
"Apa kau yakin dia istri-Mu?"
"A-aku mengenalnya, dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang Mu. Kau juga tidak pernah mengatakan apa pun tentangnya!" Aroon protes pada Zain yang terlihat santai menelan makan malamnya tanpa menghiraukan dirinya yang terlihat masih tak percaya dengan pemandangan yang tersaji di depannya.
Zain tersenyum, ia meletakkan sendok dan garpu di piringnya kemudian menatap Aroon dengan tatapan lega. Terdengar helaan nafas kasar dari bibir tipisnya.
"Bukankah aku sudah mengatakan semua yang ku tahu tentang istri ku. Kau bahkan menertawai ku seperti orang bodoh."
"Jadi, jangan katakan kalau aku tidak pernah mengatakan apa pun tentangnya. Lagi pula, kalian sudah saling mengenal, lalu apa masalahnya?" Bantah Zain sambil melipat tangan di depan dada.
"Iya, dia benar. Lagi pula apa masalahnya kalau kau mengenalnya atau tidak, toh kalian selalu bicara seperti sepasang kekasih." Ploy mulai angkat bicara setelah ia tidak sanggup lagi menahan kekesalannya.
"Ploy, diam!" Ucap Zain dan Aroon bersamaan, membuat Ploy terkejut dan membelalakkan mata.
__ADS_1
"Kalian? Apa yang kalian lakukan sampai Nona Ploy terlihat terkejut?" Yuna yang baru kembali dari luar di suguhkan pemandangan tidak biasa, perdebatan antara tiga orang yang ia tahu sebagai sahabat baik.
"Tidak. Kami hanya bicara. Apa kau sudah selesai bicara dengan Alex?" Zain bertanya untuk mengalihkan perhatian Yuna.
"Iya, aku sudah selesai."
"Kalau begitu, lanjutkan makan malam Mu." Perintah Zain sambil menarik bangku untuk Yuna. Aroon yang duduk di dekat Ploy tampak seperti patung yang tidak bisa melakukan apa pun. Hati dan pikirannya masih belum menerima kalau wanita yang sangat ia cintai tak lain adalah istri sahabatnya sendiri.
"Pak Aroon, apa anda baik-baik saja?"
"Ti-tidak, aku baik-baik saja. Aku terkejut saja. Aku tidak menyangka kalau kau istrinya..." Ucap Aroon sembari menunjuk Zain yang kembali sibuk menyendok makanannya.
"Aku juga tidak menyangka kita akan bertemu di tempat ini. Walau bagaimanapun, aku sangat senang." Cicit Yuna sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku rasa kau wanita paling beruntung di Tempat ini. Kau menikah dengan pria yang paling di inginkan oleh semua gadis yang ada di Thailand. Sementara Bos Mu? Aku yakin kau tahu dia sangat loyal pada semua perempuan. SE-MU-A!" Ujar Ploy dengan tatapan tajamnya.
Bukan Yuna namanya jika ia sampai diam saat mengetahui lawannya memiliki niat buruk padanya.
"Iya, kau benar. Zain sangat baik pada Ku. Sementara Tuan Aroon?" Yuna menunjuk Aroon dengan jemari lentiknya.
"Dia atasan yang baik, dan aku beruntung mengenai hal ini." Yuna bersungguh-sungguh saat mengatakannya, ia tidak tahu kalau kejujurannya semakin membuat Ploy merasakan kesal luar biasa.
Waktu terus berjalan, makan malam ini pun berjalan dengan baik. Zain dengan penuh kebanggaan menceritakan pertemuan pertamanya dengan Yuna, sesekali Yuna menutup wajahnya karena malu, menggambarkan betapa pertemuan pertama mereka di kampus waktu itu tidak ada romantis-romantisnya.
"Iya, aku paham kenapa kau bisa jatuh cinta padanya. Jika itu aku? Aku juga akan melakukan hal yang sama. Menikahi Nona Yuna adalah keputusan terbaik yang kau ambil, aku doa kan agar kalian selalu bahagia." Ujar Aroon bersungguh-sungguh. Padahal hatinya merasakan cemburu.
"Aku permisi sebentar." Ploy yang terlalu kesal mulai angkat bicara, ia tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktunya untuk mendengar cerita omong-kosong. Sementara Yuna? Ia hanya bisa menatap punggung wanita itu, menatapnya hingga menghilang di balik megahnya bangunan hotel bintang lima tempat mereka menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
...***...