
Setelah mengambil kunci mobilnya, Zain langsung berlari meninggalkan kamarnya dengan terburu-buru. Yang ada dalam benaknya hanya menyusul Yuna-nya menuju Bandara. Membawa wanita itu pulang kemudian meminta maaf padanya, yang lebih besar dari itu semua, ia ingin menceritakan semua hal yang di simpannya rapat-rapat. Entah bagaimana tanggapan Zain nantinya jika ia sampai mengetahui kalau Yuna sendiri telah mengetahui semua rahasianya.
"Hati-hati." Ucap Yuna dengan suara lantang.
Begitu membuka pintu, Yuna langsung di kejutkan oleh sikap ketidak hati-hatian Zain. Hampir saja pria pemilik iris biru itu terpelanting dari tangga karena kakinya tidak sengaja menyandung kakinya yang lain. Namun untung saja tangannya berpegangan dengan kuat di tangga sehingga peristiwa buruk itu dapat di hindari.
Sementara itu Zain, setelah mendengar suara wanita yang hampir membuatnya hilang akal sejak pagi karena sangat merindukannya, matanya langsung berkaca-kaca. Bukannya mengindahkan ucapan Yuna, Zain malah berlari seperti kuda pacu ke arah istrinya, memeluk tubuh ramping istrinya kemudian melayangkan kecupan di puncak kepalanya, cukup lama ia berada dalam posisi itu tanpa menyadari Kakak Iparnya sedang memperhatikan dirinya di depan pintu.
__ADS_1
Zain kembali memeluk Yuna, entah kenapa air matanya tiba-tiba menetes tanpa bisa ia tahan lagi. Membayangkan Yuna pergi dari hidupnya membuat Zain seolah tiada.
"Jangan pernah pergi dari ku."
"Bahkan jika aku dalam keadaan sekarat, kau harus membangunkan ku. Apa kau tahu? Aku ketakutan setengah mati. Aku berpikir kau meninggalkan ku dan aku tidak akan pernah melihat Mu lagi. Membayangkan hal itu membuat nafas ku terasa sesak. Sungguh, kehilangan nyawa ini lebih baik untuk ku dari pada kehilangan dirimu. I love you Yuna Dinata." Tutur Zain tanpa bisa mengendalikan perasaan sedih bercampur bahagianya.
Seketika Zain tersadar, iris birunya menatap dua sosok indah yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Ka-kakak ipar, maaf. Mari masuk." Sambut Zain ramah, ia malu, namun sebisanya ia menekan perasaan itu agar tidak terlihat konyol di depan kedua sosok yang sangat ia kagumi. Shawn Praja Dinata dan istrinya, Raina Salsadila. Kakak Iparnya yang sangat ia kenal sebagai sosok yang penuh dengan cinta.
Shawn mengangguk, sedetik kemudian ia mulai terseyum. Ia bahagia melihat perlakuan manis Zain pada adiknya. Ketimbang menikmati kopi, Shawn dan Raina memutuskan untuk beristirahat sebentar. Mereka merasa kelelahan setelah melewati perjalan panjang.
Zain pun demikian, setelah Kakak Iparnya masuk kedalam kamar, ia segera menarik Yuna kedalam kamarnya. Ia menatap wajah cantik istrinya sepuas hatinya, namun semakin ia menatap wajah Yuna semakin ia merasakan Rindu dan Cinta di saat bersamaan. Apakah ini yang disebut cinta sejati? Entahlah, Zain sendiri tidak tahu itu. Selama ini Ia menghabiskan setengah hidupnya di tengah para gadis yang selalu menempel padanya, dan ini untuk pertama kalinya ia merasakan Cinta dan Rindu sebesar ini terhadap wanita, wanita halal yang sudah sah menjadi istrinya. Namun buruknya, ia tidak bisa menyentuhnya sekuat apa pun ia menginginkannya. Apakah ini karmanya karena terlalu banyak menyakiti wanita? Dalam hati Zain berdo'a semoga dukanya lekas sirna sebagaimana malam yang gelap gulita yang di gantikan dengan siang.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat ketakutan?" Yuna bertanya sambil menatap wajah tampan suaminya. Nampak jelas kesedihan yang terpancar dari iris biru seorang Zain De Lucca. Bukannya menjawab pertanyaan Yuna, Zain kembali memeluk istrinya dengan erat, seolah hari esok tidak akan penah datang lagi.
__ADS_1
...***...