Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Curhatan Perempuan


__ADS_3

"Kenapa kakak belum tidur?" Yuna menoleh kearah kakak iparnya, ia yang sedari tadi memeluk lututnya terlihat salah tingkah. Yuna yakin kakak iparnya pasti akan mengadilinya hingga bibirnya terbuka untuk mengatakan kebenaran. Memikirkan hal itu membuat Yuna merinding, bagaimana kalau itu benar-benar terjadi? Jika itu sampai terjadi, Mama dan Papanya tidak akan tinggal diam. Ia dan Zain pasti akan di pisahkan. Apakah cinta yang belum lengkap ini akan berakhir begitu saja? Menangis, hanya itu yang bisa Yuna pikirkan, sayangnya ia tidak bisa melakukan itu, itu hanya akan membuat kakak iparnya khawatir dengan kondisi rumah tangganya.


"Tadinya kakak sudah terlelap, kakak khawatir kakakmu akan kehausan. Karena itu kakak kedapur untuk mengambil air." Jawab Raina sambil memposisikan dirinya untuk duduk di samping Yuna.


"Kenapa adikku ini belum tidur? Apa ada masalah?" Raina mengusap pundak Yuna dengan lembut.


"Katakan saja, kakak janji tidak akan menceritakannya pada siapapun. Setiap hal yang kita bicarakan akan menjadi rahasia kita berdua." Sambung Raina lagi. Yuna yang terlanjur merasakan kesedihan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Raina, berniat menyembunyikan duka yang memenuhi rongga dadanya.


"Apa ini karena Zain? Apa dia mengganggumu? Apa dia mengatakan hal buruk yang menyakiti hatimu? Katakan pada kakak, kakak akan memarahi pria itu, berani sekali dia mengganggu Yuna kami yang berharga." Ucap Raina sok serius, Yuna yang mendengar ucapan kakak iparnya malah tertawa sambil menutup bibirnya.


Yuna kami yang berharga! Iya, aku berharga. Dan aku pantas bahagia. Lirih Yuna di dalam hatinya, ia menatap netra teduh Raina kemudian duduk kembali seperti sedia kala.


"Kak, aku ingin bertanya padamu. Tapi, kakak harus jawab dengan jujur. Jawaban kakak akan menentukan seperti apa kehidupanku di masa depan." Yuna te serius. Raina yang mendengar ucapan adik iparnya tampak kebingungan, ia mengerutkan keningnya untuk mengekspresikan perasaannya, Raina yakin ada yang salah dengan hubungan Yuna dengan suaminya.

__ADS_1


"Iya, baiklah." Balas Raina dengan hati-hati.


"Kak, seandainya..." Ucapan Yuna tertahan di tenggorokannya, ia menatap Raina lekat, seolah mencari jawaban di netra teduh milik kakak iparnya. Sayangnya ia tidak menemukan apapun disana.


"Seandainya apa?" Raina mengulangi pertanyaan Yuna, ia penasaran.


"Tidak jadi." Balas Yuna cepat, ia mengalihkan pandangannya, berharap kakak iparnya tidak akan bertanya lagi.


"Jangan bergadang, itu tidak baik untuk kesehatanmu. Atau, kau ingin kakak membuatkanmu susu?"


"Tidak, kak. Terima kasih." Jawab Yuna sambil meremas jemarinya. Ia bingung, haruskah ia menceritakan segalanya, sejatinya Yuna sangat tahu, hanya dengan membagi kisahnya pada orang yang tepat resahnya akan berkurang.


Raina baru saja melangkahkan kakinya. Ia berniat akan kembali kekamarnya, namun ucapan spontan Yuna berhasil menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Kak, apa yang akan kau lakukan jika kak Shawn didiagnosa menderita penyakit mematikan? Apakah kak Raina akan pergi, atau justru memilih untuk tetap diam disisi kak Shawn hingga maut memisahkan kalian?"


Untuk sesaat, Raina mematung di tempatnya. Perlahan, ia menoleh kearah Yuna. Tampak jelas kekhawatiran di wajah adik ipar cantiknya. Raina tahu Yuna sedang berada di titik terendahnya, karena itu ia tidak ingin membebani Yuna dengan ucapan beratnya.


"Apa yang akan ku lakukan jika kakakmu menderita penyakit mematikan?" Raina mengulangi pertanyaan Yuna dengan nada suara pelan, otaknya sedang menyusun jawaban


Sedetik kemudian, Raina tampak serius.


"Aku akan meninggalkannya, dan mencari kebahagiaan lain." Sambung Raina lagi.


Yuna hampir saja jatuh dari sofa yang ia duduki, mendengar ucapan kakak iparnya membuatnya merinding. Setahunya, Raina sangat mencintai suaminya, apakah cinta sungguh semudah itu berubah? Dua wanita sempurna itu tidak tahu kalau sepasang mata sedang mengawasinya dalam diam. Sungguh kecewa hatinya mendengar percakapan dua wanita cantik yang tak jauh darinya itu. Walau ia kecewa, ia tetap memilih untuk pergi tanpa mendengar percakapan mereka selanjutnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2