafas.


" Baru seminggu Ara, Aku merasa sangat tersiksa. Apalagi jika kau benar-benar meninggalkan ku" Ucapnya sedih.


Satria beranjak dan membuka lemari es. Tidak ada bahan makanan disana. Hanya ada minuman disana.


" Tidak ada bahan makanan" Gumma Satria


Lalu ia menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk mengantarkan makanan ke apartmen nya.


Tidak lama kemudian suara bell apartmen Satria berbunyi dan ternyata kedua sahabat Satria yang datang.


" Ayo kita makan Sat, gue bawa banyak makanan. " Alvin memperlihatkan Paper bag yang berisi makanan "Lo belum makan bukan?" Tanya Alvin


" Gue memang belum makan tapi tadi gue udah pesen sama karyawan kafe buat anterin makanan kesini" Jawab Satria


" Gak apa-apa. Tenang ada gue, makanan yang lo bawa" Tunjuknya ke Alvin " Dan yang lo pesen" Tunjuk ke Satria " Pasti habis kalau ada gue"


" Yang ada di otak lo cuma makanan sama cewek !" Alvin menggeplak kepala Dion


" Sakit bego" Dion mengusap kepalanya "Sirik aja lo" lanjutnya


" Bagaimana dengan Susan?. Apa kalian sudah menemukannya?." Tanya Satria


" Kita belum menemukannya Sat" Jawab Alvin lemah" Seandainya saja waktu itu gue bawa dan kurung dia di tempat gue, pasti tidak akan sesulit ini"


" Itu bukan salah lo"


"Owh ia Sat, lo dah tau belum kalau Bokap nya Susan dipecat sama mertua lo?" Tanya Dion

__ADS_1


Satria terkejut mendengarnya. Dia tidak tahu bahwa mertuanya sudah bertindak.


__ADS_2