
Yuna berjalan menuju ranjang, tatapannya tertuju pada Zain yang sudah terlelap entah sejak kapan. Tubuh jangkung itu tertutup selimut kecuali kepala, perlahan Yuna naik keatas ranjang, ia juga menutupi tubuhnya dengan selimut yang sama dengan Zain, namun hanya sebatas dada saja.
Tanpa berucap sepatah kata, Yuna mulai melingkarkan pergelangan tangannya di tubuh Zain yang tertutup selimut.
"Aku tahu kau masih marah, tapi untuk kali ini jangan lakukan itu, aku lebih suka pada Zain ku yang selalu tersenyum manis." Ucap Yuna sambil mengeratkan tangannya di pinggang Zain. Tidak ada pergerakan dari Zain dan hal itu membuat Yuna yakin Zain sudah terlelap.
"Besok kakak dan kakak ipar akan meninggalkanku, ku akui aku sangat sedih. Namun kau tahu apa yang lebih membuatku sedih dari pada melihat kakak pergi?" Ucapan Yuna tertahan di tenggorokannya. Ia mencium pundak Zain sambil meneteskan air mata. Seandainya Zain bisa mendengar ucapannya, ia juga akan mengetahui Yuna-nya sedang sedih.
"Aku lebih sedih saat kau mengabaikanku dan bersikap dingin padaku. Sungguh, seorang wanita membutuhkan ketenangan, dan ketenanganku ada bersamamu. Kita tidak perlu hidup seperti pasangan suami istri pada umumnya. Kau cukup tersenyum padaku setiap hari, memakan makanan yang ku buatkan untukmu walau masakan ART yang Mommy kirim untuk kita jaih lebih enak." Celoteh Yuna untuk kesekian kalinya.
"Jangan singkirkan tanganku dari tubuhmu, kita akan tidur seperti ini hanya untuk malam ini saja." Ucap Yuna lagi. Setelah mengatakan apa yang di inginkan hatinya, Yuna berusaha untuk memejamkan mata.
Malam semakin larut, dua sosok indah yang saat ini berbaring di ranjang telah terlelap. Baik Yuna maupun Zain, tidak ada pergerakan dari tubuh keduanya.
__ADS_1
...***...
Aku bahagia jika kau bahagia, dan jika suamimu mengganggumu, apalagi sampai melukaimu, kau harus janji, kau harus menghubungi kakak. Wanita itu indah, hatinya pun selembut sutra. Jadi kau? Kau harus menjaga dirimu, jangan biarkan Zain menginjak kebanggaanmu. Aku pergi.
"Nona Yuna, apa kabar?"
Yuna tersentak, gunting yang ada di tangannya sampai terjatuh mengenai kakinya. Ingatannya tentang ucapan Shawn seketika buyar begitu saja.
"Ma-maaf!" Ucap Yuna gugup. Ia menatap sosok rupawan di depannya tanpa berkedip.
Yuna kembali tersentak, ia tidak menyangka akan di bentak di hari pertamanya masuk kantor setelah sepekan lamanya ia cuti.
"Maaf, apa aku mengagetkanmu?" Aroon merunduk, ia duduk berlutut sambil memungut gunting yang ada di lantai.
__ADS_1
"Apa ini sakit?" Aroon bertanya dan tangannya menyentuh kaki Yuna, matanya hampir saja meneteskan air mata. Ia sangat sedih, wanita yang di inginkan hatinya tidak bisa ia jangkau lantaran di dahului oleh sahabatnya sendiri. Menyadari Yuna tidak suka, dengan cepat Aroon kembali berdiri. Ia meletakkan gunting yang ada di tangannya di atas meja.
"Maafkan saya pak, tadi saya sedikit terkejut. Tanpa saya sadari saya mulai menjatuhkan gunting itu, dan saya tidak merasakan sakit. Terima kasih." Jawab Yuna dengan wajah di penuhi senyuman.
"Terima kasih? Untuk apa?" Aroon bertanya, ia melipat tangan di depan dada. Berharap Yuna segera menjawab pertanyaan sederhananya.
"Terima kasih karena membantuku memungut gunting itu." Ucap Yuna pelan.
"Dan terima kasih karena memperlakukanku seperti karyawan lain tanpa menghiraukan kalau aku istri dari sahabatmu." Sambung Yuna lagi.
Istri?
Tanpa Yuna sadari, ia telah melukai hati Aroon. Bagaimana tidak terluka, saat Aroon menginginkan gadis yang ada di depannya sebagai pendamping hidupnya, justru wanita itu menegaskan kalau Aroon tidak akan mendapatkan kesempatan sekecil apapun kesempatan itu.
__ADS_1
...***...