
Setelah makan malam, Zain langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri. Kini setelah merasa segar, wangi, dan tentunya percaya diri, Zain langsung beranjak menuju ruang tengah. Dan di sini lah ia sekarang, di ruang tengah, berdiri mematung, saling menatap dengan Yuna tanpa berucap sepatah kata.
"A-apa yang kau lihat?"
Gugup! Itu lah yang di rasakan Zain setiap kali Yuna menatap dirinya dengan tatapan terpesona. Dan tanpa Yuna sadari, hal itu semakin membuat Zain mencintainya berlipat-lipat kali. Sederhana memang, namun itulah yang di namakan kekuatan cinta.
"Aku?" Yuna bertanya sembari menunjuk dirinya sendiri. Yang kemudian di balas oleh anggukan kepla pelan oleh seorang Zain De Lucca.
"Aku sedang menatap suamiku!" Jawab Yuna dengan percaya diri. Senyuman semanis madu terpancar di wajah cantiknya dan hal itu semakin membuat Zain panas dingin ingin menyentuh istri cantiknya.
"Kau tahu kan? Hal yang kau lakukan itu berhasil membuat ku..." Ucapan Zain menggantung di udara. Ia tidak berani melanjutkan ucapannya karena semua ini terlalu beresiko untuk dirinya yang pada dasarnya sudah tergoda.
"Kenapa? Apa aku cantik? Dan kau merasa terancam?" Yuna mencecar Zain dengan pertanyaan singkatnya. Pertanyaan yang berhasil membuat Zain tak berkutik.
Wajah seindah purnama, senyum semanis madu, tubuh seramping gitar spanyol, dan pesona bibir tipis itu... Zain ingin meraupnya, mencecapnya, dan menyatukan dirinya seperti pasangan suami istri pada umumnya. Dan lihatlah dirinya, ia bagaikan pria bodoh di hadapan hasratnya sendiri, tak bisa berkutik karena memang ia tidak punya kuasa atau pun kekuatan untuk itu. Semua ini terlau menyiksa. Masih untung ia bisa bertahan untuk tidak menyentuh seorang Yuna Dinata yang kecantikannya sudah di akui oleh jiwa dan raganya. Hal Yang bisa ia lalakukan hanya bertahan. Bertahan untuk selalu terlihat kuat dan tentunya terlihat tanpa hasrat.
"Iya, kau terlalu cantik." Jawab Zain tanpa ragu-ragu.
__ADS_1
"Terlalu cantik untuk di tinggalkan sendirian. Karena itu lah aku tidak ingin pria manapun menatap istriku. Hanya aku yang memiliki hak untuk itu. Hanya aku." Sambung Zain penuh percaya diri.
Yuna! Iya, dia bersemu memerah mendengar ucapan Zain yang mengatakan dirinya berharga dan tak tergantikan. Secara tidak langsung, Zain menjelaskan betapa berarti dirinya, dan hal itu membuat Yuna merasakan bahagia luar biasa.
Upst! Hampir saja aku melupakan tujuan ku. Yuna bergumam di dalam hatinya sembari menatap Zain dengan tatapan takjub.
"Aku hampir melupakan tujuan ku." Yuna berucap sembari berjalan mendekati Zain, meraih jemarinya, berjalan berdua kearah sofa kemudian duduk di sana dengan cara saling menatap.
"Aku tahu, kau ingin bicara dengan ku. Sekarang katakan, apa yang mengganggu pikiran Mu?" Zain mulai membuka suara tanpa melepas tatapan lembutnya dari Yuna Dinata, gadis manis yang selalu menggetarkan jiwa.
"Ahh, Iya. Aku hampir lupa."
"Aku ingin bekerja."
Zain langsung menelan saliva mendengar ucapan spontan Yuna Dinata. Bagaimana tidak terkejut? Untuk ukuran dirinya yang merupakan pengusaha ternama di Thailand, mendengar permintaan istrinya untuk bekerja itu bagaikan penghinaan tingkat tinggi.
"Be-bekerja?"
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Istri seorang Zain De Lucca bekerja?"
"Itu penghinaan untuk ku!" Celoteh Zain dengan wajah menahan amarah.
Yuna menggigit bibir bawahnya agar ia tidak mengatakan kata-kata yang akan membuat Zain merasa kesal. Untuk pertama kalinya ia meminta sesuatu dan untuk pertama kalinya pula ia merasa seperti nyamuk yang sedang di abaikan.
"Aku ingin bekerja."
"Aku tidak bisa tetap di rumah tanpa melakukan apa pun. Aku merasa sesak." Keluh Yuna tanpa melepas tatapan mengharap kelonggaran.
Bukannya mengatakan 'Iya' atau 'Tidak' Zain malah berlalu dari ruang tengah. Berjalan menuju kamarnya dengan membawa wajah kesal. Tanpa ia sadari Yuna mengekorinya dari belakang, untuk menanti jawabannya.
Brakkk!
Zain membanting pintu cukup keras, membuat Yuna terkejut luar biasa. Yuna mematung di depan pintu tanpa bisa berucap sepatah kata pun.
__ADS_1
...***...