
Hari sudah mulai gelap. Ara sedang sibuk dengan peralatannya didapur. Ia memasak makan malam untuk dirinya dan Satria. Setelah selesai Ara menata makanan dimeja makan. Barulah Ara pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Setelah ritualnya selesai Ara keluar kamar menunggu Satria pulang. Ara duduk disofa dan menyalakan TV nya , tapi ia hanya membiarkan TV nya menyala tanpa menontonnya. Ara melihat jam menunjukan pukul tujuh malam. Ara memandangi Handphone nya berharap Satria mengirimkan pesan atau menghubunginya. Ara khawatir Satria belum pulang.
" Kemana dia jam segini belum pulang. Gak ngasih kabar pula!"
Ara beranjak dari duduknya dan berjalan menuju balkon apartmen. Ara memandang keindahan kota J dari ketinggian di malam hari sangat indah. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, menyembunyikan mukanya di bahu Ara. Ara terkejut ingin melepaskan tangan yang memeluknya namun suara yang ia kenali menghentikan aksinya.
"Biarkan aku memeluk mu sebentar saja" Kata Satria lemah
Ara membiarkan Satria memeluknya. Setelah beberapa saat Ara melepaskan tangan Satria yang melingkar diperutnya. Lalu berbalik dan memeluk Satria. Satria membalas pelukan Ara dan mereka saling berpelukan. Ara membiarkan Satria memeluknya cukup lama.
" Kamu baik-baik saja" Satria mengagguk.
Tapi Ara tahu dia tidak dalam keadaan baik. Ara mengusap ngusap punggung Satria. Mendapat perlakuan itu Satria malah mempererat pelukannya.
"Aku lelah" Ucap Satria lemah
Ara mengusap punggung Satria. Ia tidak mengeluarkan satu kata pun untuk menanggapi perkataan Satria. Hanya memberikan dukungan lewat sentuhan.
"Kamu sudah makan?" Dijawab gelengan oleh Satria, lalu Ara melepaskan pelukannya.
" Ayo kita makan. Aku sudah lapar" Ucap Ara
Satria menatap Ara " Kamu belum makan?" Tanya Satria dan dijawab anggukan oleh Ara
"Aku menunggu mu. Aku ingin makan bersama, tidak enak makan sendiri" Ara memalingkan wajahnya saat mengatakan itu.
Satria hanya memandang Ara tanpa berkata apa-apa.
"Ayo kita makan, tapi kamu mandi dulu sana" Ucap Ara
Satria menangkup wajah Ara menatap wajah Ara lekat.
Cup...
Satria mencium bibir Ara sekilas. Mata Ara membulat sempurna, dia mematung mendapat kecupan dari Satria. Satria lalu pergi meninggalkan Ara tanpa sepatah kata pun. Sebenarnya Satria Sangat malu, dia langsung pergi supaya Ara tidak melihat wajahnya yang sudah blushing.
Ara masih mematung Selepas kepergian Satria. Ara meraba bibir yang dikecup Satria, lalu beralih kedadanya.
__ADS_1
"Kenapa jantungku berdebar begitu kencang? Bahkan dulu saat bersama dia aku tidak merasakan debaran sehebat ini seperti saat bersama Satria" Batin Ara
...----------------...
Disudut cafe ada seorang gadis cantik duduk sedang sibuk dengan benda pipih miliknya. Tak lama ada seorang laki-laki memakai hodie hitam mendekatinya lalu duduk didepannya. Si gadis mendongkrak melihat siapa yang duduk didepannya. Ternyata laki-laki yang sendari tadi ia tunggu.
" Kamu mendapatkan yang gue inginkan!" Ucap gadis itu
" Lo harus membayar gue lebih dari perjanjian awal" Gadis itu mengerutkan keningnya " Lo tahu gue susah nyari informasi ini anak. Sepertinya dia bukan gadis sembarangan. Informasinya sangat sulit didapat, bahkan nama orang tuanya saja gue belum bisa nemuin"
" Apa yang lo dapat?" Tanya gadis itu
Laki-laki itu menyerahkan sebuah amplop coklat. Gadis itu membolak balikan amplop yang diberikan padanya.
"Katakan apa yang lo dapet!"
"Seperti yang lo tahu namanya Tiara Aulia. Dia dulu satu sekolah dengan lo sebelum terjadi tragedi yang membuat dia koma dan kehilangan ingatannya. Sekarang dia bersekolah di SMA PERTIWI. Hanya itu yang gue bisa kasih ke lo. Sorry " Susan tersenyum mengejek.
"Lo pengen gue ngasih lebih tapi informasi yang lo dapet hanya segitu. Bahkan tempat tinggalnya aja lo gak tahu. Kalau lo mau dapetin uang yang lebih banyak. Lo setidaknya harus kasih gue informasi dimana dia tinggal dan siapa orang tua nya."
" Gue bakalan berusaha buat nyari. Tapi bayaran buat informasi itu dua kali lipat. Bagaimana?" Laki-laki itu menyodorkan tangannya dan dibalas oleh Susan
Susan masuk kedalama mobil miliknya. Dia tidak langsung menjalankan mobilnya. Susan diam didalam mobil, memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan untuk membuat Ara menderita. Susan tersenyum smirk.
"Untuk membuat dia menderita. Gue harus masuk kesekolah yang sama dengannya"
...----------------...
Keesokan harinya dipagi hari yang cerah. Ara dan Satria sedang sarapan dengan canggung. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Sampai dering HP Satria berbunyi. Satria langsung melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Ibunya yang lah menghubunginya.
" Assalamualaikum Bu?"
" Waalaikumussalam Nak"
" Kalian jadi nginep disini? Ibu akan masak makan siang yang spesial buat kalian"
Satria melirik Ara. Ada rasa bersalah yang hinggap karena tidak pernah Satria mengajak Ara untuk menginap dirumah mertuanya keluarga Wiguna.
" Maaf Bu mungkin hari ini Satria dan Ara akan menginap dirumah Mama. Satria dan Ara belum pernah menginap disana setelah menikah. Tidak apa-apa kan Bu?"
__ADS_1
" Ehm ya sudah tidak apa-apa. Kasian juga Mama mu, nanti disangka kalian pilih kasih lagi. Hahaha"
" Tapi kita mampir dulu kerumah Ibu. Nanti sore baru berangkat kerumah Mama."
" Beneran!. Ya sudah cepetan kesini ya. Nanti Ibu bilang ke Ayah kalian bakalan kesini jadi nanti siang Ayah pulang buat makan bersama kita"
"Iya bu"
" Ya Ibu tutup dulu ya, Assalamualaikum"
" Waalaikumussalam"
Satria meletakkan HP nya dan melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.
" Apa kita akan menginap dirumah Mama?" Dijawab anggukan Satria
Seketika Ara tersenyum senang. Lagi-lagi timbul perasaan bersalah pada diri Satria melihat Ara begitu bahagia akan menginap rumahnya.
" Maaf" Ara menatap Satria bingung " Karena tidak pernah mengajak mu menginap dirumah orang tua mu" Lanjut Satria
" Tidak apa. Jangan merasa bersalah. Lagipula kita kan yang berjanji akan menginap dirumah mu saat weekend" Satria tersenyum mendengarnya. Dalam hati ia bersyukur Ara menjadi istrinya.
" Bagaiman kalau mulai minggu depan kita akan bergiliran menginap. Sekarang dirumah Mama dan minggu depan dirumah Ibu" Ara pun mengangguk setuju " Lagi pula Ibu pasti setuju"
Setelah menyelesaikan sarapannya. Ara dan Satria pergi kerumah Aditama.
" Assalamualaikum" Ara dan Satria mengucapkan salam saat masuk kedalam rumah.
" Waalaikumussalam. Eh putra dan putri Ibu udah datang" Sambut Lisa lalu memeluk Ara kemudian Satria " Kalian istirahat aja dulu dikamar. Ibu mau kedapur dulu ngecek kerjaan"
" Ibu, ini roti kesukaam Ibu. Tadi Ara dan Satria beli sebelum kesini" Ara menyerahkan bingkisan yang tadi mereka beli.
" Terima Kasih sayang" Lisa mengusap ngusap kepala Ara.
" Satria kekamar dulu" Lalu Satria pergi meninggalkan Ibunya dan Ara.
" Dasar anak itu, bukannya ngajak putri Ibu yang cantik ini untuk istrirahat malah ngelengos gitu aja." Gerutu Lisa kesal
" Tak apa Bu. Ara ikut Ibu kedapur aja" Ara melingkarkan tangannya pada lengan Lisa dan bergelayut manja pada mertuannya.
__ADS_1