
Waktu menunjukkan pukul 23.49 ketika Zain tiba di Villa yang di maksudkan Aroon. Enam jam lamanya ia mengendarai mobilnya namun tidak ada sedikit pun rasa lelah yang mendera raganya. Karena yang ia pikirkan, ia harus tiba di Villa kemudian menemui Yuna-nya. Kerinduan mendalam pada wanitanya membuat Zain tak bisa menahan diri. Jika ia bisa, ia ingin tiba secepat kedipan mata.
"Kenapa di tempat ini sangat gelap? Apa terjadi masalah dengan lampunya?" Zain berucap sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa melalui pintu depan. Ia menyalakan ponselnya sebagai penerang.
"Yuna, sayang. Kau di mana?" Zain berucap dengan nada suara lembut, netra birunya menatap ke segala sisi Villa yang keindahannya menyejukkan mata.
"Di kamar! Iya, Yuna ku pasti ada di sana." Celoteh Zain sembari menaiki anak tangga. Ia mempercepat langkah kakinya, berharap kerinduannya terbayar lunas mengingat penderitaan yang ia lewati selama sepekan ini tanpa kehadiran belahan jiwanya, Yuna Dinata.
"Yuna, sayang. Apa kau sudah tidur?" Zain mulai bertanya setelah ia membuka pintu kamar yang ada di lantai dua. Netranya mengarah pada ranjang yang terletak di tengah-tengah ruangan.
Zain kecewa.
Iya, Zain kecewa berat menyadari tidak ada siapa pun di sana, ranjang itu kosong dan terlihat rapi, menandakan tidak ada yang menghuninya selama berbulan-bulan. Zain menyandarkan tubuh letihnya di pintu yang masih terbuka lebar, entah dari mana datangnya rasa lelah itu. Padahal, sebelumnya ia baik- baik saja, tidak menemukan Yuna membuatnya kesal.
Prang!
Zain mendengar suara yang bersumber dari kamar yang terletak di lantai bawah dekat tangga. Tanpa menunggu lagi, Zain langsung berlari menghampiri sumber suara, Zain yakin Yunanya ada di sana.
"Nak, apa kabar? Umma minta maaf, saat ini kita hanya berdua. Apa kau takut karena lampunya tiba-tiba padam? Atau kau terkejut karena Umma menjatuhkan nampan buah?" Yuna bicara sendiri dalam kegelapan, hanya cahaya yang bersumber dari ponselnya saja yang berpungsi sebagai penerang.
"Apa kau merindukan Baba?"
"Maaf, saat ini kita tidak bersamanya. Umma juga merindukan Baba, sayangnya Umma belum bisa memaafkan-nya."
"Baba mu melakukan kesalahan fatal, dan Umma tidak bisa memaafkannya begitu saja." Ujar Yuna sembari mengelus perutnya yang terasa mulai membuncit.
Zain, pria pemilik iris biru itu menatap istrinya dalam diam. Ia mendengar dengan jelas setiap huruf yang di rangkai menjadi kata-kata oleh Yuna, dan hal itu membuatnya meneteskan air mata. Zain menyadari ia melakukan kesalahan fatal, karena itu lah ia merasa hatinya seperti teriris. Tanpa menunggu lagi, Zain langsung berjalan mendekati wanitanya.
__ADS_1
Zain memeluk erat tubuh berisi Yuna. Wanita itu berontak, ia mendoronng tubuh kekar Zain namun sayangnya Zain tidak mau melepasnya.
"Kau siapa? Lepaskan aku!" Yuna berteriak. Suara teriakannya menembus langit ke tujuh. Ia masih berontak, minimnya cahaya membuat Yuna tidak menyadari siapa yang datang.
"Lepaskan aku. Aku sudah menikah!" Sentak Yuna. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan dirinya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan sosok yang telah berani memeluk Yuna, sosok yang tidak Yuna katahui.
Isakan. Hanya itu yang terdengar, dan Yuna kenal siapa pemilik suara itu.
"Zain, kau kah itu?"
Belum sempat Zain menjawab pertanyaan Yuna, lampu langsung menyala. Dua sosok indah yang saling merindukan kini saling menatap dalam diam.
Yuna dengam setiap kekecewaannya, dan Zain dengan segala penyesalannya sama-sama diam. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan sehingga seorang pria paruh baya tiba, pria yang Yuna tahu sebagai penjaga Villa yang Aroon tugaskan untuk menjaga Yuna juga.
"Nona, maaf karena membuat nona merasa kurang nyaman. Terjadi masalah dengan sekringnya." Ucap Pria paruh baya itu tanpa menyadari ke hadiran Zain.
"Tuan, anda di sini? Maaf, saya pikir tidak ada orang selain nona. Kalau begitu saya permisi." Sambung pria paruh baya itu lagi. Sedetik kemudian, pria paruh baya itu meninggalkan dua sejoli yang masih di bayangi oleh kekecewaan.
"Kenapa kau datang kemari?" Yuna bertanya dengan nada suara kesal.
"Aku datang karena aku merindukanmu!" Jawab Zain berterus terang.
"Rindu? Haha!" Yuna tertawa seolah sedang mendengar lelucon terlucu untuk pertama kalinya. Netra teduhnya membulat sempurna, tentu saja ia tidak percaya begitu saja.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku sangat merindukan Yuna ku." Aku Zain untuk kedua kalinya.
"Kenapa kau merindukan ku? Bukankah aku telah mengecewakan mu? Sebesar kau kecewa padaku, maka sebesar itu pula aku tidak percaya dengan ucapanmu." Ucap Yuna dengan lantang, mengingat ucapan Zain yang mempertanyakan siapa ayah dari anaknya membuat Yuna merinding. Cinta yang selama ini ia pupuk mulai layu di makan oleh kekecewaan.
__ADS_1
"Terlanjur mengikat janji? Aku rasa itu yang kau rasakan terhadapku. Kau berjanji untuk membahagiakan ku, nyatanya kau yang paling mengecewakan ku.
Walau seperti itu, aku hanya ingin mengatakan. Kau bisa melepasku tanpa beban atau penyesalan, aku sendiri yang akan mengatakan pada keluargaku kalau aku sudah tidak mencintaimu lagi, dengan begitu tidak ada yang akan menunjukkan jarinya terhadapmu. Kau tidak perlu lagi memaksakan dirimu terhadapku." Amarah yang selama ini terpendam akhirnya pecah juga, Yuna yang biasanya penyabar tak bisa menahan diri untuk tidak meluapkan segala emosinya.
Zain berlutut.
Ia mencoba memeluk lutut Yuna, namun sebelum itu terjadi Yuna memundurkan kakinya tiga langkah.
"Aku minta maaf. Aku salah." Zain terisak. Ia masih berlutut.
"Aku seorang pendosa. Aku salah. Tolong ampuni aku. Aku akan tiada tampa kehadiranmu di sisiku." Zain menangkupkan kedua tangan di depan dada, ia menatap Yuna yang berdiri di depannya dengan mata berair.
Ucapan itu ibarat panah, ketika terlepas dari busurnya maka akan menancap mengenai sasarannya. Bagi Yuna, ucapan Zain terlalu menyakitkan. Sesabar-sabarnya seorang Yuna, ia tetap saja tidak bisa menerima saat karakternya di ragukan oleh seseorang yang dekat dengan hatinya, Zain De Lucca.
"Bangun."
Zain langsung bangun, kepalanya tertunduk.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mau kembali padamu?"
"Aku akan tiada!" Balas Zain tanpa keraguan.
"Kenapa kau tiada saat kau sendiri tidak mencintaiku?" Yuna kembali bertanya.
"Aku tidak pernah tidak mencintaimu, aku selalu mencintaimu dalam setiap keadaanku. Jantungku berdetak hanya untukmu. Dan dalam setiap tarikan nafasku, aku hanya mendoakanmu." Zain menatap Yuna, netra birunya memerah karena ia tak bisa menghentikan air matanya.
"Jika kau mencintaiku, lalu kenapa kau menjauhiku? Kau bahkan tidak mau mendengar penjelasanku. Apakah cintamu sungguh serapuh itu?"
__ADS_1
Zain tercekat, ia tidak bisa membuka bibirnya. Seolah ucapan Yuna menampar wajahnya, mereka menikah namun mereka selalu terpisah untuk alasan yang lemah.
...***...