
Dua jam setelah momen manis yang Zain lalui di ruang tengah, Ia tampak tak terkendali. Ia bahkan tidak berani keluar kamar untuk menghindari dirinya agar tidak berhambur kedalam pelukan Yuna. Di mata Zain, wanita itu terlalu menggoda. Bahkan hanya dengan mendengar deru nafas Yuna saja akan membuatnya merasa hilang kendali. Sayangnya tak ada yang bisa Ia lakukan, posisinya membuat dirinya merasakan kesedihan.
"Ahhhh! Semua ini membuatku hilang akal."
"Apa yang harus ku lakukan?"
"Aku ingin bersamanya, tapi aku tidak bisa menahannya."
"Tuhan... Kenapa kau membuatku berada dalam posisi serba salah. Aku tahu masa laluku sangat buruk. Tapi ini, ahhhh!" Zain berteriak, Ia meremas rambutnya sambil mondar-mandir di kamarnya.
"Aku tahu, kehilangan Yuna adalah hal terburuk yang bisa terjadi dalam hidupku. Tapi, aku juga tidak bisa membuatnya hidup seperti ini."
"Hidup sebagai orang asing dalam satu atap adalah hal yang sangat menyedihkan. Aku tidak bisa membuatnya bahagia, tapi aku bisa membuatnya menyerah."
__ADS_1
"Yuna akan menyerah, dia akan meninggalkanku. Mungkin saja aku akan menangis, tapi ini keputusan terbaik yang bisa ku ambil." Ujar Zain sambil memantapkan tekad.
Lima menit kemudian, Zain keluar dari dalam kamarnya dan memutuskan untuk bicara baik-baik dengan Yuna, saat ini mereka sudah ada di ruang tengah, duduk di sofa berbeda. Mengingat bagaimana Zain mengabaikannya, Yuna hanya bisa menatap pria itu dengan tatapan kecewa.
"Katakan semua yang kau inginkan, aku mengantuk. Jika tidak ada yang penting, aku akan kembali kekamarku." Ucap Yuna ketus, Ia menatap ke arah lain. Ia benar-benar tidak ingin menatap Zain setelah kejadian dirinya di abaikan tadi.
"Kita sudah menikah, tapi..." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya. Ia menatap Yuna, ada kemarahan besar di mata wanitanya. Zain tahu itu, namun Ia lebih memilih untuk mengabaikan kemarahan itu. Dan memilih untuk tetap bicara, jika Ia tidak bicara sekarang, lalu kapan lagi? Sekarang adalah moment terbaik untuk mengungkapkan jati dirinya. Yuna harus tahu, dan ini menyangkut bubungan mereka di masa depan.
"Iya, aku tidak tahu apa pun tentang dirimu. Ucapanmu di depan Mama dan Papa hanya kebohongan. Janjimu di depan Kak Raina dan Kak Shawn juga kebohongan. Yang benar adalah, kau menikahimu hanya untuk mengabaikanku. Aku tidak ingin bicara denganmu." Ucap Yuna ketus. Ia bangun dari sofa kemudin berjalan menuju kamarnya. Belum sempat Ia mengunci pintu, Zain malah mendorong pintu itu hingga membuat Yuna kesal.
"Apa masalah mu?"
"Saat aku berusaha mendekat, kau malah mengabaikanku!"
__ADS_1
"Dan sekarang, saat aku mengabaikanmu, kenapa kau mengejarku?"
"Apa kau pikir aku tidak bisa hidup tanpa dirimu?"
"Kau benar-benar keterlaluan!" Oceh Yuna dengan nada suara pelan, Ia benar-benar marah sampai tidak ingin melihat Zain di kamarnya.
"Pergi dari sini!" Sambung Yuna lagi. Bukannya mengikuti arahan Yuna, Zain malah merangkul wanitanya cukup erat, Yuna yang berontak dan Zain yang tidak bisa menahan gerakan Yuna, membuat tubuh mereka jatuh di tempat tidur. Untuk sesaat, mereka saling menatap, saling mengunci dalam pandangan masing-masing.
Cesss!
Zain merasakan dadanya berdebar sangat cepat, Ia kembali menatap Yuna, intens. Bahkan tanpa mengedipkan mata. Yuna yang terlanjur kecewa hanya bisa diam tanpa menghiraukan Zain yang terus saja menggoda dengan tatapan nakalnya, Ia bahkan tidak tertarik dan tidak ingin berada di satu ruangan lagi dengan sosok rupawan Zain De Lucca. Apakah dia salah? Jawabannya mungkin saja tidak, itu karena Zain sendiri yang memulai segalanya, Yuna hanya tidak ingin merasa kecewa, dari pada dia di tolak lagi dan lagi, lebih baik dia sendiri yang mundur secara teratur. Hanya ini yang bisa Ia lakukan untuk menjaga harga dirinya sebagai seorang istri yang di abaikan.
...***...
__ADS_1