Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (82)


__ADS_3

"Alex, berikan gaun ini pada Ploy. Katakan padanya, aku tidak bisa menemuinya." Aroon berucap sembari menyodorkan kotak yang telah terbungkus rapi. Ia terlihat tidak bersemangat. Sepertinya, berita kehamilan Yuna mulai mempengaruhi emosinya. Apa sebegitu tidak bahagianya dia sampai-sampai ia berpikir dunianya telah runtuh? Apa cinta sungguh sekejam itu sampai membuat jiwanya merasakan duka mendalam karena tidak bisa mendapatkan wanita yang sangat ia cintai? Jawabannya, tidak seperti itu. Cinta itu membahagiakan, cinta itu menenangkan, dan cinta itu menggambarkan keindahan. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa menakjubkannya cinta itu, hanya Aroon seorang yang menggambarkan cinta itu seperti duka tanpa tepian. Dia benar-benar bodoh. Tidak bisa mendapatkan wanita yang ia cintai bukan berarti dunianya runtuh. Akan selalu ada wajah baru yang akan datang dalam episode kehidupan setiap orang, dan dalam setiap rangkaian detik demi detik itu pasti akan datang sosok yang akan menghiasi setiap waktunya, nanti.


"Bagaimana cara ku mengantarkan gaun ini pada nona Ploy? Wanita itu sangat buruk, aku tidak ingin mendapat amukannya, lagi dan lagi. Ihhh!" Alek merinding, ia menatap nanar kearah kotak yang ada di depannya, mengingat percakapannya dengan tuan Aroon sepuluh menit yang lalu membuatnya tidak berdaya, mau tidak mau dia harus mengikuti instruksi pria itu, dia hanya bawahan dan itu memang sepantasnya ia lakukan, bekerja tanpa bantahan.


"Aku yang akan mengantarnya, kau bisa mempercayakan kotak itu padaku."


Glekk!


Alex menelan saliva, untuk sesat ia memberanikan diri untuk menatap sosok anggun yang ada di hadapannya. Sedetik kemudian ia mulai merunduk.


"Bagaimana aku bisa melakukan itu. Maksudku, meminta nona untuk mengantarkan paket ini, tuan Aroon akan membunuh ku." Celetuk Alex dengan kepala tertunduk.


"Katakan padanya, aku yang memaksa. Dengan begitu tuan Aroon tidak akan memarahi mu."


"Tapi nona--"

__ADS_1


"Sssttt!" Yuna memberikan isyarat diam, ia meletakkan jari telunjuk di bibir tipisnya. Tentu saja Alex langsung diam. Ia tidak berani membantah, walau statusnya sama-sama pegawai seperti Yuna, namun tak bisa di pungkiri Yuna adalah istri dari seorang Zain De Lucca pengusaha nomor satu di Thailand, sekaligus istri dari sahabat terbaik tuannya, Aroon Maurer.


Tahu tidak bisa membantah, dalam hitungan detik kotak untuk Ploy Nan sudah berganti tangan, atau tepatnya Yuna meminta untuk mengantarkan kotak itu dengan paksa. Niatnya, ia hanya ingin membantu Alex. Kebetulan, Yuna akan pulang dan ia melewati rumah wanita kasar itu.


Butuh waktu satu jam untuk Yuna agar bisa sampai di rumah Ploy Nan, rumah dengan dua lantai itu nampak indah dari luar. Bangunan kokoh dengan cat keemasan mendominasi rumah dengan dua lantai itu. Siapa pun yang melihat kediaman wanita itu, mereka akan berpikir kalau Ploy tinggal di Surga. Surga dunia.


"Rumah ini terlihat sepi. Apa semua orang sedang pergi? Entahlah." Yuna menatap tajam ke arah arlogi yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tanpa berpikir panjang, Yuna langsung masuk ke dalam rumah Ploy, kebetulan pintunya tidak terkunci. Seharusnya ia tidak melakukan itu, namun karena terburu-buru Yuna terpaksa harus masuk tanpa izin.


Prangg!


"Ada apa dengan wanita itu? Dia benar-benar menakutkan. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Zain dan Aroon berteman dengannya? Apa kedua pria itu buta?" Gumam Yuna sembari mengelus dada. Dari dalam, rumah megah milik Ploy terlihat seperti tumpukan sampah.


"Kenapa Zain lebih memilih wanita murahan itu di banding dengan diriku? Apa kurangnya aku? Aku cantik. Aku seksi. Semua pria menginginkan diriku." Celoteh Ploy masih dalam keadaan melempar barang berharga miliknya.


"Aku melakukan segala cara untuk memisahkan Zain dan Angel. Wanita menyebalkan itu pergi, dan ja-lang lainnya pun tiba." Air mata Ploy tak bisa berhenti menetes membayangkan betapa menyedihkannya dia dalam urusan cinta.

__ADS_1


"Pria yang ku cintai sejak belia malah memilih wanita lain, apa bagusnya ja-lang yang Zain bawa dari Indonesia itu? Apa?" Ploy berteriak dengan nada suara tinggi, Yuna masih diam, ia sedang memperhatikan.


"Aku bahkan merekayasa kasus HIV yang menimpa Zain. Tapi lihat? Ja-lang itu malah hamil anak Zain, seharusnya aku yang hamil bukan diaaa!" Ploy kembali berteriak, asisten Ploy yang masih berdiri dan mendengar amukannya tampak terkejut karena menyadari ada Yuna di antara mereka.


Duarrr!


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Yuna luruh. Ia duduk bersimpuh di lantai dengan air mata yang menetes membasahi wajah cantiknya. Ploy, wanita itu telah membuatnya menderita. Sangat menderita sampai-sampai ia ingin mencekiknya.


"Mrs.Yuna!" Asisten Ploy mencoba memberitahukan Ploy, matanya masih melotot kearah Yuna yang masih duduk lemas di lantai.


"Aku sangat membenci wanita itu, aku ingin menghancurkannya. Berani sekali kamu menyebut namanya di sini, apa kamu ingin tiada?" Bentak Ploy sambil melempar asistennya dengan tas yang ada di dekat tangannya. Wanita menyedihkan itu menunjuk kearah Yuna, yang kemudian di ikuti oleh tatapan Ploy Nan.


Sungguh, Yuna merasa bagai angin segar membelai lembut hatinya mengetahui Zain-nya tidak menderita HIV dan semua itu hanya rekayasa Ploy saja. Namun di balik rasa leganya, Yuna sangat murka. Ia marah karena Ploy telah mempermainkannya, gara-gara wanita itu ia dan Zain selalu tidur di kamar terpisah, dan gara-gara wanita itu Zain tidak berani mendekatinya. Dengan tenaga yang masih tersisa, Yuna beranjak bangun dari lantai, ia mengusap perutnya yang masih rata untuk memberikan dirinya kekuatan, kekuatan untuk menghukum Ploy Nan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2