
Waktu telah menunjukan pukul 3.00 pagi namun dua anak manusia, Zain De Lucca dan Yuna Dinata masih bergelut di atas kasur empuknya untuk menuntaskan semua hasrat yang terpendam.
Zain yang selama ini selalu berpuasa dan menekan keinginannya untuk tidak menyentuh istri berharganya kini merasa bahagia. Bahkan Yuna yang masih berada di bawah kungkungan Zain tak mengeluh sedikit pun, ia hanya ingin memberikan pelayanan terbaiknya sehingga Zain tidak akan mengeluh terhadap apa yang mereka lakukan semalaman ini.
"Terima kasih, sayang." Zain berucap sambil berbisik, bibirnya mengukir senyuman.
"I love you." Sambung Zain lagi, ia menempelkan keningnya di kening mulus Yuna, setelah itu ia berusaha melepaskan miliknya yang masih menancap di dalam diri istrinya, berbaring di samping wanita yang sangat ia cintai.
"Kenapa berterima kasih? Aku bahagia, sangat bahagia untuk kita berdua." Ujar Yuna dengan nada suara pelan, yang kemudian di balas oleh senyuman menawan dari Zain.
Zain menarik selimut, menutupi tubuh polos berkeringat milik istri cantiknya. Seakan tidak bosan, Zain kembali melayangkan kecupan singkatnya di bibir mungil Yuna, bibir yang selalu di hiasi oleh kata-kata indah yang selalu berhasil menenangkan jiwanya. Jiwa liar seorang Zain De Lucca.
Zain berusaha memejamkan mata, ia menarik Yuna ke dalam pelukannya. Akhirnya hal yang ingin ia lakukan bersama Yuna, yakni tidur saling memeluk di bawah selimut yang sama seperti malam ini bisa ia rasakan saat ini juga. Zain merasa dunia tercipta hanya untuknya, karena semua yang ia inginkah berada dalam genggamannya dan tak ada lagi yang ia inginkan dalam hidup ini.
"Aku yang paling bahagia. Akhirnya setelah melewati sepekan yang berat, Allah bersikap baik pada ku dengan membayar lunas penderitaan itu dengan ke bahagiaan." Ucap Zain berterus terang, karena itu lah yang ia rasakan.
"Allah selalu baik. Terkadang kita yang tidak sabar menerima ujian. Kita memaki, bahkan kita melakukan hal yang di benci oleh Allah. Padahal jika kita tahu, sabar itu jauh lebih baik dari pada sekedar mengeluhkan keadaan." Ujar Yuna sembari melingkarkan tangannya di tubuh kekar Zain De Lucca dan Zain membalas dengan perlakuan yang sama, dua anak manusia itu saling memeluk di bawah selimut tebal yang membungkus tubuh berkeringat mereka.
__ADS_1
Satu menit.
Dua menit. Hingga menit keempat terlewat, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Yuna atau pun Zain. Keduanya sama-sama menikmati momen ini tanpa perlu banyak bicara.
"Aku penasaran, dan aku ingin bertanya. Apa aku boleh melalukannya?" Yuna membuka suara di antara senyapnya udara.
"Untuk apa meminta izin! Yuna ku memiliki hak untuk setiap hal dalam hidupku. Bahkan jika kau meminta nyawaku..." Ucapan Zain tertahan di tenggorokannya karena Yuna menutup bibirnya.
"Akan ku berikan dengan suka rela." Sambung Zain lagi setelah ia melepaskan jemari Yuna yang menempel di bibirnya. Mencium aroma tubuh Yuna membuatnya merasakan ketenangan yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
"Aroon." Balas Zain singkat.
"Tidak mungkin! Aroon berjanji tidak akan memberitahukan keberadaan ku padamu."
"Iya, dia tidak ingin memberitahukan padaku. Tapi aku hampir saja mematahkan rahangnya." Ucap Zain sambil bangun dari ranjang, ia duduk, memorinya mengingat kembali saat ia dan Aroon saling berduel. Tidak ada yang kalah hingga Zain sendiri yang memutuskan untuk menyerah, karena jika di teruskan sudah di pastikan Aroon akan masuk kerumah sakit. Mereka bukan lawan yang sepadan.
"Kita akan menjadi orang tua dari seorang anak." Yuna ikut bangun dan duduk menghadap Zain. Ia mengambil tangan Zain kemudian meletakkan tangan itu di perutnya yang terasa semakin hari semakin berisi.
__ADS_1
"Kita tidak tahu jenis kelaminnya. Beberapa pria kecewa pada istrinya karena istrinya melahirkan anak perempuan. Padahal laki-laki atau perempuan, itu sama-sama pemberian Tuhan. Allah." Ucap Yuna dengan nada suara nyaris tak terdengar.
"Apa kau akan kecewa padaku jika aku melahirkan anak perempuan dan bukannya anak laki-laki?" Yuna kembali bertanya, entah kenapa air matanya tiba-tiba saja menetes.
Zain merangkul Yunanya, meletakkan kepala wanitanya di dada bidangnya. Zain mengelus rambut panjang Yuna dengan lembut seolah mengabarkan kekhawatiran Yuna tidak akan pernah terjadi dalam kehidupannya yang di penuhi cinta.
"Untuk ku, laki-laki atau perempuan sama saja. Apa pun jenis kelaminnya selama dia anak kita, aku akan selalu bahagia. Justru, aku mau anak perempuan." Ucap Zain dengan semangat. Yuna yang mendengarnya malah tersenyum.
"Anak perempuan?" Yuna bertanya, keningnya berkerut.
"Iya, aku mau anak perempuan. Aku ingin menjadi ayah dari anak gadis yang cerdas. Aku ingin putri kita secantik ibunya dan setangguh ayahnya." Ujar Zain sembari membayangkan kecantikan putri masa depannya.
"Putri kita harus seanggun Yunaku, tidak mudah menyerah seperti aku ayahnya." Sambung Zain lagi.
Azan subuh sebentar lagi, Zain dan Yuna memutuskan untuk tidak tidur. Mereka bicara seolah tidak ada hari esok untuk mengungkapkan cinta, saling merayu dan saling mengungkapkan perasaan, begitulah cara keduanya mengisi malamnya.
...***...
__ADS_1