
Makan malam yang tadinya romantis dengan sikap manis Zain pada Yuna berubah kaku setelah pembicaraan mengenai anak masuk dalam percakapan mereka. Bukan hanya itu, Zain berubah menjadi pendiam, wajahnya juga terlihat pucat. Dan hal itu membuat Yuna khawatir sehingga ia memutuskan untuk segera pulang.
Makan malam romantis yang telah Zain susun sejak pagi merubah menjadi ajang tamparan keras untuk dirinya hanya gara-gara pembicaraan mengenai anak. Selama dalam perjalanan pulang mereka bahkan tidak terlibat pembicaraan apa pun, baik Yuna atau Zain sama-sama memilih untuk diam.Yuna yang kasihan pada suaminya ingin sekali memeluknya dan mengatakan 'Sayang, semuanya akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.' Sayang sekali, ucapan itu hanya terkatub di bibirnya. Dan Yuna pun merasakan kesedihan yang di rasakan Zain, kesedihan yang dua kali lipat lebih besar dari kesedihan yang Zain rasakan saat ini.
Setelah tiba di Mansion Lucca, Zain langsung masuk kedalam kamarnya.
"Maafkan aku Zain, maafkan aku!" Ujar Yuna di depan pintu kamar Zain. Walau ia mengatakannya ribuan kali, tetap saja Zain tidak akan tahu isi hatinya karena ia hanya mengatakannya di dalam hati tanpa berani mengeluarkan suara atau pun mengetuk pintu kamar Zain.
Sementara itu di dalam kamarnya, Zain menangis tanpa mengeluarkan suara. Hatinya terasa di cabik-cabik mengingat ucapan singkat Yuna yang menginginkan anak darinya.
__ADS_1
"Kau tidak berguna Zain. Kau tidak berguna." Teriak Zain dengan nada suara tinggi. Ia menatap pantulan wajah sedihnya di cermin yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sedetik kemudian.
Pranggggg!
Zain melempar cermin itu dengan vas bunga yang ada di sisi kiri tempatnya berdiri. Seketika, cermin seukuran pintu itu berubah menjadi pecahan-pecahan kecil yang berserakan di lantai kamarnya.
Zain kembali berteriak dengan nada suara tinggi. mengekspresikan kesedihannya dengan tangisan dan teriakan keras. Berharap duka yang menyelimuti hatinya akan menguap ke-angkasa. Dan di saat seperti ini, Zain hanya membutuhkan pelukan hangat seorang Yuna Dinata, istri tercintanya yang jauh lebih berharga dari permata yang ada di semesta.
__ADS_1
"Maafkan aku Yuna. Aku benar-benar minta maaf. Seandainya kita tidak pernah bertemu, maka luka ini tidak akan pernah kau alami. Bukan kau yang salah, tapi aku lah yang gagal. Aku yang tidak berguna, dan aku yang buruk. Masa lalu ku lebih hitam dari lupur dan aku tidak ingin kau berada dalam masa buruk seperti yang ku alami saat ini." Cicit Zain sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.
Setelah berhasil menguasai dirinya, Zain berjalan ke arah nakas. Tangannya yang berdarah, perlahan mulai membuka laci kemudian mengeluarkan amplop yang tersimpan di dalamnya. Ia menatap amplop itu dengan tatapan tajam, semua kekacauan ini berasal dari laporan menyebalkan yang ada di tangannya.
Sejak menikahi Yuna, ia bahagia, ia merasa di berkati, dan ia merasa bangga telah mendapatkan wanita tercantik di dunia sebagai pendamping hidupnya. Tapi apa ini? Semuanya menjadi kacau sehari setelah akad nikahnya, ia bahkan tidak bisa mendekati Yuna walau ia ingin melakukannya. Hasratnya terhadap istrinya terpaksa ia kubur dalam-dalam hanya karena tidak ingin mencemari Yuna-nya dengan kelemahan yang ada di dalam dirinya. Sepasang pengantin yang harusnya tidur satu ranjang dan saling memeluk dalam bahagia tidak bisa Zain rasakan dan ini merupakan kutukan terbesar di dalam hidupnya.
Huaaaaaaa!
Zain kembali berteriak dengan nada suara tinggi. Sekujur tubuhnya terasa bagai di tusuk belati. Di saat seperti ini masih saja ia berharap Yuna-nya akan masuk kedalam kamar untuk menenangkan dirinya. Dan buruknya, sekuat apa pun ia berteriak, Yuna tidak akan bisa mendengar suaranya karena kamarnya memang kedap suara.
__ADS_1
...***...