
Setelah makan malam, Shawn dan Raina kembali kekamarnya. Begitu juga dengan Zain dan Yuna. Dua pasangan muda itu terlihat larut dalam diam, Zain yang masih merasakan penyesalan mendalam hanya bisa duduk diam, rasanya ia ingin memeluk tubuh ramping istrinya, mengekspresikan berjuta-juta rasa cintanya, sayangnya ia tidak bisa melakukan itu untuk yang kedua kalinya, lepas kontrol menjadi alasannya, Zain tidak ingin lepas kontrol lagi, membayangkan Yuna akan menderita seumur hidupnya membuat Zain ketakun sampai hampir tiada.
"Kenapa masih duduk disana?"
"Apa suami tampanku tidak merasakan kantuk?" Yuna bertanya sambil menepuk ranjang yang ada di sebelahnya. Toh selama Shawn dan Raina berkunjung ke Thailand mereka selalu tidur di ranjang yang sama, begitupun sekarang, Yuna tidak ingin ada perbedaan.
"Ayo kita tidur, aku sangat-sangat mengantuk." Ajak Yuna dengan suara manja. Sedetik kemudian ia mulai menutup bibirnya dengan tangan kanannya karena saat ini ia sedang berpura-pura menguap.
"Apa kau tidak akan mendengarku? Aku bilang aku mengantuk." Sambung Yuna lagi, sebenarnya ia belum terlalu mengantuk, hanya saja ia tidak ingin Zain merasa bersalah atas apa yang telah mereka lakukan sore tadi. Melihat Zain murung membuatnya hilang kendali, ia hanya ingin menjadi penawar bagi pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu, hari ini dan nanti. Jika perlu untuk selamanya.
__ADS_1
Zain masih membisu, duduk diam di sofa tanpa melakukan pergerakan apapun. Keinginan hatinya ingin melompat kearah Yuna, memadu kasih bersamanya, sayangnya mereka tidak sama seperti pasangan lainnya. Menghindar, hanya satu kata itu yang bisa Zain lakukan demi kebaikan bersama untuk keduanya.
"Aku bilang aku mengantuk, ayo kita..."
"Jika kau mengantuk, kau bisa tidur lebih dulu. Untuk apa bertingkah seperti bocah, apa kau ingin aku memangkumu? Tidak akan." Ujar Zain dengan suara lantang, ia menatap tajam kearah Yuna yang saat ini tampak terkejut dengan ucapan ketusnya.
Sedih! Hanya satu kata itu yang kini memenuhi diri Yuna, keinginan hatinya untuk menghibur pria itu justru berujung pada dirinya yang merasakan kesedihan mendalam karena ucapan yang Zain lontarkan. Tanpa berucap sepatah kata, Yuna mulai beranjak dari ranjang kemudian berjalan kearah pintu, ia keluar tanpa memperdulikan Zain yang terus menatapnya.
"Kau mau kemana?"
__ADS_1
"Untuk apa bertanya, bukankah kau ingin mengusirku dari kamarmu?" Balas Yuna ketus. Yuna kesal, dan ia ingin mencari udara segar agar hatinya tidak terlalu larut dalam kemarahan. Setelah mengatakan itu Yuna benar-benar meninggalkan Zain sendian, ia berjalan kesetiap sudut mansion Lucca, namun tak ada tempat yang bisa ia gunakan untuk menyembunyikan kesedihannya, jadilah Yuna duduk di ruang tengah, duduk sendiri di temani minimnya cahaya. Duduk tanpa siapapun membuatnya semakin merasakan kesedihan. Yuna ingin berteriak, dia ingin menangis sekencang-kencangnya. Namun pertanyaannya, bagaimana dia bisa melakukan itu saat kakaknya berada di bawah atap yang sama bersamanya?
Kenapa kau berkata seperti itu Zain? Kau melukaiku. Kau menghancurkan impian indahku bersamamu. Kesedihan ini, dengan cara apa aku menghilangkannya? Yuna bergumam di dalam hatinya, ia memejamkan mata untuk merasakan sebesar apa kesedihan yang memenuhi pori-pori tubuhnya.
"Kenapa kau disini? Apa kau tidak mengantuk?"
Yuna yang sedari tadi duduk sambil memeluk lutut terlonjak, ia terkejut melihat kehadiran sosok yang berdiri di depannya sambil membawa air di tangannya.
...***...
__ADS_1