
Waktu menunjukkan pukul 21.00 ketika Yuna menginjakkan kakinya di Mansion Lucca, mansion megah yang ia tinggali selama beberapa bulan ini. Sungguh, Yuna tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Zain, pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu terlihat sempurna saat bertindak sebagai Profesor saat mengajarnya di kelas dulu. Waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin Yuna dan Zain menjadi orang asing, tapi lihatlah sekarang, mereka menjadi pasangan, Insya Allah sampai ke Surga.
"Apa menurutmu aku akan bahagia mendengar berita kehamilan mu? Aku tidak bisa." Zain mencengkram kedua lengan Yuna, ucapannya penuh dengan penekanan, ia marah, sangat marah sampai ingin menghancurkan semua hal yang ada di dekatnya. Untuk pertama kali dalam hidup ini Zain merasa di hianati, ia murka.
Yuna yang tadinya berniat menyampaikan berita bahagia pada Zain terlihat terkejut, ia mematung, menantikan tindakan Zain selanjutnya.
Aku tidak melihat cinta di matanya! Dia marah. Dia kecewa. Dan dia terlihat putus asa. Ada apa sebenarnya?
Hamil? Dia menyebutkan satu kata itu, dari mana dia mengetahuinya? Aku bahkan belum mengatakan apa pun. Tuan Aroon, aku yakin pria itu tidak akan mengingkari janjinya untuk tidak mengatakan apa pun pada Zain. Yuna bergumam di dalam hatinya, ia menatap Zain yang terlihat berantakan.
Ploy? Ckk! Aku yakin wanita menyebalkan itu biang dari ke kacauan ini. Aku akan mengurusnya nanti. Yuna kembali bergumam di dalam hatinya, ia menangkup wajah Zain dengan jemari lembutnya. Yuna tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Zain ku terlihat khawatir. Katakan, ada apa? Jangan menyimpan semuanya di hatimu!" Ucap Yuna pelan, ia mencoba menyelam dalam rasa sakit yang Zain rasakan, berharap ke hadirannya akan menyingkirkan duka prianya.
"Jika kau memiliki keluhan tentang diriku, katakan segalanya. Insya Allah aku akan berlapang dada, aku tidak akan marah." Sambung Yuna lagi, wajah cantiknya mengukir senyuman.
"Bagus kau mengatakannya, dengan begitu aku tidak akan merasa bersalah nantinya." Ucap Zain dengan sorot mata setajam belati.
__ADS_1
Kemarahan! Itu lah yang Yuna tangkap dari tutur kata singkat yang Zain lontarkan, ia melepaskan pelukannya sembari mundur dua langkah.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Namun aku kecewa. Sangat kecewa sampai-sampai aku tidak ingin melihat wajah mu lagi. Katakan, anak siapa yang kau kandung?"
Yuna langsung melemah, ucapan Zain terdengar bagai intimidasi yang mengoyak jiwa dan raganya. Anak siapa yang kau kandung? Pertanyaan Zain itu terus saja bergema di indra pendengarannya. Yuna berharap Zain menembaknya saja dari pada pria itu meragukan karakternya. Ia bukan pezina dan tidak akan pernah melakukannya walau dalam mimpi sekali pun.
"Kau sudah tahu? Siapa yang memberi tahumu?" Tanya Yuna penasaran.
"Tidak penting dari mana aku mengetahui segalanya. Yang penting itu, siapa ayah dari anak yang kau kandung?" Zain kembali berteriak tepat di depan wajah Yuna. Netra birunya memerah, sikap yang Zain tunjukkan layaknya singa yang ingin menerkam mangsanya.
Yuna! Gadis itu masih mematung, sekujur tubuhnya terasa membeku. Teriakan dan ucapan Zain kembali menghancurkan harga dirinya. Harga diri Yuna tercoreng, ia merasa seolah wajahnya di lempari dengan kotoran.
"Aku merasa jijik!"
"Aku muak. Aaaa!" Zain melempar benda-benda yang bisa di jangkau tangannya, ia kembali berteriak, dinding-dinding mansion Lucca terasa bergetar.
Yuna! Gadis itu masih mematung, ia sangat terkejut melihat reaksi Zain yang menurutnya sangat di luar dugaan. Dengan sekuat tenaga Yuna mengumpulkan kekuatannya, kekuatan untuk menatap netra Zain yang sejak tadi terus saja meremehkan dirinya.
__ADS_1
"Cu-cukup, Zain. Cukup. Kau menghancurkan kepercayaan ku terhadap mu." Yuna berucap sembari menangkup wajah kesal Zain. Bukannya menghentikan aksinya, Zain malah menepis kedua tangan Yuna hingga wanita itu tersungkur, tangan kanan Yuna membentur ujung meja.
"Kau yang menghancurkan kepercayaan ku, aku merasa jijik berhadapan dengan mu. Aku tidak ingin melihat wajahmu, melihat mu membuat darah ku mengalir sepuluh kali lebih cepat." Sentak Zain dengan amarah membuncah.
"Sudah cukup aku mendengar penghinaan ini. Kau semakin keterlaluan Zain, sangat keterlaluan. Kau menghinaku dan aku tidak bisa menerimanya." Balas Yuna dengan wajah memerah, ia sangat marah.
"Aku tidak perduli dengan pendapat mu. Katakan, siapa ayah dari anak yang kau kandung? Setelah kau mengatakannya, kau bisa pergi menemui pria bajingan itu." Zain kembali menghancurkan harga diri Yuna dengan ucapan kasarnya.
"Aku yang bodoh. Aku tidak menyangka pria itu akan memperlakukan ku seburuk ini. Aku tidak pernah menduga pria itu akan mengabaikan ku, dia menghinaku, dia meragukan ku, dan dia juga menghancurkan kepercayaan diriku. Jika kau berada dalam posisiku, apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui orang yang sangat kau cintai mulai mengabaikan mu?" Yuna bertanya dengan suara selembut sutra, ia ingin mendengar jawaban Zain secepatnya.
"Setelah pria itu menghinaku, haruskah aku tetap bersamanya? Katakan Zain, apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisiku? Dan jika kau pria itu, haruskah aku tinggal di sisimu setelah kau menghinaku sebesar ini?
Aku bukan seorang pezina, dan aku pun bukan keturunan pezina. Kau menghinaku, kau juga meragukan didikan ayah dan ibu ku. Aku kecewa padamu.
Maafkan aku, aku tidak bisa memaafkan mu. Mari kita akhiri semua ini tanpa perdebatan lagi, aku tidak punya tenaga untuk meladeni mu." Ucap Yuna penuh penekanan, ia membawa tangisnya sembari berjalan pelan, meninggalkan Zain untuk kembali ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Aku belum selesai, kita harus bicara agar semuanya jelas." Zain berteriak sembari menatap Yuna yang saat ini berlari di lantai dua, wanita itu mengusap perutnya yang masih datar, menangisi betapa buruk waktu yang ia lalui saat ini.
__ADS_1
...***...