
Acara yang di nanti-nanti akhirnya tiba juga. Acara bergengsi yang di adakan oleh prusahaan yang di kepalai oleh seorang Zain De Lucca. Menjadi acara yang paling di nanti karena di dalamnya terdapat banyak kejutan besar. Dan tentunya bertabur bintang.
Yuna yang baru tiba terlihat sedang mengedarkan pandangannya, matanya hanya mencari satu sosok yakni sosok Zain De Lucca, pria tampan pemilik iris biru itu belum terlihat hingga lima menit berlalu sejak Yuna menginjakkan kakinya di Ballroom Hotel.
Zain dan Yuna berangkat menggunakan mobil berbeda. Secara khusus, Zain meminta sopirnya untuk mengantar Yuna menuju Hotel tempat acara karena ia harus bertemu dengan rekan bisnisnya yang baru saja tiba dari Jepang.
"Dimana Prof.Zain?"
"Apa dia berencana akan meninggalkanku? Tapi, untuk apa?" Yuna mendengus kesal sembari berjalan pelan menembus para tamu undangan.
Asing!
__ADS_1
Hanya satu kata itu yang kini memenuhi rongga dada seorang Yuna Dinata. Bagaimana tidak? Di antara ratusan bahkan ribuan tamu undangan, hanya dirinyalah yang menggunakan pakaian tertutup, atau tepatnya gamis seperti yang sering di gunakan Kakak iparnya di Indonesia, Raina Salsadila.
Dari jarak sepuluh langkah, Yuna bisa melihat seorang wanita cantik berdiri sambil memamerkam senyuman menawan, ditangan kirinya, ia memegang minuman beralkohol. Ia tampak cantik dengan polesan make up yang tidak terlalu tebal, namun yang membuat Yuna merinding, wanita itu menggunakan pakaian terbuka, atau tepatnya gaun malam yang bisa mengundang pria nakal untuk mendekatinya.
"Apa wanita itu masih waras?"
"Kenapa menggunakan pakaian seperti itu di acara sebesar ini? Apa kedua orang tuanya tidak memarahinya? Aset berharganya hampir loncat keluar!" Ucap Yuna sambil menoleh kearah lain. Baru saja Yuna menoleh kearah lain, tiba-tiba netranya menangkap sosok yang sejak tadi ia cari.
Zain De Lucca, sosok pemilik iris biru itu sedang bicara dengan wanita yang sejak tadi membuat Yuna merinding melihat pakaiannya, mereka tidak bicara berdua, ada sosok lain juga disana. Hanya saja, tubuh Zain sedikit terhalang salah satu rekannya.
Baru saja Yuna berniat akan pergi, tanpa ia sadari seorang anak kecil menabraknya hingga membuat gamis biru yang ia gunakan terkena tumpahan ice cream. Ingin marahpun tiada berguna, ingin tetap di tengah pesta rasanya sangat mustahil.
__ADS_1
"Maafkan putra saya, Nyonya. Dia memang nakal!" Ucap wanita paruh baya sambil menepuk tubuh gembul putranya.
"Tidak apa-apa. Dia hanya anak kecil." Balas Yuna sambil tersenyum tipis. Sepersekian detik kemudian, Yuna mulai keluar dari kerumunan, ia berjalan menuju toilet untuk membersihkan gamisnya. Sayang sekali, nodanya tidak bisa hilang berapa kali pun ia mencoba membersihkannya.
Sementara itu di tempat acara, setelah bicara dengan model pilihannya, Zain mencari keberadaan Yuna.
"Dimana kau Yuna Dinata? Apa dia belum datang? Atau dia justru melarikan diri. Tidak mungkin!" Celetuk Zain sambil duduk di meja yang berdekatan dengan meja tempat Ploy Nan duduk.
"Kau bilang istrimu ada disini? Dimana dia?Aku ingin bertemu dengannya. Atau kau sengaja berbohong padaku tentang pernikahan agar aku berhenti mengincarmu." Seloroh Ploy Nan dengan senyum menggoda.
"Ploy, hentikan!"
__ADS_1
"Iya, baiklah. Akan ku hentikan." Lagi-lagi Ploy Nan mencoba menggoda Zain dengan tindakan manisnya. Bibirnya mengatakan hal berbeda, namun hatinya mengatakan tidak akan.
...***...