Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (106)


__ADS_3

Sepekan berlalu sejak Umma Yuna melahirkan baby Kia, saat ini ia masih berada di rumah sakit lantaran kondisi Yuna yang tiba-tiba saja drop di hari pertama hingga hari ke enam.


Alhamdulillah, sekarang kondisi Yuna sudah membaik. Dan besok ia sudah di perbolehkan untuk pulang. Hal ini memang memakan waktu untuk Zain, berada di rumah sakit membuat jiwanya terus waspada. Entah apa lagi rencana Tuhan untuk kisah cintanya, apa pun itu, Zain merasa bahagia karena sekarang semuanya baik-baik saja.


"Baba..." Yuna memanggil Zain dengan suara lemah lembut. Dua menit berlalu sejak dua sejoli itu berbaring di ranjang rumah sakit sempit yang sudah Yuna tempati sejak sepekan ini. Mereka saling memeluk, kepala Yuna berada di lengan Zain sebagai bantalan.


"Mm!" Balas Zain singkat, ia hanya ingin menghabiskan malam ini dengan saling memeluk. Malam yang indah.


"Apa aku boleh bertanya?" Yuna memberanikan diri. Mendengar ucapan istrinya, bukannya menjawab, Zain malah melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepala Yuna, cukup lama sampai akhirnya Yuna mengambil kesimpulan kalau Zain sudah memberikan izinnya.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Ben. Pria itu bilang, Baba menghukum Ploy atas semua kesalahannya. Memangnya hukuman apa yang Baba berikan pada gadis kasar itu?"


"Aku yakin si payah Ben pasti tidak memberi tahukan pada Umma kalau aku bertengkar dengan Aroon."


"Baba bertengkar lagi dengan Aroon? Jangan lakukan itu, dia pria yang baik." Celetuk Yuna singkat, ia berharap Zain tidak tersinggung lantaran ia mencoba membela Aroon. Yuna tidak salah, Aroon memang pria yang baik, jika Yuna bertemu dengan Aroon lebih awal, entah akan seperti apa rumitnya kisah cinta ini.


Zain semakin mempererat pelukannya. Ia memejamkan mata. Bibirnya tak mengatakan apa pun namun hatinya merasakan bahagia luar biasa karena wanita terbaik di semesta ada dalam pelukannya. Tersinggung? Satu kata itu tidak akan pernah menyelimuti kehidupan damainya.

__ADS_1


Cinta adalah satu-satunya bunga yang dapat tumbuh dan berbunga tanpa bantuan musim. Cinta adalah merasakan seluruh emosi jungkir balik dan berbaur menjadi satu, merasa segalanya akan baik-baik saja selama berpegangan tangan dengannya, seperti sedang bermimpi dengan kedua mata terbuka lebar-lebar. Cinta adalah seberapa pandai kau menghapus air mata. Dimana ada cinta disitu ada kehidupan. Dimana ada cinta, disitu tidak ada kecurigaan, dan dimana ada cinta disitu tidak ada penghianatan, cinta memang bisa memudar namun cinta yang di dasari karena Allah tidak akan menghilang, tidak akan terhapus oleh zaman yang terus silih berganti dalam kehidupan.


"Baba tidak bertengkar dengan Aroon. Baba hanya bilang Baba tidak bisa memaafkan Ploy." Zain mencoba menjelaskan, ia berbisik di telinga Yuna.


"Wanita itu! Dia membuat ku sangat menderita. Sejak pernikahan kita, aku berusaha menahan hasratku pada istriku sendiri.


Aku ingin tidur sambil memeluk istriku setiap malam, sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena aku takut tergoda sehingga aku lepas kontrol.


Setiap detik dalam pernikahan kita terasa bagai hukuman karena aku tidak bisa memeluk dan mencium istriku. Aku takut menularkan penyakit yang bahkan tidak ada dalam diriku.


Wanita itu! Dia sangat kejam karena membuat konspirasi untuk menjauhkan kita. Sehari sebelum tragedi itu, dia menyusun rencana yang sangat matang. Dia tega menambahkan obat perangsang ke dalam minuman ku agar aku menghabiskan malam dengannya. Dan aku sangat bersyukur karena Tuhan berpihak padaku, bukannya menghabiskan malam dengan wanita itu, aku malah kembali ke dalam pangkuan istriku." Zain berucap dengan suara serak, ingatannya kembali pada saat ia meragukan Yuna, jemarinya mengusap lembut perut rata istrinya, ia kembali merasa bersalah pada buah hatinya.


"Lalu hukuman apa yang Baba berikan padanya?" Yuna yang merasa penasaran mulai bertanya, kali ini ia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah tampan suaminya. Ketampanan yang sempurna bagai pahatan hasil karya seniman terbaik di dunia. Netra biru itu masih terpejam, ia hanya ingin seperti ini untuk sejenak. Percakapan tentang Ploy membuat mood Zain mulai berubah, perlahan netra biru itu mulai terbuka, membelai lembut lubuk hati terdalam Yuna Dinata.


Masya Allah. Suamiku, dia sangat tampan. Semoga cinta ini sampai ke surga. Batin Yuna, bibir tipisnya mengukir senyuman menawan.


"Kami berteman sejak kanak-kanak. Dan banyak hal yang kami lalui bersama, manis dan pahitnya hidup ini kami jalani dengan senyuman.

__ADS_1


Aroon dan Ploy bukan sekadar teman bagiku, tapi wanita itu menghianati ku sampai aku merasa berada di dasar jurang. Tidak ada hukuman yang lebih buruk untuknya selain memutuskan tali persahabatan.


Dia mencintaiku? Cih, aku tidak perduli itu. Biarkan dia menderita dalam cinta tak berbalas. Dan aku, Zain De Lucca akan selalu mengabaikannya, seumur hidupnya." Celoteh Zain dengan amarah yang kembali terbit. Sepertinya akan sulit menenangkan Zain, tidak ada yang bisa Yuna lakukan selain mengeratkan pelukannya.


Yuna berencana akan membujuk Zain secara perlahan, karena tak ada gunanya menjadi pembenci. Setiap kebencian yang memenuhi rongga dada maka kebencian itu akan mengikis habis perasaan bahagia.


"Suamiku memang yang terbaik, dan dia jauh lebih baik jika ia menjadi pribadi yang selalu memaafkan." Yuna berusaha mencairkan suasana agar Zain tak terlalu larut dalam kebenciannya.


"Baiklah, sekarang katakan, bagaimana dengan penyambutan baby Kia? Apa Ben sudah menyiapkannya?"


"Aku tidak perlu memerintahkan Ben menyiapkan penyambutan untuk buah hati kita, karena aku sendiri yang akan melakukannya. Dan satu lagi, Baba sudah menyiapkan kejutan spesial untuk Umma. Baba yakin Umma akan bahagia." Celoteh Zain penuh semangat.


"Benarkan?" Yuna berucap sembari duduk. Ia penasan, namun jika di lihat dari raut wajah Zain, pria itu tidak akan mudah untuk membuka mulutnya.


"Haha! Umma penasaran?" Zain terkekeh, ia memeluk tubuh Yuna dari belakang. Menaruh kepalanya di pundak istrinya. Sesekali mencium tengkuk Yuna.


"Dalam kamus kehidupan Zain De Lucca hanya ada keinginan untuk membahagiakan Yuna saja, dan aku akan selalu berusaha."

__ADS_1


Yuna tersenyum, ia tersentuh dengan ucapan manis Zain. Begitulah seharusnya cinta, membuat pasangan kita untuk selalu bahagia.


...***...


__ADS_2