
"Ini memang mungkin terlalu awal tapi cepat atau lambat kita pasti akan melakukannya" Gumma Satria pelan
Satria melangkah mendekati Ara. Ia memegang kedua pundak Ara dari belakang. Ara menoleh
"Apa?. Awas aku mau pake baju dulu. Dingin tahu!"
"Ra" Ara menghela nafas lalu berbalik menghadap Satria dan menatapnya " Jangan sekolah, istirahat saja" Ucap Satria penuh perhatian
"Aku gak mau bolos" Jawabnya
"Istirahat aja, liat jalan aja gak bener" Ara mencebik tapi Satria malah tersenyum
"Ulah siapa coba" Sanggahnya
"Maaf" Ucap Satria tulus
"Gak harus minta maaf, memang sudah menjadi hak mu!" Satria tersenyum mendengarnya
"Jangan Sekolah" Satria merebut seragam yang dipegang Ara
"Balikin!. Aku gak mau bolos ih" Kesal Ara
"Kamu harus nurut sama suami. Mau jadi istri durhaka kamu!" Ara mendelik lalu menatap Satria tajam " Udah tidak ada bantahan, hari ini gak usah sekolah. Besok saja!" Ucap Satria tidak ingin dibantah.
Satria menaruh kembali seragam Ara kelemari dan mengambil kaos dan celana pendek untuk Ara.
"Nih" Satria memberikan baju pada Ara " Pakai" Lalu ia keluar dari kamar menuju dapur.
Satria menyiapkan sandwich dan segelas susu untuk Ara juga dirinya. Ia melirik jam didinding. Satria menghela nafas
"Sudah hampir terlambat" Gummanya pelan
Satria melihat kepintu kamar, Ara belum juga keluar jadi ia memutuskan untuk memakan sarapannya tanpa menunggu Ara. Setelah selesai Ara baru keluar. Satria menghampiri Ara lalu menuntunnya.
"Ich gak usah gini juga kali" Kesal Ara
"Gak apa-apa, kali-kali" Sanggahnya
Satria menuntun Ara untuk duduk dan menyodorkan sarapan milik Ara.
"Makanlah" Ara menatap Satria " Aku sudah. Aku berangkat sekarang, sudah hampir terlambat" Ucap Satria dan Ara mengagguk
Satria mengambil tasnya dan kembali menghapiri Ara yang tengah memakan sandwich nya. Satria mengusap kepala Ara, Ara mendongkrak melihat Satria
"Istirahatlah. Aku berangkat"
"Iya hati-hati"
__ADS_1
Disekolah Alvin dan Dion menunggu Satria ditempat parkir.
" Kemana dia belum nongol juga" Alvin melihat jam ditangannya, lalu menatap kearah gerbang sekolah. "Katanya ada yang harus diomongin, penting!. Tapi dia malah belum datang" Gerutu Dion
"Ia tidak biasanya jam segini belum datang dia" Timpal Alvin
"Lo ngerasa aneh gak sih vin?. Kemarin ia pulang tanpa ngabarin kita." Tanyanya pada Alvin
"Lo bener, gue juga ngerasa ada hal yang janggal. Terlebih dari kemarin dia gak bisa dihubungi. Handphone nya gak aktif dan dia juga mau ngebahas hal penting pagi-pagi gini"
"Noh dia datang" Tunjuk Dion pada siswa yang datang menegnakan motor gedenya.
Satria memarkirkan motornya lalu menghampiri kedua sahabatnya.
"Ada apa?" Tanya Alvin tanpa basa-basu setelah Satria ada didepannya.
"Gue dijebak" Alvin dan Dion mengerutkan keningnya tidak mengerti "Ada yang masukin obat dalam minuman gue" Ucap Satria
Dion dan Alvin terkejut bukan main. Mereka saling pandang lalu sejurus kemudian mereka menatap Satria dari atas sampai bawah.
Plak
Satria menggeplak kepala Alvin dan Dion dengan hodienya.
"Sakit woi!" Ucap Dion sembari meringis dan mengusap kepalanya begitu juga Alvin.
" Pantesan lo aneh kemarin" Ucap Alvin
"Siapa ya kira kira?" Tanya Dion
"Gue gak tahu tapi yang pasti Angel berhubungan dengan ini" Jelas Satria
"Angel?" Beo Alvin dan Dion
"Iya Dia" Alvin lalu teringat sesuatu.
"Eh kemarin Ara bareng lo?" Tanyanya khawatir. Satria mengagguk
"Iya"
"Jadi lo sama Ara" Dion tersenyum dan menaik turunkan alisnya
"Memangnya gue mau ngelakuinnya sama siapa kalau bukan sama dia!. Ngaco lo!" Satria memalingkan wajahnya
"Hahahahaha" Dion tertawa
Alvin tersenyum penuh arti " Enak gak"
__ADS_1
"Kalau lo pengen tahu ya nikah lah" Ucapnya meledek
"Kita masih sekolah. Bener gak, masih pengen berpetualang. Hahahaha" Ucap Dion dan dianggukin Alvin
"Terserah" Mendengar itu bukan berhenti Dion dan Alvin makin menjadi " Tolong ijinin Ara. Bilang aja pada Alia dia sakit"
"Wow tuh anak lo apain sampe gak bisa sekolah" Dion tersenyum
"Jangan banyak tanya lakukan saja!"
"Ok ok"
"Sat lo gak curiga sama Renaldi?" Satria Diam " Secara itu tempatnya dan dia juga yang ngasih minuman ke lo" Ujar Alvin
"Gue juga sebenarnya curiga tapi gue belum punya bukti" Jawabnya
"Kita harus melihat CCTV buat liat pergerakannya" Saran Dion
"lo kalau ngasih saran yang bener. Itu tempatnya milim keluarga Renaldi. Gimana caranya kita bisa liat CCTVnya"
"Gampang itu mah, kita hack."
Bell pun berbunyi sebelum mereka benar-benar membahas persoalan ini.
"Pulang sekolah langsung ke apartemen gue. Kita bahas disana" Ucap Satria lalu pergi meninggalkan Dion dan Alvin
"Dia mah kebiasaan" Tunjuk Dion pada Satria. Alvin mengagguk
"Benar" Lalu pergi menyusul Satria
"Woi tunggu" Teriak Dion
Mereka berjalan bertiga menuju kelas. Sepanjang jalan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan kagum. Tiba tiba Alia berlari menghampiri mereka. Alia berhenti tepat didepan Satria. Tangannya bertumpu pada lututnya. Nafas Alia tersengal-sengal karena berlari. Alia lalu mendongkrak dan berdiri tegak.
"Ma maaf. Aku cuma mau tanya. Ara tidak bersama kalian?" Tanya Alia
Satria menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak ingin terjadi gosip karena sekarang banyak pasang mata yang melihat mereka. Dion melihat itu mendekati Alia dan membisikan sesuatu.
Deg...
Tubuh Alia menegang ketika Dion mendekatinya dan membisikan sesuatu.
"Ara lagi sakit tolong lo ijinin"
"I iya" Lalu Alia berbalik sembari memegang dadanya dan berlari menuju kelas.
"Dia kenapa?" Tanya Dion
__ADS_1
"Bego" Ucap Satria dan Alvin