Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (83)


__ADS_3

Iblis akan selalu menjadi Iblis. Namun, sekuat apa pun makhluk itu berbuat kerusakan di semesta untuk menggoda manusia, dia tidak akan mampu menjerumuskan wali-wali Tuhan yang telah di berkati.


Yuna, rasanya ia ingin mencakar, menjambak, mencekik, bahkan menghilangkan wanita yang berdiri di depannya saat ini dari dunia. Matanya memerah, dadanya di penuhi amarah, air mata yang tadi keluar kini mengering, yang tersisa hanya perasaan ingin menghancurkan.


Sabar!


Kakak iparnya, Raina Salsadila selalu mengatakan, sabar itu menenangkan, sabar itu tanda seseorang semakin dekat dengan Tuhan, karena orang itu tahu semua yang menimpanya di semesta akan terjadi atas izin yang Kuasa, bahkan ketika kakinya tertusuk duri kemudian ia bersabar maka kebaikan untuknya dari Tuhannya, Allah.


Ya Allah ... Wanita ini membuat ku sangat menderita, tak pernah sedetik pun aku merasakan tenang setelah aku tiba di Thailand. Dia merencanakan segalanya dengan sempurna sehingga aku dan Zain terpisah sangat jauh. Jangan salahkan aku jika aku mencakar wajah tidak tahu malunya. Batin Yuna sembari berjalan mendekati Ploy Nan yang saat ini masih mematung di tempatnya.


"Berani sekali kamu menginjakkan kaki mu di--"


Plakk!


Ucapan Ploy tertahan di tenggorokannya, satu tamparan mendarat di pipi kanannya.


"Dasar jal--"


Plakk!

__ADS_1


Umpatan Ploy kembali tertahan di tenggorokannya, satu tamparan dari Yuna kembali mendarat di pipi kanannya.


"Huaaa." Ploy berteriak dengan nada suara tinggi, tangan kanannya terayun dengan sempurna, ia ingin menampar Yuna. Dengan cepat Yuna menangkap tangan wanita kasar itu hingga tangannya tidak bisa menyentuh pipi mulus Yuna Dinata.


Plakk!


Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan Ploy, dan ini tamparan yang ketiga kalinya. Sorot mata Ploy setajam belati, seolah ia ingin menguliti lawannya. Pipi kanannya terasa perih, ia tidak pernah menyangka wanita yang ingin ia singkirkan dari kehidupan Zain berani menampar wajahnya.


"Enoung is enough!" Yuna berteriak tepat di depan wajah Ploy. Siapa pun yang melihatnya akan merinding. Akhirnya kemarahan seorang istri yang di zalimi meledak juga. Haruskah Yuna di salahkan? Entahlah, siapa pun yang berada di posisinya mungkin akan melakukan hal yang sama. Ini terlalu menyedihkan, bahkan menampar Ploy tidak akan cukup.


"Kamu melakukan semua hal yang kamu bisa untuk memisahkan ku dan Zain. Sekarang lihat dirimu, kamu terlihat seperti cacing kepanasan!" Yuna mencengkram kedua lengan Ploy Nan, amarahnya masih membuncah.


"Diam. Aku bilang diam." Ploy meneriaki Yuna. Ia tampak putus asa. Hal itu terlihat dari wajahnya yang di penuhi duka.


"Aku tidak akan diam. Kau mau apa?" Yuna balas meneriaki Ploy, tepat di depan wajah gadis tidak tahu malu itu.


"Sudah cukup aku menerima penderitaan yang di sebabkan oleh ulah mu, sekarang tidak lagi." Yuna kembali mencengkram kedua lengan Ploy, wanita itu berontak ingin melepaskan diri, namun dengan sekuat tenaga Yuna menahannya.


Asisten Ploy yang melihat nonanya kesakitan berusaha melepaskan tangan Yuna dari lengan Ploy.

__ADS_1


"Ini antara aku dan dia, jangan coba-coba untuk membelanya. Jika kamu berani, kamu akan melihat betapa buruknya aku saat memperlakukan mu!" Sentak Yuna dengan mata memerah. Amarahnya telah memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya. Bahkan jika kedua orang tuanya datang dari Indonesia untuk melerainya, dia tidak akan melepaskan Ploy dengan mudah, penderitaan yang ia alami harus di bayar tuntas hari ini.


Tanpa berpikir panjang, wanita muda yang Yuna kenal sebagai asisten Ploy itu, mundur sambil merunduk. Ia berdiri jarak sepuluh langkah dari Yuna.


"Kamu lebih menakutkan dari Iblis." Yuna mendorong Ploy, wanita itu terjatuh. Ploy meringis, tubuh rampingnya membentur sudut dinding. Rasa sakit yang Ploy rasakan tidak seberapa jika di bandingkan dengan penderitaan Yuna.


"Keinginan hatiku, aku ingin mencakar wajahmu hingga tak berbentuk, namun sebagai seorang muslimah aku berusaha keras untuk menahan amarah." Yuna berucap dengan nada suara bergetar.


Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, sabar sesaat saja di saat marah akan menyelamatkan kita dari ribuan penyesalan. Dengan alasan kuat itu Yuna berusaha menahan dirinya, tiga tamparan yang mendarat di wajah cantik Ploy rasanya masih belum cukup, namun ia berusaha bersabar sehingga penyesalan tidak akan mendekati hidupnya.


"Zain terlalu baik untuk mu, wanita sepertimu tidak pantas berteman dengan siapapun. Aku akan mengatakan segalanya pada Zain, dengan begitu bayangan mu tidak akan mendekati hidup kami lagi." Ujar Yuna untuk kesekian kalinya.


"Aku merasa sesak berada di bawah atap yang sama dengan mu. Maafkan aku untuk tidak memaafkan mu." Ucap Yuna sambil membelakangi Ploy, ia berjalan pelan, melangkah menuju pintu keluar.


"Aku tidak butuh maaf dari mu, karena aku sangat membencimu. Kau pikir kau bisa lepas dari ku? Aku akan membuatmu menderita..." Ploy berteriak, ia melempar vas kearah dinding untuk mengekspresikan betapa besar amarahnya.


"Aku menantangmu, kau bilang kau akan menyingkirkan ku? Kita lihat saja nanti bagaimana Zain akan membuang mu!" Sambung Ploy masih dengan nada suara tinggi, Yuna yang akan membuka gagang pintu terpaksa menghentikan gerakan tangannya.


Yuna berbalik, ia mentap tajam kearah Ploy yang terlihat putus asa. Bukannya menyesal, wanita itu malah tersenyum lebar, sangat menakutkan, karena tidak ingin mengeluarkan sumpah serapah, Yuna lebih memilih keluar dari kediaman megah Ploy Nan, gadis angkuh yang memenuhi hatinya dengan mimpi ingin bersama Zain.

__ADS_1


...***...


__ADS_2