
Pulang!
Satu kata itu terus saja mengganggu Yuna. Jujur, wanita itu ingin segera pulang. Ia bahkan merengek pada Zain agar suaminya itu segera membawanya pergi dari rumah sakit, sepekan menginap di tempat itu membuatnya prustasi. Sakitnya melahirkan tak sebanding dengan rasa bosannya, karena biasanya Yuna tipikal wanita yang tidak bisa diam.
Untungnya sekarang Yuna sudah tiba di lobby hotel. Ia tidak tahu apa yang di siapkan Zain untuknya, yang jelas Yuna bahagia, ia tak bisa berhenti untuk tersenyum.
"Honey, apa kau bahagia?" Zain bertanya, ia menatap Yuna dengan intens. Tak sedetik pun ia melepaskan tatapan dari wanitanya, bahkan sejak masuk ke dalam mobil hingga mereka tiba di hotel, Zain tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari lentik istrinya, Yuna Dinata.
"Mm!" Balas Yuna singkat, ia menganggukkan kepala pelan. Zain tahu Yuna-nya bahagia, dan siapa pun yang melihat senyuman menawan seorang Yuna Dinata pasti akan tahu betapa bahagianya wanita dengan satu anak itu. Semua hal sudah Zain lakukan untuknya, kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan di awal pernikahan kini terbayar lunas.
"Honey, kenapa kau menangis? Apa kau tidak suka dengan kejutan ku?" Zain bertanya, ia memegang pundak Yuna.
Yuna yang di tanya seketika langsung menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Ingatannya tentang percakapannya siang tadi dengan Zain langsung buyar. Bahkan Yuna merasa malu mengingat dirinya yang terus saja merengek minta pulang. Entah kenapa ia ingin segera menginjakkan kakinya di mansion Lucca, dan sekarang rasa penasarannya telah terbayar. Semua anggota keluarganya berkumpul menyambut kedatangannya.
Pemandangan terindah menghiasi netranya.
"Tidak ada kejutan yang lebih indah di bandingkan dengan apa yang kau lakukan untukku malam ini! Aku akan mengabdikan seluruh hidupku sebagai imbalannya." Cicit Yuna sembari menunjukkan raut wajah serius. Ia tidak berbohong, dia memang sangat bersyukur.
Zain yang mendengar ucapan Yuna langsung bereaksi, bukannya mengatakan sepatah kata, pria itu malah menyambar bibir merah muda istri cantik nan shaliha miliknya.
Muach!
Zain meninggalkan tanda berupa satu kecupan singkat di bibir tipis Yuna Dinata. Membuat wanita itu malu setengah mati.
"Itu hukuman karena Umma berani mengatakan 'imbalan' di depanku. Selama ini Umma selalu melakukan yang terbaik, dan Umma tidak perlu memberikan imbalan apa pun. Aku bahagia hanya dengan melihat umma bahagia." Cicit Zain tanpa melepaskan senyuman menawan dari bibir indahnya.
Kejutan!
Zain menyiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan Yuna, kejutan berupa pesta besar dalam rangka mengenalkan Baby Kia di hadapan dunia. Bahkan seluruh keluarga Yuna sengaja Zain datangkan dari Indonesia. Mama Hanum dan Papa Andi tampak bahagia menimang cucu barunya, walau sibuk dengan bisnisnya mereka tidak akan pernah mengabaikan anak-anaknya, dan saat Zain memohon demi kebahagiaan Yuna, Mama Hanum dan Papa Andi langsung mengiyakannya.
Sementara itu, kak Shawn dan Kak Raina. Sepasang sejoli itu tampak sibuk menghibur putra semata wayangnya, Hasan Dinata. Bocah manis itu sekarang sudah bisa berlari, karena demam ia tampak tak bisa melepaskan diri dari pelukan Umminya. Memiliki anak yang masih kecil memang membutuhkan ketelitian penuh agar sang buah hati tumbuh dengan baik.
__ADS_1
"Umma beruntung mendapatkan Baba sebagai belahan jiwa. Jangan pernah berubah walau nanti rambut Umma mulai memutih dan kulit ini mulai berkerut.
Umma pernah melihat rumah tangga yang tampak sempurna, seorang istri yang cantik, anak-anak yang manis, ekonomi yang mencukupi. Namun tetap saja kesempurnaan itu tidak cukup untuk menekan perceraian. Entah suami atau istri yang menggugat, tetap saja itu akan meninggalkan luka.
Umma hanya bisa berdoa, memohon pada yang Kuasa agar ikatan kita tetap kuat. Tak rapuh dan tak mudah tercerai berai. Umma ingin Kia kita tumbuh dan mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari Umma dan Babanya." Celoteh Yuna, tatapan matanya menjelaskan kalau ia berharap Zain juga mempertahankannya sampai maut memisahkan mereka.
"Bagiku, Yuna ku untuk selamanya. Tak akan tergantikan oleh siapa pun.
Jika masa depan kita tak seindah malam ini, dan jika cinta ku memudar dan aku berpindah kelain hati, kemudian perpisahan tak bisa di hindari, aku bersumpah demi putri berharga kita, sebelum hal itu terjadi aku akan mengakhiri hidupku sehingga pahitnya perpisahan tak akan di lalui oleh Yuna ku yang berharga." Zain memeluk tubuh Yuna dari belakang, di saksikan ribuan pasang mata yang hadir sebagai tamu undangan.
Yuna yang di perlakukan sangat manis hanya bisa menahan malu. Seandainya mereka hanya berdua saja sudah tentu Yuna akan memberikan balasan yang sama. Atau bisa jadi ciuman panas untuk mengekspresikan cinta.
"Sudah, hentikan. Semua orang menatap kita, aku malu!" Cicit Yuna dengan suara pelan. Tentu saja Zain tidak perduli, pria pemilik iris biru itu malah semakin mengeratkan pelukannya, seolah mengabarkan pada dunia, wanita terbaik di semesta yakni Yuna Dinata ada dalam pelukannya dan hanya akan menjadi miliknya, milik seorang Zain De Lucca.
"Kenapa, malu? Justru aku sedang memberitahukan semua orang kalau wanita cantik ini adalah milikku." Ucap Zain tanpa beban, ia bahkan mengabaikan tamu undangan yang menatapnya dengan tatapan heran. Jika Zain bisa, ia ingin membawa Yuna keluar dari pesta kemudian menghabiskan waktu berdua, hanya berdua tanpa ada campur tangan orang lain. Sayangnya ia tidak bisa melakukan itu karena ada baby Kia diantara mereka.
"Mmm!"
Seseorang berdeham di balik punggung Zain, sontak hal itu membuatnya terkejut luar biasa, dan tanpa sengaja kepalanya dan kepala Yuna saling berbenturan, maklum saja sejak sepuluh menit yang lalu Zain tidak mau melepas pelukannya dari tubuh berisi Yuna Dinata.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan tuan Andi, pria paruh baya itu tersenyum. Ia bahagia, keputusannya untuk menikahkan putri berharganya tidak sia-sia.
"Pa." Yuna memeluk tuan Andi.
"Terima kasih, kedatangan Mama dan Papa menambah kebahagian Yuna. Rasanya, Yuna tidak ingin malam ini berakhir dengan cepat." Yuna mengeratkan pelukannya, kerinduannya telah terbayar lunas.
"Tetap bahagia, nak. Hanya dengan memikirkan kau bahagia Mama dan Papa merasa bahagia. Kau harus ingat, walau kau tak terlihat dalam pandangan Mama dan Papa, kau selalu dekat di hati kami." Tuan Andi menepuk pelan pundak Yuna.
"Apa kau bisa meninggalkan papa dan Zain sebentar? Ada yang ingin Papa bicarakan dengannya." Sambung tuan Andi lagi, Yuna melepaskan pelukannya, ia mengangguk. Setelah itu ia meninggalkan kedua pria yang sangat ia cintai itu.
"Bagaimana hubungan mu dengan Yuna? Apa putri papa menyusahkanmu?" Papa Andi mulai mengurai tanyanya. Ia menatap wajah rupawan menantu berharganya.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan ayah mertuanya, Zain malah meraih pergelangan tangan tuan Andi. Ia mencium punggung tangan mertuanya dengan lelehan air mata. Air mata bahagia sekaligus rasa syukur melebihi luasnya semesta.
"Putri papa adalah wanita yang baik, bersamanya aku merasa berharga. Tak pernah sedetik pun Yuna bertingkah yang akan membuatku merasa menjadi suami yang gagal. Dia selalu menjadi kekuatanku." Ujar Zain sembari membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.
"Terima kasih sudah menghadirkan Yuna. Aku tidak akan pernah bisa berhenti berterima kasih pada papa dan mama." Sambung Zain lagi. Pembicaraannya dengan tuan Andi berakhir setelah kedua pria beda generasi itu saling memeluk dan saling membalas senyuman.
Lima jam kemudian.
Yuna terbangun saat baby Kia menangis, ibu muda itu terbangun sembari mengucek mata dengan kedua tangannya. Zain juga terbangun, menemani istri cantiknya.
"Apa Kia merepotkan Umma?" Zain bertanya, ia berjalan kearah perlengkapan baby Kia, kemudian menyodorkan popok pada Yuna. Tidak ada balasan dari Yuna selain gelengan kepala pelan, mengisyaratkan tidak.
"Kia putri yang penurut, dia tidak akan merepotkan Ummanya. Iya kan, nak?" Yuna bicara sembari menggoda baby Kia. Anak manis itu tersenyum memperlihatkan tanpa gigi.
"Sepertinya dia senang saat Umma menggodanya, Baba cemburu." Celetuk Zain, ia memperlihatkan wajah pura-pura cemberutnya.
"Baba tidak perlu cemburu, Umma yakin hal yang membuat Baba bahagia adalah hal yang akan membuat Kia kita bahagia. Dan jika Baba bahagia, maka Umma juga bahagia. Mari kita didik Kia menjadi putri ahli Surga. Dengan begitu kita akan bangga di dunia hingga ke Surga." Ujar Yuna, ia menggenggam jemari hangat Zain. Zain mengangguk mendengar penururan istrinya.
"Bagainana dengan pesta tadi, apa Umma menyukainya?" Zain bertanya, ia mengusap kepala baby Kia yang saat ini sedang menerima asi dari Umma Yuna.
"Sangat."
"Maksudku, aku sangat menyukainya. Terima kasih untuk segalanya." Yuna berucap sembari meletakkan baby Kia di ranjang, anak manis itu kembali terlelap setelah ia merasa kenyang.
"Aku yang selalu bersyukur dan aku yang selalu berterima kasih. Tak bosan-bosannya ku katakan kalau aku sangat beruntung memiliki Umma di dalam hidupku. Kehadiran baby Kia melengkapi kebahagiaanku. Aku ingin hidup lebih lama lagi hingga aku melihat pendamping hidup putri kita." Zain menatap baby Kia yang saat ini terlelap di tempat tidurnya.
Zain meraih pergelangan tangan Yuna, kembali memeluk wanitanya dari belakang. Sesekali mencium pundak istrinya. Mencium aroma tubuh Yuna selalu saja memberikan kekuatan tersendiri untuknya.
Tuhan... Anugrahmu meliputi semesta. Aku merasa terberkati dalam naungan cinta. Entah kebaikan apa yang pernah ku lakukan hingga kau memberikan semua kebahagian yang ada di dunia ini dalam genggamanku.
Tolong, jaga kebahagiaan ini hingga ke surga. Aku ingin tersenyum bersama Yuna dan berjalan-jalan menikmati indahnya taman-taman yang ada di Surga hanya bersmanya. Terlanjur Mengikat janji dengan Yuna Dinata adalah kebaikan sempurna yang ku punya, akan ku pertahankan dirinya hingga di ujung usia. Zain bergumam di dalam hatinya sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Yuna, berada di bawah atap yang sama bersama dengan wanita tercantik dan juga dengan Bidadari kecilnya, apa lagi yang lebih indah dari ini? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. (Qs-Arrahman-13).
__ADS_1
...Tamat...
...***...