
Selama dua pekan ini, Zain menghabiskan seluruh waktunya hanya di rumah saja. Untuk pekerjaan, ia serahkan pada asistennya, jika ada yang mendesak, ia memerintahkan asistennya mengirimkan E-mail, atau menemuinya secara langsung di rumah.
Bagi seorang Zain De Lucca yang sebelumnya selalu mementingkan pekerjaan di atas segalanya, kini ia mulai mengabaikan semua hal yang tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan Yunanya. Sungguh, orang percaya atau tidak, bagi Zain, Yuna lah yang terpenting dan paling utama. Ia bisa saja mengalami kehilangan dalam hidup ini dan sanggup berlapang dada. Kecuali satu hal, ia tidak akan sanggup melihat belahan Jiwanya menjauh darinya.
"Tii-rak. Bagaimana dengan gaun ini? Apa ini terlihat indah?" Yuna bertanya sambil berputar.
Dua jam berlalu sejak mereka tiba di sebuah Butiq yang ada di pusat perbelanjaan. Entah kenapa untuk urusan belanja, Yuna selalu merasa waktunya tidak akan cukup. Seandainya dua sahabat baiknya yang saat ini ada di Indonesia ada bersamanya, mungkin tidak akan sesulit ini untuk menentukan pilihan karena ia mempunyai teman bicara.
"Beautiful." Jawab Zain singkat, ia mengangkat tangannya dan membuat simbol hati dengan jemarinya.
Jika kau secantik itu, aku takut pria lain akan menatap Mu dengan tatapan cinta. Tidak boleh! Hanya aku yang berhak menatap Mu seperti itu. Batin Zain tanpa bisa melepas tatapannya dari wajah sempurna Yuna Dinata. Tubuh ramping itu semakin terlihat sempurna setelah di balut oleh gaun biru yang menempel padanya.
__ADS_1
Berbelanja!
Biasanya Zain sangat membenci satu kata itu. Sebisanya, ia bahkan selalu menolak Mommy-nya jika sesekali Mommy-nya meminta pergi untuk menghabiskan waktu dan membeli barang-barang mewah dengan harga fantastis. Bukan apa-apa, Zain hanya benci keramaian. Dan lihatlah sekarang, dia berakhir di tempat yang ia benci bersama orang yang sangat ia cintai. Tak ada rasa bosan maupun kekesalan. Yang ada hanya cinta yang setiap detiknya semakin bertambah dan semakin membesar.
Begitulah Cinta, ia akan membuat Mu bahagia, ia juga akan membuat Mu tersenyum, namun cinta itu pun sanggup membuat Mu menangis dalam duka. Semoga saja tidak ada kisah pilu dalam kisah Zain De Lucca dan Yuna Dinata.
"Aku sudah mendapatkan semua barang yang ku inginkan. Aku yakin Mama dan Papa akan menyukai oleh-oleh pilihan kita." Celoteh Yuna sembari membayangkan senyuman Mama dan Papanya.
"Sayang, jika kau masih menginginkan Kakak Ipar menemani Mu, kenapa kau tidak meminta mereka tinggal lebih lama lagi? Aku senang mereka ada di sini, hidupku terasa berwarna dengan kehadiran mereka." Ucap Zain sembari membelai lebut wajah mulus Yuna.
"Aku ingin melakukan itu, tapi sayangnya aku tidak bisa meminta lebih dari waktu yang Kak Shawn dan Kak Raina berikan, dua minggu itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula, Kak Shawn harus bekerja." Cicit Yuna dengan wajah sedihnya. Rasanya, Zain ingin memeluk Yuna. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan itu mengingat penjaga Butiq terus saja menatap mereka.
__ADS_1
"Aku akan kekamar kecil, setelah itu kita akan pulang." Ujar Yuna sambil tersenyum tipis. Yuna pergi setelah melihat Zain menganggukkan kepala memberikan izinnya.
"Aku tidak perduli. Aku sudah mengatakannya dan aku tidak akan pernah mengubah keputusan ku. Untuk apa kau meminta pekerjaan jika kau tidak bisa melakulan apa pun. Dasar tidak berguna." Bentak seorang wanita dari sambungan telpon.
Yuna yang saat ini masih di dalam toilet terlihat menghela nafas kasar, ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita kasar yang hobinya berteriak.
"Hah, dia?" Ucap Yuna lirih sambil menatap pantulan wajah cantik wanita yang ada di depannya melalui cermin.
Aku tidak akan bisa berteman dengan penyihir ini. Di depan kamera dia tersenyum layaknya wanita tanpa dosa. Dan di belakang, dia bertingkah seperti penyihir jahat. Gumam Yuna di dalam hatinya, entah kenapa ia mulai merinding. Seolah wanita yang saat ini belum menyadari kehadirannya itu membawa aura kegelapan untuk masa depannya.
...***...
__ADS_1