Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 32


__ADS_3

Di kamarnya, Zain tersenyum penuh kemenangan sembari berbaring di atas ranjang. Membayangkan wajah kesal Yuna membuatnya merasa terhibur. Seharian bekerja di perusahaan terkadang membuatnya kelelahan. Namun, mengerjai Yuna selalu saja membawa kesenangan tersendiri untuknya. Bahagia? Jangan tanya lagi, karena jawabannya tentu saja seorang Zain De Lucca sangat bahagia. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari ini.


"Haha! Kau tidak akan bisa melawan ku. Lagi pula, bagaimana kau akan mengalahkan ku saat kau sendiri tidak mengenal siapa pun." Celoteh Zain sambil membayangkan wajah cantik Yuna. Rasanya, ia tidak sabar menunggu datangnya hari esok, hari dimana dia akan mendapatkan kabar tentang penolakan yang akan Yuna terima.


Bukannya Zain bersikap jahat atau ingin mendoakan Yuna agar tidak mendapatkan pekerjaan. Hanya saja, ia ingin menghabiskan seluruh waktunya bersama dengan Yuna Dinata, entah itu di kantor atau di rumah.


Untuk Zain, selama ia berada di sisi Yuna, itu akan selalu membuatnya bahagia.


Sementara itu di kamar berbeda, atau tepatnya di kamar Yuna yang bersebelahan dengan kamar Zain De Lucca. Berjalan, mondar-mandir Yuna Dinata sembari memikirkan jalan keluar dari masalahnya. Iya, bagi Yuna ini adalah masalah, bagaimana mungkin dirinya bisa mendapatkan pekerjaan hanya dalam satu hari? Bagaimana jika dia sampai mendapatkan penolakan? Ini Negara asing, bukan Negaranya.


"Apa yang harus ku lakukan? Dari mana aku harus memulai segalanya?"


"Satu hari? Itu tidak akan cukup." Yuna menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia menatap ke langit-langit kamarnya tanpa bisa berhenti memikirkan ucapan Zain.

__ADS_1


"Santai, Yuna. Santai!"


"Tidak perlu terburu-buru. Aku yakin kau akan mendapatkan yang terbaik." Celoteh Yuna masih dalam keadaan berbaring di ranjang. Netranya membulat sempurna, memorinya mengingat sesuatu, samar-samar ia mengingat pemilik wajah tampan yang tidak ia ingat nama dan asal-usulnya. Senyuman pria itu tampak tulus sebelum mereka berpisah di pelataran rumah sakit beberapa pekan yang lalu.


"Ahh, iya. Orang itu."


"Aku yakin dia bisa membantuku."


Tanpa berpikir panjang Yuna langsung beringsut mendekat ke arah nakas, membuka laci kemudian mencari kertas kecil berbentuk segi empat yang sebelumnya ia abaikan. Kartu nama berwarna keemasan itu masih tersimpan di sana, tertimbun oleh beberapa buku yang Yuna selipkan sebelumnya.


"Alhamdulillah, kau masih ada di sini!"


"Kau membantuku dengan tidak pergi ke mana-mana." Yuna tersenyum sambil berputar-putar kemudian berakhir dengan menghempaskan tubuh rampingnya di ranjang yang besar. Padahal itu sangat sederhana, namun ia merasakan bahagia luar biasa sampai tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Ia merasa seolah sedang mendapatkan lotre bernilai milyaran rupiah. Konyol memang, namun itu lah kebenarannya.

__ADS_1


"Mmm!" Yuna berdeham sembari mengatur nafas, ia menekan satu per satu angka yang tertera di kartu nama itu di ponsel pintarnya.


Dua detik kemudian!


"Hallo." Ucap seseorang di sebrang sana, suaranya terdengar berat. Sepertinya Yuna mengganggu tidur siang orang itu.


"Ha-hallo. Ini dengan Yuna Dinata, apa saya bisa bicara dengan Tuan Aroon Maurer?"


"Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


"Anda mungkin tidak mengingat saya. Nama saya, Yuna Dinata. Kita pernah bertemu di depan apartemen. Maksudku, aku orang ceroboh yang anda tabrak dulu." Yuna menjelaskan panjang kali lebar. Padahal sebenarnya, ia tidak perlu menjelaskan apa pun karena mereka tidak sedekat itu untuk saling mengungkit masalah yang telah berlalu, masalah yang telah di selesaikan dengan cara berdamai. Memang dasar Yuna, hanya cara ini yang bisa ia pikirkan agar dirinya tidak perlu menjadi Asisten pribadi suminya. Zain De Lucca, pria tampan dengan segudang pesona indah yang terdapat dalam dirinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2