
Suasana di meja nomer sembilan terdengar riuh oleh tawa khas Aroon Maurer. Perutnya terasa bagai di masuki ribuan kupu-kupu, ia mulai tertawa saat mendengar ucapan Zain yang terus saja menyanjung wanitanya.
Dia sangat cantik. Lemah lembut. Baik hati. Penyayang. Murah senyum. Cerdas. Dan masih banyak lagi ucapan sanjungan yang keluar dari lisan seorang Zain De Lucca untuk wanita hebatnya.
"Ayo lah bro. Kau membuat ku ingin menangis bahkan saat aku sedang tertawa." Cicit Aroon setelah ia berhasil mengendalikan tawanya.
"Cih. Kau saja yang terlalu norak." Gerutu Zain dengan wajah kesal.
Dua pria tampan itu bahkan tidak memperdulikan Ploy yang semakin lama semakin kesal. Jika Ploy bisa, ia ingin menggebrak meja hanya untuk menghentikan pembicaraan tidak berguna ini. Sayang sekali, ia benar-benar harus menahan dirinya agar kata-kata kasar yang hampir keluar dari tenggorokannya tidak akan memperburuk citranya di depan publik. Lagi-lagi dia berusaha mempertahankan citra baiknya, citra yang sebenarnya sudah buruk sejak awal.
__ADS_1
"Haha! Iya, baiklah. Sekarang katakan, dimana Nona sempurna Mu? Aku ingin melihat...." Ucapan Aroon tertahan di tenggorokannya saat ia melihat sosok yang sangat ia rindukan sejak sore. Netranya tak bisa berkedip saat menyadari pesona indah yang di tawarkan di depannya. Tawanya menghilang seolah di telan Bumi. Jangankan tertawa, ia bahkan tidak bisa menelan saliva-nya. Ia merasa tercekik.
Melihat ekspresi aneh yang di tunjukkan Aroon membuat Zain dan Ploy menatap ke arah objek yang sedang di tatap sahabatnya itu. Zain tersenyum saat menyadari Bidadarinya sudah tiba. Sementara Ploy? Jangan tanya lagi kondisi hatinya, ia ingin memaki dengan kata-kata kasar yang bahkan tidak pernah di ucapkan oleh seorang penjahat sekali pun.
"Kau lihat?"
"Kau bahkan tidak bisa berkedip saat menatapnya!"
"Maaf, aku terlambat." Ucap Yuna menyesal. Iya, dia memang pantas meminta maaf, sepuluh menit berlalu dan setelah ia menutup panggilan vidio-nya dengan Kakak dan Kakak Ipar-nya barulah ia meninggalkan mobil. Beruntung Zain bisa memahaminya. Jika tidak? Pria itu pasti akan marah karena istrinya terlalu banyak menghabiskan waktu saat ia sendiri merasakan lapar.
__ADS_1
"A-apa yang kau lakukan di sini?"
"Bukankah tadi siang aku meminta Mu untuk datang? Dan dengan tegas kau menolaknya."
"La-lalu apa yang kau lakukan di sini?" Aroon mencecar Yuna dengan pertanyaan singkatnya, ia masih belum mengerti dengan keadaan yang terpampang di depannya. Padahal tanpa ia bertanya ia sudah tahu jawabannya. Hanya saja, Aroon ingin mendengar jawaban langsung dari Yuna Dinata untuk menghilangkan kebingungan yang menyelimuti hatinya.
Apa ini? Aku benar-benar tidak percaya! Bagaimana bisa aku mencintai istri sahabat ku sendiri. Oh God. Ini benar-benar memalukan. Gumam Aroon di dalam hatinya, ia berusaha keras tidak menunjukkan kebodohannya di depan Zain dan Ploy.
"Dasar payah! Tentu saja dia mengikuti ku, aku yang memintanya karena dia istri Ku." Jawab Zain dengan cepat. Sama seperti Aroon, Yuna juga terlihat terkejut. Ia tidak pernah menyangka akan duduk satu meja dengan Aroon. Bos yang tidak pernah ia tahu sebagai sahabat dekat suami tercintanya, Zain De Lucca.
__ADS_1
...***...