Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (89)


__ADS_3

Aroma kopi menguar dari cangkir yang terisi penuh. Yuna meletakkan kopi itu di atas nakas. Ia menyebikkan bibir tipisnya seraya menatap pada tubuh kekar yang masih terlelap di bawah selimut tebal.


Zain masih terlelap setelah semalaman bergadang karena pekerjaan. Ia kembali ke kamar pukul empat pagi, itu pun ia harus terbangun lagi untuk shalat subuh. Bekerja itu penting, namun sholat itu jauh lebih penting. Hanya orang bodoh dan rugi yang menukar sholatnya dengan dunia yang hanya sementara.


"Sayang, ayo bangun." Yuna berucap sembari mengusap kepala Zain dengan penuh kasih sayang. Sesekali ia bahkan memainkan hidung bangir suaminya, Zain yang malang karena pagi ini Yuna sedang menggodanya.


"Hidung ini milik ku, bibir ini milikku, dan semua yang ada dalam dirimu adalah milikku. Kau harus menjaganya, jangan sampai wanita lain mengambil posisiku. Dan satu lagi, jika dalam hitungan ketiga kau tidak bangun maka aku akan pergi, aku akan meninggalkanmu sampai kau tidak akan bisa menemukan bayanganku." Celoteh Yuna sambil berdiri dari ranjang yang ia duduki sejak dua menit terakhir.


Baru saja Yuna berdiri, jemari lembut Zain lansung menyambar tangannya, Zain menarik Yuna hingga wanita itu terjatuh ke dalam pelukan Zain De Lucca. Yuna tidak bisa bergerak, Zain menguncinya dalam pelukan hangatnya.


"Pagi yang indah, dan secangkir kopi yang di buat istri cantikku jauh lebih berharga dari miliyaran harta yang ku punya. Aku rela pura-pura tidur setiap pagi hanya untuk mendapatkan perlakuan manismu. Aku suka saat jemari lembut Yuna ku menyentuh seluruh wajah ku. Rasanya, dunia ini tercipta hanya untukku.


Terima kasih karena memilih ku menjadi bagian dalam hidup mu. Aku akan membuat mu bahagia, menghormati mu sepanjang hidup ku. Dan, aku, Zain De Lucca tidak akan pernah meragukan Yuna ku." Ujar Zain masih dalam keadaan mengeratkan pelukannya, Yuna tersenyum, ia tersentuh mendengar ucapan meyakinkan suaminya. Yuna balas memeluk Zain, kini mereka bisa mendengar irama degup jantung masing-masing.


"Aku percaya pada Zain, ku. Apa sekarang kita bisa bangun dan sarapan bersama? Aku lapar." Ujar Yuna dengan suara manja. Perlahan, Zain mulai membuka mata. Netra birunya langsung di sambut oleh pemandangan luar biasa, kecantikan sempurna istrinya menghiasi matanya, bibir tipis merah muda itu menarik perhatiannya, tanpa berpikir panjang Zain langsung mendaratkan ciuman singkatnya di sana. Tidak puas, Zain kembali menempelkan bibirnya di bibir tipis milik Yuna, kali ini dengan kecupan yang lebih menuntut.


"Tuan, anda sudah sadar." Wajah panik Ben berubah. Ia yang sejak lima jam terakhir merasakan ke takutan akhirnya bisa tenang juga.


Yuna dan kopi. Ternyata itu hanya mimpi. Zain bergumam di dalam hatinya. Ia mulai membuka mata, kepalanya sangat sakit, wajah tampannya terlihat pucat, ia masih tak bersemangat. Separuh jiwanya telah menghilang. Apa lagi yang lebih menakutkan dari ini? Sakitnya di tinggal oleh orang yang kita sayang tak bisa di bayangkan. Sakit, sangat sakit.

__ADS_1


"Tuan, apa anda baik-baik saja?"


"Syukurlah, tuan sudah sadar. Saya lega, tuan." Ben tidak bohong. Dia memang merasa lega. Hal itu nampak jelas dari senyuman lebarnya.


Zain masih mengumpulkan kepingan-kepingan ingatannya, netra birunya menyala, ingatannya tertuju pada surat yang ia baca. Tubuhnya terasa kaku namun ia berusaha keras untuk bangun, jauh dari wanitanya lebih menakutkan dari kematian. Lalu apa bedanya jika sekarang ia meninggalkan ranjang empuknya dan bergegas mencari Yuna. Ia harus menemukan wanitanya agar hidupnya normal kembali.


"Tuan mau kemana?"


"Tuan harus istirahat, dokter bilang tuan tidak boleh kemana-mana." Ben berusaha mencegah Zain yang ingin melepaskan selang inpus dari tangannya.


"Lepaskan aku Ben. Atau akan buruk untuk mu." Sentak Zain dengan sorot mata setajam belati, ia ingin menangis namun ia berusaha keras menahan diri agar tetesan bening itu tidak mendarat dari mata indahnya.


"Yuna, sayang. Tunggu aku." Ujar Zain dengan suara nyaris tak terdengar, ia berjalan pelan meninggalkan Ben yang masih berdiri mematung. Ingin mencegah pun percuma, tuannya tidak akan mendengar siapa pun. Yang bisa ia lakukan hanya berdiri di sampingnya tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.


Mommy Zain tidak suka dengan hal yang berlebihan. Dan dalam urusan dekorasi, wanita paruh baya itu sangat menyukai gaya klasik di bagian ruang tamunya.


"Sayang, kau datang?" Wanita paruh baya itu melepas buku yang ada di tangannya, buku yang ia baca lebih dari sepuluh menit.


"Di mana menantu Mommy? Kenapa kau tidak datang bersamanya? Bukan hanya Daddy yang rindu menantunya, Mommy juga."

__ADS_1


Mendengar ucapan Mommy-nya, Zain langsung menghentikan langkah kakinya. Ia berpikir Yuna ada di rumah ke dua orang tuanya karena itu Zain langsung mengunjungi mansion tempat ia menghabiskan masa kecilnya dulu.


Wajah Zain berubah, ia terlihat ke takutan. Sekujur tubuhnya tiba-tiba luruh, ia bersimpuh di lantai dengan derai air mata. Dan hal itu membuat Mommy dan Daddy-nya berlari ke arahnya.


"Ke-kenapa sayang? Ada apa? Katakan pada Mommy!"


"Zain, nak. Ada apa dengan mu? Kenapa kau menangis?" Daddy bertanya, ia memegang kedua lengan Zain, membantu pria pemilik iris biru itu untuk berdiri.


"Apa hal buruk terjadi pada Yuna?" Mommy terlihat khawatir, ia bertanya sambil menatap wajah merunduk Zain.


"Mommy..." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya. Ia bahkan tidak sanggup menatap wajah Mommy atau Dady-nya, ia terlalu takut mengabarkan beritanya.


Zain yakin, jika kedua orang tuanya tahu Yuna pergi, itu akan menghancurkan hati Mommy dan Daddy-nya. Zain terdiam, dalam hati ia berusaha merangkai kata. Berharap setelah mengabarkan beritanya Zain tidak akan menerima kemarahan.


"Mommy, maafkan aku." Zain kembali membuka suara, ia memberanikan diri menatap wajah cantik Mommy-nya.


"Maaf, untuk apa?" Kali ini Daddy yang bertanya.


"Maaf untuk apa? Apa kau melakukan ke salahan fatal? Katakan pada kami."

__ADS_1


Untuk sesaat Zain tidak bisa membuka mulutnya. Semua ini terlalu berat untuknya. Namun mau tidak mau dia harus berterus terang pada Mommy dan Daddy, dengan begitu beban yang menghimpit hatinya akan sedikit berkurang.


...***...


__ADS_2