
Dua hari berlalu sejak Yuna memutuskan bersikap acuh pada Zain, saat ini Ia sedang berpikir keras, apa yang harus Ia lakukan? Dan kemana Ia harus pergi? Tidak ada pilihan yang bisa Ia ambil selain keluar mencari pekerjaan, Zain yang Ia pikir akan membahagiakannya malah membuatnya merasa menyedihkan.
Bukan Yuna namanya jika Ia hanya akan berpangku tangan sambil menangis di kamar, sejak kecil Ia di didik menjadi wanita tangguh walau terkadang Ia sering bersikap manja.
"Dompet sudah, berpenampilan menarikpun sudah. Lalu, apa yang kurang? Aku merasa, aku melupakan sesuatu!" Ucap Yuna sambil menggigit bibir bawahnya.
"Iya, tidak ada yang kurang." Ucap Yuna menegaskan. Sebelum Ia keluar kamar, sekali lagi Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Alhamdulillah." Ucap Yuna mengekspresikan rasa syukurnya, mengagumi kecantikan yang ada dalam dirinya, kecantikan yang selalu Zain elu-elukan sebelum mereka menikah.
"Kau mau kemana?" Zain bertanya begitu melihat pintu kamar Yuna terbuka, Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja.
__ADS_1
"Bertemu teman!" Balas Yuna seadanya, Ia tidak menyangka Zain akan bertanya setelah pria tampan itu mendeklarasikan mereka akan saling mengabaikan.
"Haha! Teman? Teman yang mana?" Tawa Zain terdengar renyah, seolah sedang merendahkan Yuna, padahal sebenarnya Zain tidak ingin mengatakan itu.
"Tentu saja teman spesial, memangnya apa urusannya denganmu? Kau meminta ku untuk tidak menanyakan apa pun, kan? Maka hal yang sama berlaku juga untukmu!" Ujar Yuna sambil menyebikkan bibir tipisnya.
Seandainya Zain bisa, rasanya Ia ingin melahap bibir tipis istrinya, merasakan bibir lembut itu sembari berucap 'kau sangat cantik' sayangnya ucapan itu hanya akan bersemayam di rongga dadanya tanpa bisa mengutarakan isi hatinya. Mau bagaimana lagi? Semuanya masih terasa bagai mimpi buruk, mimpi buruk Zain karena tidak bisa mendekati Yuna bahkan setelah gadis cantik itu berstatus sebagai miliknya.
"Ini bukan negaramu, jadi kau tidak boleh pergi sendiri."
Mendengar ucapan Zain, Yuna mendengus kesal. Bagaimana bisa seorang Zain De Lucca yang Yuna kenal sebagai sosok yang cerdas bisa berpikiran sempit tentang dirinya? Yuna tidak akan bisa mengubah jalan pikiran pria rupawan yang ada di depannya itu, karena Zain terlanjur membatasi dirinya dari Yuna.
__ADS_1
"Aku akan pergi, jadi kau tidak berhak menahanku." Ucap Yuna ketus, Ia melangkah keluar apartemen meninggalkan Zain dengan segala larangan tidak masuk akalnya..
Dia memintaku tetap dirumah, sementara dia diam saat aku bilang akan membayar sewa rumah padanya, dasar aneh. Gerutu Yuna di dalam hatinya, Ia berjalan dengan tergesa-gesa sampai tidak menyadari sebuah mobil hampir saja menabraknya.
Tin.Tin.Tin.
Ahhhhhh!
Gdebukkk!
Karena terkejut, Yuna tidak bisa menahan dirinya. Ia terjatuh tepat di depan mobil yang berhenti secara mendadak. Untungnya Ia tidak tertabrak. Namun, karena panik kaki Yuna terkilir, Ia tidak bisa bergerak. Nafasnya turun naik, dadanya sesak.
__ADS_1
"Astagfirullah. Aku hampir saja tiada. Apa semua ini karena aku membangkan keinginan Prof.Zain? Dia memintaku tetap dirumah. Tapi, aku bahkan tidak menghiraukan ucapannya." Gumam Yuna sambil memegang dadanya, jantungnya berdebar sangat cepat.
...***...