Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Ingin Pulang (Zain)


__ADS_3

Malam semakin larut, pesta yang di gadang-gadang menjadi pesta terbaik di Thailand itu masih berlangsung hingga saat ini. Zain yang sedari tadi terlihat bicara dengan koleganya tampak tidak tenang.


Iya, dia tidak tenang karena meninggalkan Yuna sendirian. Setelah mereka makan malam Zain meminta izin sebentar pada Yuna untuk bicara dengan koleganya, jika ia tahu sebentar yang ia maksud akan menghabiskan waktu ber jam-jam, tentu saja ia akan meminta Yuna untuk pulang duluan, ia tidak akan membiarkan wanitanya menunggu sendirin.


"Tuan Zain, putri saya sangat mengidolakan tuan. Seandainya tuan belum menikah, saya pasti akan menjodohkan tuan dengan putri saya. Tidak heran kenapa putri saya bisa mengidolakan tuan, tuan begitu luar biasa. Saya yakin wanita mana pun pasti akan mengantri di belakang." Ujar pria paruh baya yang baru saja menandatangi kontrak kerja sama dengan perusahaan hiburan yang di kepalai oleh Zain De Lucca.


Zain tersenyum, netra birunya terlihat bersinar, sejujurnya ia merasa aneh mendengar ucapan koleganya itu. Ternyata pesonanya masih kuat di hadapan para wanita. Untungnya ia sudah memiliki Yuna, masa lalu kelam yang pernah ia lewati dulu tidak akan terulang kembali. Itu benar-benar menakutkan, Zain tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang dosa.


"Tuan Nong benar, Zain selalu di kelilingi wanita cantik. Dan lihatlah sekarang..." Timpal Aroon sembari tersenyum tipis. Sejujurnya ia ingin meledek Zain.


"Sejak menikah ia berubah menjadi pria rumahan, ia tidak berani keluar malam. Ia bahkan tidak berani menenggak segelas minuman beralkohol, setiap kali aku mengajaknya, ia selalu mengulangi ucapan yang sama 'Istriku tidak akan menyukainya." Cicit Aroon sembari menepuk pundak Zain pelan. Ia tersenyum untuk mengekspresikan kekagumannya atas perubahan sahabatnya itu.


Zain yang Aroon tahu adalah tipe pria bebas, ia tidak bisa hidup dengan satu wanita karena memang dunianya di kelilingi oleh banyak wanita. Aroon pun menyadari, semenjak Zain menikahi Yuna, pria itu bagai merpati yang patah sayapnya. Tidak ada lagi dunia malam apa lagi pergaulan bebas yang di penuhi oleh minuman, bukan minuman bersoda, melainkan minuman beralkohol.

__ADS_1


"Sudahlah, kau tidak perlu mengatai ku seperti itu. Carilah wanita yang baik sebagai pasangan mu agar kau tahu menikah itu sangat menyenangkan dan lebih indah dari apa yang kau pikirkan." Ujar Zain membela diri. Tuan Nong terkekeh mendengar ucapan spontan Zain, Aroon yang tadinya berniat meledek sahabatnya malah berubah menjadikan dirinya bahan candaan.


Bagaimana aku bisa menikah jika wanita yang selalu datang dalam mimpiku ada bersama mu. Cicit Aroon di dalam hatinya, ia mengusap wajahnya dengan kasar namun bibirnya menyunggingkan senyuman.


Sementara itu di tempat berbeda, Yuna terlihat memuntahkan isi perutnya. Taksi yang ia tumpangi berhenti di trotoar, untungnya tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang.


"Nona, apa anda baik-baik saja?"


Yuna melambaikan tangan, memberikan isyarat agar sopir taksi itu tidak perlu mendekatinya. Yuna merasa perutnya seperti di kocok, kepalanya pening.


"Apa nona ingin saya membawa anda ke rumah sakit?" Sopir itu kembali bertanya.


"Tidak, terima kasih." Balas Yuna sembari bangun dari posisi duduknya. Sekarang ia merasa lebih baik. Ia mengeluarkan sapu tangan yang Zain berikan padanya, perlahan ia mulai membersihkan bibirnya.

__ADS_1


"Aku tidak meminum minuman beralkohol. Tadi, tanpa sengaja, seseorang menumpahkan minuman itu di pakaian ku. Aku merasa mual, aromanya membuatku tidak nyaman." Celoteh Yuna pelan, setelah menjelaskan kondisinya, ia mulai membuang nafas kasar. Kemudian kembali masuk ke dalam mobil yang akan membawanya menuju Mansion Lucca.


...***...


"Akhirnya, pembicaraan tidak penting ini berakhir juga." Ujar Zain sembari menatap arlogi yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia terlihat senang, namun di detik selanjutnya ia malah terlihat galau. Bangku yang Yuna duduki sejam yang lalu terlihat kosong dan hal itu membuatnya merasakan kekhawatiran tingkat tinggi.


"Apa kau melihat istri ku?" Zain bertanya sambil menepuk bahu asistennya.


"Tuan, ini pesan dari nyonya." Asisten Zain menyodorkan sebuah pesan yang di tulis di atas tissu berwarna hijau.


Aku minta maaf, aku pulang tanpa memberi tahu mu. Gaun yang ku kenakan terkena tumpahan alkohol dari orang yang tidak ku kenal. Aku benci dengan aromanya, aku merasa mual. Tulis Yuna dalam pesan singkatnya, ia lupa memasukkan ponsel ke dalam tas yang ia bawa karena itu ia menulis pesan di atas tissu.


"Hmm!" Zain menghela nafas, ia sangat kecewa. Di tinggalkan Yuna membuatnya terasa menyedihkan.

__ADS_1


"Ayo kita pulang." Perintah Zain pada asistennya, tidak ada Yuna di sisinya membuat dunianya tak berarti. Baru saja ia melangkahkan kaki untuk pergi, seseorang menarik pergelangan tangannya tepat di depan pintu ballroom.


...***...


__ADS_2