Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (56)


__ADS_3

Waktu terasa berjalan sangat cepat. Setelah bicara sebentar, Yuna dan Zain memutuskan untuk istirahat sambil berpegangan tangan di atas ranjang yang sama. Saat Yuna terlelap, ia tidak menyadari pria-nya tidak bisa berhenti menatap wajah sempurnanya. Bukan hanya itu, Zain bahkan meneteskan air mata dalam diam. Hanya ia dan Tuhan-nya saja yang tahu betapa hatinya di liputi oleh duka mendalam.


"Tii-rak. Tolong kemari sebentar!" Pinta Yuna dengan suara lemah lembut. Mendengar dirinya di panggil, lamunan Zain tentang kejadian di kamar sirna begitu saja. Sekilas, bibir Zain kembali mengukir senyuman mendalam mendengar panggilan sayang dari Yuna-nya. Tii-rak dalam bahasa Thailand betarti My Love atau May Dear.


"Iya, aku datang." Balas Zain tanpa bisa melepas senyuman menawan dari bibirnya. Ia meninggalkan Shawn bersama putra kecilnya yang sedang bermain di sofa.


"Apa Mansion sebesar ini akan kalian tinggali hanya berdua saja? Apa kalian tidak merasa kesepian?" Raina, Kakak Ipar Zain dan Yuna mulai membuka suara setelah Zain berdiri di samping istrinya.

__ADS_1


Untuk sesaat, Zain dan Yuna saling menatap kemudian mereka saling menggelengkan kepala pelan, mengisyaratkan tidak pada Kakak Ipar mereka.


"Kenapa kalian tidak menyewa beberapa Asisten Rumah Tangga? Kakak yakin kau tidak akan sanggup mengurus Mansion sebesar ini sendirian jika Zain berangkat ke kantor." Sambung Raina lagi, ia memegang lengan Yuna sembari menatap Adik Iparnya lekat.


"Mereka akan datang hari ini, Kak." Jawab Zain mendahului Yuna.


"Iya, baiklah. Aku percaya pada Mu, aku yakin kau akan selalu menjaga Yuna kami. Satu pinta ku pada kalian berdua, kalian harus saling mempercayai apa pun keadaannya, karena bisa saja badai rumah tangga itu datang dari orang yang tidak kita duga. Jangan sampai hubungan kalian berakhir hanya karena saling tidak percaya." Celoteh Raina sambil menatap kedua Adik Iparnya secara bergantian.

__ADS_1


"Kakak tidak perlu khawatir, Zain sangat mencintaiku. Dia tidak akan meragukan ku. Iya, kan Tii-rak?" Yuna bertanya, namun tangannya menyikut lengan Zain, mau tidak mau Zain langsung berkata iya. Tentu saja ia berucap dengan sadar dan juga tanpa paksaan.


"Iya, Kak. Apa yang di katakan Yuna itu benar, aku mendapatkannya dengan susah payah. Dan setelah mendapatkannya, aku akan selalu menjaganya, mencintainya, menghormatinya, dan terutama memastikannya untuk selalu bahagia." Ujar Zain bersungguh-sungguh. Ia menatap netra teduh Raina dengan perasaan bercampur aduk. Ia mengatakan akan selalu membahagiakan Yuna, namun dalam hatinya ia merasakan takut luar biasa. Bagaimana tidak takut, wajarnya pasangan lain akan berbagi segalanya. Tidak seperti Zain yang masih menyembunyikan banyak rahasia, entah apa tanggapan Shawn dan Raina jika mereka tahu adik satu-satunya menikah dengan pria tidak sempurna yang memiliki duka sepanjang masa.


"Kak, aku lapar. Ayo kita makan malam!" Pinta Yuna agar kakak iparnya tidak bertanya lagi. Ia khawatir akan keceplosan dan mengatakan Zain, suami berharganya menderita HIV (Human Immunodeficiency virus). Mengetahui kebenaran itu saja sudah menghancurkan hatinya, lalu bagaimana mungkin ia akan mengungkap kebenaran pahit itu di depan dua sosok yang sangat ia cintai dan hormati, Shawn dan Raina.


Dalam Al-qur'an di jelaskan, suami adalah pakaian untuk istri, dan istri adalah pakaian untuk suami. Kita tercipta untuk saling melengkapi dan juga saling menutupi aib. Sekecil apa pun kelemahan yang ada dalam diri Mu, aku berjanji akan selalu menjaganya. Bahkan, jika tangan kanan ku mengetahui kebenaran Mu, aku tidak akan pernah menceritakannya pada tangan kiri ku. Batin Yuna sambil berjalan di samping Zain. Tadi, ia memanggil Zain untuk membantunya membawa makanan menuju meja makan yang ada di ruang tengah, tidak di sangka Raina mulai membuka pembicaraan singkatnya. Untung saja, baik Yuna atau pun Zain tidak sampai keceplosan kalau selama ini mereka pisah ranjang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2