Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
45


__ADS_3

Satria membawa Ara pergi. Dion mengekori Satria, sedangkan Alvin masih mencengram lengan Susan memberinya tatapan tajam. Tatapan yang membuat Susan sampai takut untuk menatap balik Alvin.


" Jika terjadi sesuatu pada Ara gue gak bakalan tinggal diam!. Lo bodoh berurusan dengan Ara. Karena saat lo berurusa dengannya, lo bukan hanya menghadapinya tapi menghadapi dua keluarga berpengaruh dan juga gue serta Dion!." Susan terdiam mendengar kata kata Alvin.


Alvin melepaskan cengkramannya lalu pergi. Namun baru beberapa langkah Alvin berhenti dan berbalik


" Kita akan buat perhitungan dengan lo nanti!" Alvin berlari meninggalkan Susan menyusul Satria.


Susan terduduk lemas, tangannya gemetar.


" Bagaimana ini, apa yang harus gue lakukan"


Satria menggendong Ara menuruni tangga. Pemandangan yang tidak biasa ini menjadi tontonan para murid sekolah. Semua murid berbisik-bisik membicarakan Satria dan Ara. Namun Satria tidak perduli, yang penting baginya sekarang adalah Ara. Ia harus membawa Ara ke Rumah Sakit secepatnya.


Alia yang melihat Satria menggendong Ara pun berlari mengejarnya.


" Itu Ara bukan, kenapa digendong Satria. Bukannya tadi Ara ditarik Susan?" Batin Alia


Langkah Dion terhenti, karena Alia mencekal tangan Dion yang berada dibelakang Satria.


"Apa!" Dion melepaskan tangannya


" it itu Ara bukan?. Dia kenapa?" Tanya Alia cemas.


Dion memegang bahu Alia


" Dengerin gue, jangan memotong omongan gue. Seperti yang lo liat, itu memang Ara!. Dia pingsan dan kita mau bawa dia ke Rumah Sakit. Tugas lo sekarang ijinin kita berempat. Karena mungkin kita gak balik lagi kesekolah. lo ngerti?" Alia mengagguk " Gadis pintar" Ucap Dion lalu mengelus kepala Alia yang tertutup Jilbab.


" Ion, ngapain lo. Ayo cepetan" Alvin dan Dion berlari menyusul Ara dan Satria


Alia masih diam terpaku sampai Dion dan Alvin tidak terlihat lagi.


Sesampainya diparkiran, Satria menghembuskan nafasnya kasar melihat dari jauh kedua sahabatnya berlari menghampirinya.


" CEPAT BUKA PINTUNYA" Teriak Satria


Alvin dan Dion kaget. Baru pertama kali mereka melihat Satria begitu khawatir sampai tidak bisa menahan emosinya. Alvin membukakan pintu mobilnya. Satria dengan cepat masuk di kursi belakang, ia duduk dengan memangku Ara. Alvin mengemudi dan Dion berada disampingnya. Mereka pergi meninggalkan sekolah menuju Rumah Sakit dimana dulu Ara dirawat.


Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Satria menghubungi mertua dan orang tua nya. Mereka sangat kaget mendengar Ara pingsan dan sedang menuju Rumah Sakit. Mereka semua langsung pergi menyusul Satria.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit, Satria langsung keluar berlari sambil menggendong Ara menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat). Satria meletakkan Ara diatas brangkar dan membiarkan Dokter memeriksanya. Satria Duduk termenung menunggu Dokter memeriksa Ara.


" Lo harus yakin, Ara baik-baik saja" Ucap Alvin namun Satria diam tidak merespon


"Sat, apa yang dikatakan Alvin itu benar. Dan berdoa lah" Dion menepuk pundak Satria


Kedua Orang tua Ara berlari menghampiri Satria. Dan menyusul kedua orang tua Satria. Mama Devina menghampiri Satria sambil menangis.


" Apa yang terjadi Nak?. Kenapa Ara bisa pingsan" Tanyanya sambil menangis


Satria menoleh kearah mertua dan orang tuannya. Namun Satria masih belum membuka suaranya.


" Tenang dulu Ma" Bambang memeluk istrinya


Lisa Duduk disamping Satria, memberi Satria kekuatan lewat usapan dipunggungnya. Ia tahu bahwa sekarang anaknya sedang Syok


" Katakan Nak, kenapa putri Ibu bisa pingsan" Tanya Lisa lembut.


Satria menghela nafas. Lalu menceritakan kejadian tadi diatap.


" Maksud mu Susan Sahabat Ara dulu?." Tanya Bambang dan Satria mengagguk " Bagaimana bisa berada disana " Tanyanya


" Papa tahu kamu sudah menjaga Ara dengan baik. Papa percaya itu, jadi jangan merasa bersalah" Ucap Bambang


" Kalian tenang, kita fokus dengan keadaan Ara sekarang. Masalah itu kita urus nanti setelah kita tahu keadaan Ara" Ucap Heru dan semuanya setuju.


Cklek...


Suara pintu terbuka, keluarlah Dokter Suryadi yang menangani Ara dulu. Semuanya berdiri menghampirinya.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Devina


"Sepertinya Tiara terlalu memaksakan diri untuk mengingat sesuatu. Sehingga dia pingsan dan sekarang Tiara dalam keadaan vegetative" Semuanya terpukul dengan keadaan Ara " Kita berdoa saja, semoga Tiara cepat siuman" Lanjutnya


" Kami boleh melihatnya Dok?" Tanya Devina


" Untuk sekarang tidak bisa. Nanti setelah dipindahkan keruang perawatan bisa dijenguk. Saya permisi " Ucap Dokter Suryadi lalu pergi


Satria mendekat kearah pintu Ruang Tindakan yang sebagian terbuat dari kaca. Ia melihat Ara dengan tatapan sendu.

__ADS_1


" Bangunlah, Aku mencintai mu Ara"


...----------------...


Ana POV On


Tut...


Tut...


Tut...


Samar samar aku dengar suara mesin pendeteksi detak jantung. Bau obat yang menyengat begitu menusuk hidungku. Kepala ku masih terasa sakit. Banyak alat medis menempel ditubuhku. Termasuk masker oksigen yang ku pakai saat ini. Ku rasakan ada yang menggenggam tangan ku. Apa itu Satria?.Aku mungkin terlalu percaya diri. Apa aku memang berharap itu dia?. Apa aku mulai menyukainya. ah itu tidak mungkin bukan.


Dikamar ini terasa sangat sunyi bahkan tidak terdengar suara seorang pun. Hanya terdengar bunyi mesin pendeteksi jantung dan suara tetesan air. Mungkin itu dari cairan infus yang masum kedalam tubuhku.


Ku yakin sekarang aku berada dirumah sakit. Karena tadi aku taksadarkan diri karena sakit kepala yang hebat menyerang ku. Kini aku memiliki sedikit ingatan Ara.


Sedari tadi aku ingin sekali membuka mata namun kenapa itu sangat sulit. Aku berusaha sekuat tenaga ku untuk bisa membuka mata namun itu hanya sia-sia. Aku tidak bisa membuka mata sesuai keinginan ku. Aku menyerah! Tidak aku harus tetap berusaha. Aku mulai menggerakan jari-jari tangan ku sekarang. Ah kenapa sangat sulit sekali. Aku mencoba lagi dan berhasil. Aku bisa menggerakan jari-jari ku walau lemah. Aku menggerakan jari ku lagi dan genggaman ditanganku semakin kuat.


" Ana... Ana jari mu bergerak"


deg...


Jantung ku berpacu dengan cepat saat ku dengar suara yang begitu tidak asing ditelinga ku, itu suara Mas Budi. Dia terkejut saat jari ku bergerak. Dari nada suaranya sepertinya dia bahagia. Tapi aku tidak terlalu berharap. Dia beranjak dari duduknya namun itu hanya sebentar. Lalu dia duduk kembali, ia memegang tangan ku. Aku berharap bisa menepis tangannya. Namun itu hanya sebuah harapan.


"Apa kamu mendengarku sayang. Bangun lah, aku akan menerima apapun hukuman darimu, bangunlah Ana"


Benarkah kamu akan menerima apapun hukuman dariku jika aku membuka mata. Namun aku benar-benar tidak ingin melihat wajah mu, sungguh. Bahkan sekarang aku berharap yang menggenggam tanganku bukan dirimu, namun Satria.


Aku berharap aku bisa kembali menjadi Tiara!


Tiba-tiba jantung ku terasa diremas, sakit. Dadaku terasa sesak. Kini Aku kesulitan untuk bernafas. Aku merasa otot-otot tubuhku menegang, pada akhirnya tubuhku mengalami kejang-kejang. Ku dengar suara teriakan Mas Budi memanggil-manggil nama ku prustasi. Tak lama terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang tergesah-gesah menghampiri ku. Ku rasakan mereka memasang alat bantu pernafasan untuk ku. Mereka melakukan resusitasi untuk memompa darah ke jantung dan membantu ku untuk tetap hidup.


Tiba-tiba aku bisa membuka mata melihat orang-orang yang berada didekatku termasuk Mas Budi. Ku lihat dia sangat kacau, tubuhnya tidak terurus. Dia terlihat kurus, rambut gandrong, berkumis dan berjenggot. Bahkan aku hampir tidak mengenalinya. Apakah mungkin dia menderita karena diriku. Kini air matanya mengalir deras melihat ku yang mungkin diujung maut, mungkin.


Aku merasa iba melihatnya. Air mata ku mengalir begitu saja. Aku berharap dia bahagia bersama siapapun itu. Kini tiada dendam dan rasa sakit hati ku padanya. Aku merasa damai dan kuberikan senyum termanis untuknya. Mungkin senyum terakhir yang bisa kuberikan.


Aku tidak bisa menahan mata ku untuk tetap terbuka. Bahkan kini aku tidak bisa mendengar suara apapun lagi. Pandangan ku kini mulai buram dan gelap.

__ADS_1


Ana POV Off


__ADS_2