Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
54


__ADS_3

Petang menjelang, orang tua Ara dan Satria masih betah menunggu anak dan menantunya pulang.


" Dimana mereka?. Kenapa belum pulang jam segini" Ucap Devina


" Iya sebentar lagi waktu magrib" Lisa menimpali.


" Mereka sudah dewasa, Papa yakin Satria bisa menjaga Ara" Ucap Bambang


" Aku setuju, mungkin sebentar lagi juga pulang. Lagipula kapan lagi kita bisa sesantai ini. Iya kan" Ucapan Heru Dianggukin Bambang.


" Coba hubungi Satria Yah, Ara masih dalam tahap penyebuhan" Ucap Lisa khawatir


" Baiklah"


Heru mengeluarkan Handphone nya dan menghubungi Satria.


"Assalamualikum Pa"


" Waalaikumussalam, Kamu dimana? Ini sudah jam berapa? Cepat pulang!"


"Iya Pah. Ini lagi diparkiran apartemen. Sebentar lagi sampai tinggal naik lift." Jawab asal Satria.


"Ehmz cepat" Heru langsung mematikan sambungan teleponnya.


Semua orang menunggu Heru berbicara tentang keberadaan anak mereka. Namun Heru diam, Sebenarnya ia malu karena memberendong anaknya dengan pertanyaan yang membuat dia tidak berkutik setelah mendengar jawabannya.


"Dimana mereka?" Tanya Lisa yang tidak sabar


" Mereka sebentar lagi sampai" Jawab Heru


"Memangnya mereka sudah sampai mana?" Tanya Devina


Belum sempat Heru menjawab pintu apartemen terbuka dan napaklah pasangan muda yang mereka khawatirkan muncul. Devina lanhsung menghampiri anak menantunya.


"Kalian dari mana saja?. Jam segini baru pulang. Apa kalian tahu ka.." Ucapan Devina terpotong karena Ara.


Ara langsung memeluk Mamanya saat mendengar Mamanya akan mengomel panjang . Devina merasa heran dengan kelakuan anaknya yang langsung memeluk dirinya. Tidak hanya Devina namun semua yang berada disitu kecuali Satria.


"Ada apa ini, apa mereka bertengkar?" Batin Devina


Devina lalu menatap menantunya. Satria yang ditatap penuh tanya oleh mertuanya hanya tersenyum.


" Kalian ber.." Lagi-lagi ucapan Devina terpotong oleh Ara.


"Kami tidak bertengkar Ma. Kami baik-baik saja. Ara hanya ingin memeluk Mama" Ucap Ara

__ADS_1


Devina langsung memeluk Ara erat. Lalu ia membawa Ara duduk disofa.


"Apa kalian bersenang-senang?" Tanya Lisa


" Iya tentu Bu" Jawab Ara semangat " Pemandangannya indah sekali. Lain kali Ara mau melihat pemandangn sunset yang memukau" Lanjutnya.


Lalu Ara menceritakan perjalanannya tadi bersama Satria. Ara begitu antusias dan terlihat bahagia saat bercerita. Semua orang senang melihat kebahagian yang terpancar diwajah Ara.


"Ara sudah waktunya kamu bercerita tentang kejadian dulu" Ucap Bambang serius.


Tiba-tiba hening, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Satria dan Ara menghela nafas mendengarkan keinginan para orang tua. Akhirnya Ara bersedia bercerita.


" Baiklah" Jawab Ara pelan


Flash Back On


"Ara kita akhiri sampai disini"


Ara terkejut, ia menggelengkan kepalanya


"Ka kamu bohongkan. Ini bercanda kan?"


" Tidak Ara aku bersungguh-sungguh"


" Tapi kenapa, selama ini kita baik baik saja. Apa aku punya salah?"


"Maaf Ara. Maafkan Aku, Kamu tidak bersalah Akulah yang bersalah" Jawabnya sendu, ia memalingkan pandangannya kearah lain menghindari kontak mata dengan Ara.


" Apa maksud mu?" Tanya Ara penasaran.


" Aku menyukai orang lain Ara" Jawabnya lalu menatap Ara sehingga mereka saling menatap.


Ara terus menatapnya mencari kejujuran dimata pacarnya itu. Dan yang Ara dapatkan hanya tatapan penuh keyakinan. Ara memegang dadanya, sakit itu yang ia rasakan saat ini. Rasa kecewa dan tidak percaya menghinggapi. Air matanya tak lagi terbendung. Ia menagis tanpa bersuara sambil menatap tajam seorang laki-laki yang ia cintai didepannya.


" Ara" Ucap Haris


Tangannya terulur berniat mengusap air mata Ara. Namun tangan Ara menepisnya. Dengan berderai air mata Ara mengatakan apa yang ia rasakan


" Kau!" Tunjuknya pada Haris


" Aku kecewa, Sangat kecewa!. Kau menghianati kepercayaan ku!. Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kau tidak akan pernah bahagia bersamanya!". Ucap Ara lalu pergi meninggalkan Haris yang tertegun mendengar perkataan Ara.


Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Ara tidak banyak bicara seperti biasanya, namun ia berpura-pura tidak terjadi apapun.


"Hai" Tepukan Susan membuatnya tersadar dari lamunan. " Udahlah. Masih banyak laki-laki yang menyukai lo apa adanya" Ara tersenyum

__ADS_1


" Mana ada laki-laki yang menyukai gue dengan tulus. Lihatlah wajah gue ini, kaya bumi dan langit bila dibandingkan dengan lo" Ucap Ara sendu


"Iya sih, benar juga! Hahaha" Tawa Susan pecah


"Eh dasar sahabat durhaka. Bukannya menghibur malah ngeledek!". Ucap Ara kesal


" Hahaha. Lagian gue hibur malah gak mempan, mending diledek aja biar gak mikirin si Haris" Ucap Susan


Ting..


Susan mengambil handphonenya dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya. Ia tersenyum senang melihat seseorang yang ia sukai mengirim pesan padanya dan itu tidak luput dari perhatian Ara. Ara pun tersenyum melihat sahabatnya bahagia.


" Seneng bener dapet pesan dari seseorang" Ucap Ara mengejek


" Apaan sih ih. Gue pergi dulu, Bye" Ucap Susan lalu pergi meninggalkan Ara


Ara kembali termenung memikirkan seseorang yang membuatnya sangat sakit. Sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Cinta pertama yang berakhir dengan luka. Selang beberapa lama ada pesan masuk dari sahabat Ara, yaitu Susan


My best friend


Ra mau lihat pacar baru gue gak, sini ke atap gedung belakang sekolah.


Tanpa membalas pesan Susan, Ara langsung menuju atap gedung belakang sekolah. Sesampainya disana, Ara tak melihat siapapun berada diatap gedung. Ia berkeliling melirik kesana dan kemari.


"Dimana dia, katanya mau kenalin pacar barunya. Dasar !"


Ara berbalik, ia kembali menuruni tangga. Namun baru beberapa anak tangga sebuah pesan masuk dan Ara langsung membacanya.


My best friend


Kalau lo udah sampai diatap, lihat kebawah. Taman belakang sekolah.


Ara menghela nafasnya kesal. Ara berkacak pinggang lalu menoleh ke atas.


" Dasar. Apa dia ngerjain gue. Awas aja lo kalau ngerjain gue!"


Ara melangkah menaiki tangga lalu menuju arah taman belakang sekolah. Sesampainya disana ia melihat Susan sedang bercumbu dengan seorang murid laki-laki. Wajah laki-laki itu tidak terlihat terhalang kepala Susan.


" Dasar tidak tahu tempat!. Gue aja yang udah setahun pacaran ma Haris belum pernah kaya gitu!. Siapa laki-laki itu?."


Ara terus memperhatikan dengan seksama laki-laki yang sedang bercumbu dengan Susan. Sesuatu menarik perhatiannya, ia memperhatikannya dan mata Ara langsung membulat sempurna. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca.


" It itu gelang yang biasa dipakai Haris!. Tidak mungkin!. Mereka tidak mungkin menghianatiku" Rancau Ara


Ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit dan sesak. Nafasnya terasa berat, air mata Ara tak terbendung lagi. Apalagi saat Susan dan Haris melepaskan pungutannya. Tubuhnya terasa lemas dan bergetar. Ia terduduk sambil menutupi wajahnya dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2