Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 25


__ADS_3

Dua jam setelah kepulangan Yuna menuju Mansion Lucca, duduk Zain di kursi kebesarannya sembari mengamati berkas yang berisi laporan bulanan Lucca Entertainment. Memuaskan, itu lah yang Zain rasakan sehingga wajahnya memamerkan senyuman lebar. Kehadiran Yuna dalam hidupnya semakin membuatnya bersemangat dalam bekerja.


Tok.Tok.Tok.


"Masuk!" Perintah Zain tanpa menatap kearah sumber suara, ia terlalu fokus sampai tidak menyadari siapa yang datang berkunjung ke kantornya.


Tok.Tok.Tok.


Saat ini bukan pintu yang di ketuk oleh sosok rupawan yang berkunjung ke kantor Zain, melainkan meja kerjanya yang di ketuk hingga membuat fokusnya teralihkan.


"Kau? Disini?" Zain bertanya sembari melepas kaca mata yang bertengger di atas hidungnya. Ia terlihat antusias setelah sepekan tidak bertemu dengan sahabat sekaligus rekan bisnisnya, Aroon.


"Iya, tentu saja. Kau tidak pernah mengunjungiku, karena itulah aku yang berinisiatif untuk mengunjungimu." Celoteh Aroon sambil memamerkan wajah pura-pura kesal.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan itu karena pekerjaan ini terus saja menyita waktu dan perhatianku." Ucap Zain berusaha membela diri. Itu memang kebenarannya, dan Zain tidak pernah membual di depan siapa pun.


"Kau tidak perlu mengatakan apa pun, aku tahu kesibukan mu. Lagi pula, aku hanya bercanda. Bukankah kau tahu bercanda adalah keahlianku?" Goda Aroon sembari mengedipkan mata kanannya. Ia tersenyum untuk meyakinkah Zain kalau dirinya hanya bercanda.


"Ngomong-ngomong, dimana istrimu?"


"Aku dengar, dia ada disini!" Aroon mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kantor Zain, kemudian tatapan matanya terhenti di kamar pribadi Zain, kamar yang terletak di belakang meja kerja.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jadi aku memperingatkanmu, jangan pernah berpikir seperti itu. Istriku bukan wanita seperti itu, dia satu di antara seribu." Zain menatap tajam kearah sahabatnya sembari mengepalkan tangan. Rasanya, ia ingin meninju wajah Aroon, namun sekuat tenaga ia berusaha menahan diri.


"Sudahlah, lupakan. Bicara denganmu hanya akan membuat tekanan darah ku naik. Katakan, apa tujuanmu datang kemari?"


"Ohh, ayo lah Zain. Aku benar-benar ingin bertemu dengan istrimu, apa aku tidak memiliki hak untuk itu?"

__ADS_1


"Kau bisa bertemu dengannya di lain waktu. Sekarang tidak bisa, dia sudah pulang." Balas Zain sambil berjalan menuju lemari pendingin, mengambil dua kaleng minuman bersoda kemudian berjalan menuju sofa.


"Sekarang kau sudah menikah. Lalu, bagaimana hubungan mu dengan Ploy? Maksudku, akan seperti apa hubungan kalian kedepannya." Aroon bertanya sambil meraih minuman kaleng yang di letakkan Zain di atas meja. Ia membukanya, kemudian perlahan meneguk minuman dingin itu.


"Hubungan?" Zain bertanya pelan, dahinya berkerut, ia heran sekaligus tak mengerti.


"Hubungan apa maksudmu?"


"Bukankah kau sudah tahu kami tidak punya hubungan apa pun? Kita bertiga adalah teman dan akan selamanya seperti itu. Lagi pula, aku sangat mencintai istriku. Jadi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkannya." Zain menjelaskan penuh percaya diri, ia tipe pria setia yang tidak akan tergoda pada pesona wanita yang bukan miliknya.


"Yaa, ku akui kau memang pria setia. Wanita Indonesia itu sangat beruntung mendapatkan suami sepertimu." Sanjung Aroon pada sahabatnya.


"Haha! Kau salah, bukan istriku yang beruntung mendapatkan ku sebagai suaminya. Yang benar itu, aku yang beruntung karena mendapatkan dirinya sebagai istriku, dia wanita sempurna untuk ku yang selalu hidup liar." Ujar Zain tanpa melepas senyuman dari wajahnya, ia tersenyum sembari menghadirkan wajah cantik Yuna Dinata dalam benaknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2