
di meja makan sudah ada lisa dan heru yang sedang menunggu pasangan muda yang belum terlihat batang hidungnya.
" kenpa mereka belum turun, coba panggil mereka" kata heru
" iya sebentar"
saat lisa akan beranjak dari duduknya terlihat pasangan itu menuruni tangga
" tuh yang diomongin udah turun"
" ehmm" dan hanya dibalas deheman oleh heru.
sesampainya di meja makan...
" pagi yah, bu" sapa satria lalu duduk disamping ayahnya dan ara di samping satria.
ara melayani satria selayaknya seorang istri pada umumnya tanpa di perintah. ara mengambilkan nasi dan lauk untuk satria lalu setelah itu ia mengambil nasi dan lauk untuk dirinya. saat makan suasana hening, hanya denting sendok yang saling bersautan. karena memang peraturan di rumah satria tidak diperbolehkan berbicara saat makan.
setelah selesai makan tapi masih di meja makan, satria menngutarakan niatnya
" yah, mungkin sore ini aku jadi pindah ke apartemen " ara menatap satria bingung " kita bicara nanti" kata satria yang mengerti arti tatapan ara
" kamu belum membicarakannya dengan ara " tebak heru dan satria pun mengangguk
" ayah terserah kalian saja" jawabnya
" ih ayah jangn gitu donk, ibu masih pengen sama menantu ibu " menatap suaminya penuh harap. heru mendesah
" mereka sudah dewasa juga sudah menikah, mereka berhak menentukannya" lisa diam, kini beralih pada satria
"satria jangan sekarang ya, nanti saja kalau sudah mau masuk sekolah..ya ya ya" lisa membujuk satria
ara hanya diam tidak berpihak pada satria atau ibu mertuanya.
"bu, kita kan sudah membicarakan ini kemarin" jawab satria lembut
satria meraih tangan ibunya, menggenggam lalu mengusap ngusapnya.
" weekend sesuai permintaan ibu kita bakalan nginep disini" satria membujuk ibunya
lisa mendesah dan akhirnya pasrah. berat bagi lisa ditinggalkan putranya terlebih ara yang sudah beberapa hari ini menemani kesepiannya dirumah yang begitu besar namun terasa kosong karena kesibukan suami dan anaknya.
" tapi kalian harus janji satu hal..." satria mengerutkan keningnya
" apalagi rencana ibu" batin satria
ara dan heru diam menyimak...
__ADS_1
" jika ara hamil kalian harus tinggal disini selamanya"
uhuk...uhuk..
mendengar itu ara tersedak air ludahnya sendiri. satria dengan sigap memberikan ara minum.
" sayang kamu tidak apa apa" lisa terlihat khawatir
" tidak apa apa bu" ara pun tersenyum
" gimana kalian janji kan" lisa mengingatkan
" bu, satria dan ara mungkin ingin mempunyai rumahnya sendiri" heru membuka suaranya dan satria pun mengagguk
mata lisa berkaca kaca, ia merasa kecewa terhadap anak dan suaminya yang tidak mengerti keadaan dirinya
" ya sudah lah terserah kalian saja"...meninggalkan meja makan.
" bu..." panggil satria
lisa hanya melirik lalu pergi. ara merasa bingung apa yang harus ia lakukan. sebenarnya ara mengerti, selama beberapa hari di rumah ini bersama ibu mertuanya ara tau bahwa lisa sangat kesepian karena kesibukan suami dan anaknya. ara menghembuskan nafasnya kasar. lalu beranjak dari duduknya untuk menyusul ibu mertuanya
" ayah ara permisi" lalu bebisik pada satria " aku pergi nyusul ibu" dianggukin satria.
cklek....
"ehmm ara boleh masuk bu" dianggukin lisa
ara membuka pintu lebar lalu masuk dan menutup pintunya. sedangkan ayah dan anak itu pun beranjak dari duduknya menuju kamar. mau menguping ceritanya...
" ibu marah" tanya ara
" tidak, ibu hanya kecewa" tatapannya sendu. " sini duduk dekat ibu" ara pun menurut
" para pria memang tidak peka!" ara diam.menyimak
" kau tau ara, sebenarnya ibu kesepian disini" ara mengagguk
" mereka sibuk" lisa menghembuskan nafasnya kasar
ara memegang tangan lisa lalu mengusap ngusapnya memberi kekuatan. lisa melirik ara dan tersenyum
" ibu bukan tidak bahagia, ibu bersyukur dengan apa yang ibu punya. namun jika boleh memilih ibu ingin seperti dulu saat perusahaan ayahmu masih perusahan kecil tidak seperti sekarang. dia pulang tepat waktu, makan malam bersama, weekend kita liburan. tidak ada pekerjaan yang dibawa kerumah" air mata lisa lolos cepat cepat lisa hapus
" tapi lihat lah sekarang, ayahnya sibuk, kadang weekend juga kerja, kadang pulang cepat tapi diam diruang kerja. terkadang pulang larut malam dan ibu hanya melihat wajah ayah mu pagi hari saja. juga sekarang satria sudah dewasa, jarang dirumah, pulang sekolah kalau tidak ada les atau pelajaran tambahan dia pergi ke cafenya atau ke kantor ayahnya dan pulang malam"
diluar kamar,satria dan ayahnya menguping pembicaraan ara dan lisa mereka diam sesekali menghembuskan nafasnya kasar merasa bersalah pada wanita yang begitu mereka cintai
__ADS_1
"kamu tau kenapa ibu suka kumpul sama ibu ibu sosialita, berbelanja dan kesalon berlama lama. itu hanya untuk menglihkan rasa kesepian ibu dan cuci mata" lalu tersenyum
" untung aja iman ibu kuat, kalau tidak ibu mungkin kaya orang lain,,, jadi sugar mom, hahahaha!!"
brak....
ara dan lisa terlonjak kaget. heru masuk dengan membanting pintu dibelakangnya ada satria
" apa ibu bilang!!! mau jadi sugar mom" lisa melihat suaminya kesal menelan salivanya tapi ia pura pura biasa aja
" ayah gak kerja" berbicara dengan nada datar
" aku libur!!!"...lisa bingung
satria yang menerti situasi langsung menarik lengan ara membawanya keluar kamar.
" owh"....
" kalau sampai ibu punya niat seperti itu!! ayah jamin ibu gak bisa keluar kamar bahkan turun dari tempat tidur!"
lisa menatap suaminya tidak percaya, lisa mengerti dengan yang dimaksud suaminya. kini suaminya dalam mode cemburu akut.
heru mendekat kearah lisa dan membuat lisa berada dikukungannya, lisa diam dalam hati bersorak. ini yang diinginkannya dan terjadilah pertempuran suami istri diatas ranjang.
...----------------...
dalam kamar satria...
" itu ibu tidak apa apa?.." tanyanya khawatir karena melihat heru marah
"jangan khawatirkan mereka" jawab satria dan ara mengagguk
satria berjalan menuju sudut kamar lalu membawa satu buah kantong kresek besar oleh oleh yang dibelinya
"owh iya ini oleh oleh yang kamu minta" menyodorkan keresek itu pada ara
wajah ara berbinar binar menerima makanan yang dipesannya. sudah lama ia tidak makan makanan khas tempat tinggal ia dulu, ada rasa sedih. tapi ara tutupi ia tidak ingin satria tau
"makasih banyak satria... lalu mencium pipi satria tanpa sadar"
satria bengong, mengusap pipinya lalu tersenyum. satria pergi dengan membawa satu keresek besar penuh oleh oleh keluar kamar
" itu buat siapa" kata ara menghentikan langkahnya tanpa menoleh
" buat yang kerja disini" lalu pergi.
satria ingin cepat cepat pergi karena tidak ingin ara tau kalau wajahnya sudah blushing. lain dengan ara yang senang membongkar oleh oleh pemberian satria
__ADS_1