
Zain dan Yuna terlihat betah di dalam mobil, tak ada tanda-tanda kalau keduanya akan keluar dari mobil kemudian masuk ke dalam mansion untuk menemui Mommy yang sejak semalam menanti kedatangan mereka.
Dua makhluk indah itu terlihat menikmati percakapannya. Eits, tunggu dulu. Yang jelas itu bukan sekedar percakapan biasa, dari raut wajah keduanya mereka tampak terlibat perdebatan kecil. Biasa dalam hubungan rumah tangga, hal kecil bisa memantik perdebatan walau sebenarnya hal itu tidak di perlukan.
"Sayang, aku tidak suka itu." Ucap Zain mencoba menghibur Yuna, namun anehnya wanita itu terus saja bersikap jutek setelah mendengar pendapat suaminya.
"Jika kau tidak suka pilihanku. Sekarang katakan, nama apa yang kau suka? Jika nama itu terdengar indah di telingaku, aku janji akan menyetujuinya tanpa ada bantahan, sedikit pun." Ucap Zain sembari memegang jemari istri cantiknya. Setelah sekian detik memperlihatkan wajah merengut, kini Yuna tampak tersenyum bahagia.
Iya, kedua makhluk indah itu sedang berdebat untuk nama anak mereka yang bahkan belum lahir. Dan Zain lah yang memulai perdebatan yang kemudian di sambut hangat oleh Yuna yang tidak setuju dengan pilihan suaminya.
"Jangan ngambek lagi, sayang. Aku hanya ingin melihat wajah cantik ini selalu tersenyum." Cicit Zain sembari mencubit hidung bangir Yuna.
"Sekarang katakan, nama seindah apa yang di inginkan Yuna ku untuk putri kita?"
Yuna tampak berpikir, sebenarnya ia tidak pernah memikirkan itu, namun saat Zain menyebutkan beberapa nama, Yuna langsung menolaknya. Bukannya ia tidak suka, hanya saja rasanya seperti ada ganjalan di hatinya. Bukankah nama itu adalah doa? Dan Yuna ingin anaknya bersinar layaknya mentari yang selalu menghangatkan, dan ia ingin nama yang indah untuk itu.
"Fatimah Az-Zahra." Ucap Yuna dengan keyakinan penuh. Zain yang mendengarnya tampak mengerutkan kening. Bukan apa-apa, hanya saja nama itu terdengar tidak asing di telinganya.
__ADS_1
"Kau yakin? Sepertinya, nama itu banyak di gunakan oleh orang indonesia."
"Mm! Aku yakin, bahkan sangat yakin. Bukankah kau ingin putri kita sebaik Ummanya dan tidak mudah menyerah seperti Babanya?" Yuna bertanya, ia menangkup wajah Zain dengan jemarinya. Zain sendiri sedang memikirkan ucapan Yuna.
"Nama yang baik merupakan doa dan harapan terbaik setiap orang tua pada anak-anaknya. Dan Fatimah Az-Zahra adalah nama putri Rasulullah." Ucap Yuna mengukuhkan pendapatnya, Zain yang mendengarnya hanya bisa menatap Yuna dalam diam karena sejujurnya ia tidak mengetahui sebesar apa pengaruh nama itu sehingga istri cantiknya begitu menyukainya.
"Apa namanya hanya Fatimah Az-Zahra?"
"Bagaimana kalau aku menambahkannya?" Zain bertanya masih dengan wajah bingung, ia tidak setuju jika embel-embel nama belakangnya tidak di gabungkan dengan nama anaknya.
"Aku tahu kau akan setuju." Ucap Zain tanpa melepas senyuman menawan dari wajahnya, ia mengusap pipi Yuna, wajah cantik itu terlihat kelelahan.
"Dalam Al-Qur'an ada sebuah surah tentang perempuan. Dan aku tahu Yuna ku sering membaca surah itu, nama surah itu adalah An-nisa.
Jadi, singkatnya. Aku ingin menambahkan kata An-nisa ke dalam nama anak kita. Apa Yuna ku setuju?" Tidak ada balasan dari Yuna selain anggukan kepala pelan.
"Itu bagus. Aku setuju!" Jawab Yuna. Ia melayangkan kecupan singkatnya di bibir suaminya.
__ADS_1
"Jadi nama lengkapnya..." Ucapan Yuna menggantung di udara, ia tidak sabar ingin mendengar nama utuh untuk calon anak mereka.
"Kita tidak tahu jenis kelaminnya, walau seperti itu kita akan menentukan namanya hari ini.
Jika yang lahir adalah anak perempuan seperti yang ku inginkan, aku ingin nama putri kita adalah Fatimah Az-Zahra Alkea Nisa De Lucca." Ucap Zain sambil menggenggam jemari Yuna. Ia ingin Yuna setuju dengan pilihannya.
"Dan jika yang datang adalah anak laki-laki, aku ingin nama putra kita, Akara Arthit De Lucca. Apa Yuna ku setuju?"
"Aku setuju." Balas Yuna singkat.
Sedetik kemudian dua anak manusia itu saling berbalas ciuman, saling bertukar saliva untuk mengekspresikan cinta. Ciuman singkat itu berhasil membangkitkan hasrat Zain, namun buruknya aktivitas mereka terpaksa harus berakhir saat seseorang mengetuk kaca mobil dari luar, tentu saja orang itu tidak bisa melihat betapa putus asanya Zain saat hasrat dalam dirinya tak bisa ia tuntaskan. Melihat wajah kesal Zain membuat Yuna tersenyum tipis.
"Kita bisa melanjutkannya di lain waktu, sekarang kita harus masuk. Mommy pasti menunggu kedatangan kita." Ucap Yuna mencoba menenangkan suaminya, ia melayangkan kecupan singkat di puncak kepala Zain.
Kini dua anak manusia itu sedang memperbaiki bajunya yang terlihat kusut, setelah itu Zain keluar lebih dulu dan membuka pintu mobil untuk istri berharganya, Yuna Dinata.
...***...
__ADS_1