
Kesal!
Itu lah yang Aroon rasakan sejak pagi. Bagaimana tidak kesal, model yang biasanya bekerja sama dengan perusahaannya tiba-tiba tidak datang untuk pemotretan lantaran gaun yang di sediakan perancang tidak sesuai dengan seleranya. Bukankah itu konyol? Seharusnya model mengikuti keinginan dan kebijakan perusahaan, dan bukannya mengikuti keinginan mereka yang terkadang mudah sekali berubah-ubah.
"Sejak pagi Bos terlihat letih. Sebaiknya Bos pulang dan istirahat di rumah." Alex, asisten Aroon memberanikan diri untuk angkat bicara dari pada ia melihat Tuannya terus saja mendengus kesal. Ia bahkan tidak berselera untuk makan malam. Biasanya Aroon tidak pernah bertingkah seperti itu, namun hari ini? Ia merasa seolah semangat kerja telah menghilang dari dirinya.
Tanpa berucap sepatah kata, Aroon menatap Asistennya dengan tatapan setajam pedang yang siap mengiris nadi. Ia sedang tidak bersemangat, bukannya memberi kata-kata motivasi Alex malah memintanya untuk pulang. Bukankah itu menyebalkan? Iya, ini sangat menyebalkan. Lebih dari apa pun.
"Ma-maaf, Bos. Saya janji tidak akan mengatakannya lagi." Alex merunduk tanda menyesal. Tidak ingin mengatakan apa pun lagi, setelah meletakkan secangkir kopi panas di atas meja, Alex berniat meninggalkan Aroon di kantornya sendirian.
__ADS_1
"Hallo." Aroon mengangkat panggilan dari nomor Asing yang sejak tadi menghubunginya. Netranya membulat sempurna. Ia bahagia, akhirnya yang ia nanti-nantikan tiba juga. Mendapatkan panggilan dari wanita yang pernah di tabraknya. Si cantik dengan pakaian kurung lengkap dengan kain penutup kepala, gaya berpakaian yang nampak aneh di indra penglihatan seorang Aroon Maurer.
"Anda mungkin tidak mengingat saya. Nama saya, Yuna Dinata. Kita pernah bertemu di depan apartemen. Maksudku, aku orang ceroboh yang anda tabrak dulu." Ucap sosok indah di sebrang sana.
Jika boleh jujur, rasanya Aroon ingin berjingkrak-jingkrak mengekspresikan perasaan bahagianya. Namun ia urungkan keinginan itu saat melihat Alex masih berdiri di depan pintu, sedang menatap dirinya tersenyum seperti orang bodoh.
"Indah!" Lagi-lagi Aroon tidak bisa melepaskan senyumannya. Padahal, walau ia tersenyum selebar apa pun, sosok di sebrang sana tidak akan bisa melihat sikap sok manisnya.
"Ti-tidak ada. Maksudku, aku senang Nona Yuna menghubungiku. Akhirnya penantianku selama beberapa waktu ini berakhir juga." Balas Aroon cepat. Ia sedikit gugup. Yuna yang tidak mengerti ucapan lawan bicaranya hanya bisa mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Saya ingin bertanya, apa perusahaan Tuan butuh Desainer baru atau tidak?"
"Jika, iya. Saya ingin mencoba peruntungan di sana. Saya ingin melamar pekerjaan di Maurer group. Anda tidak perlu menerima saya jika pekerjaan saya tidak bagus."
"Saya janji tidak akan kecewa jika Tuan Aroon tidak menyukai hasil kerja saya. Saya hanya butuh satu kesempatan." Ucap Yuna meyakinkan. Dalam hati tak henti-hentinya Yuna memohon agar kesempatan itu datang padanya.
Sebenarnya, menjadi Asisten pribadi Zain sangat mudah dan bukan hal yang buruk. Yuna berpikir, jika ia menggantikan peran Asisten Zain, lalu apa yang akan di lakukan pria muda yang sejak lima tahun terakhir menjadi orang kepercayaan Zain De Lucca itu. Yang Yuna tahu, Zain sedikit keras kepala. Karena itu lah ia tidak punya pilihan lain selain mencari pekerjaan di tempat berbeda.
Sebagai istri CEO muda terkaya di Thailand, bisa saja Yuna menggunakan jarinya dan menunjuk orang lain untuk menyelesaikan semua keinginannya. Dan beruntungnya, Yuna bukan gadis manja yang akan memerintahkan orang lain dengan kuasanya, ia lebih memilih mengerjakan tugasnya sendiri selama ia bisa melakukannya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku memberi Nona Yuna kesempatan. Besok, silahkan datang ke kantor ku pukul sebelas siang. Saya menantikan kedatangan Nona Yuna." Pembicaraan malam ini berakhir dengan tawa lepas seorang Aroon Maurer. Ia terlalu bahagia karena mendapatkan panggilan dari wanita yang berhasil mencuri setiap malamnya. Cinta pada pandangan pertama, Aroon rasa itu lah jawabannya.
...***...