
Ucapan Raina terdengar bagai topan yang akan menyapu rata kehidupan rumah tangga Yuna dan Zain. Yuna sangat mencintai suaminya, lalu bagaimana mungkin ia akan meninggalkan pria pemilik iris biru itu? Meninggalkan Zain sama saja dengan bunuh diri secara perlahan. Untuk sesaat Yuna memberanikan diri untuk menatap netra teduh Raina, wajah cantik itu terlihat serius. Sepertinya ia tidak sedang bercanda, itulah yang dipikirkan Yuna.
Perlahan Yuna menelan saliva, dalam hati ia berdoa agar di berikan kekuatan oleh yang kuasa, jika berpisah dari Zain adalah jawaban dari bahagianya maka ia sanggup menahan pahitnya perpisahan ini.
"Apa kakak bersungguh-sungguh dengan ucapan kakak?" Yuna bertanya dengan raut wajah memelas, ia berharap Raina akan menjawab tidak.
"Ba-bagaimana mungkin aku meninggalkan Zain, kak? Aku sangat mencintainya." Sambung Yuna dengan suata bergetar. Wajah cantiknya terlihat pucat, minimnya cahaya membuat Raina tidak menyadari itu.
__ADS_1
"Kau bertanya, kan? Maka aku memberikan jawaban. Sekarang pikirkan, apa yang di inginkan hatimu? Apa kau ingin berpisah dari Zain?" Raina kembali duduk di samping Yuna, dua wanita cantik itu berusaha untuk saling menguatkan.
"Aku tidak ingin berpisah, kak." Jawab Yuna dengan suara nyaris tak terdengar. Ia kembali memeluk tutut dan membenamkan wajahnya.
"Jika kau sudah tahu jawabannya, untuk apa kau bertanya? Apa kau benar-benar mencintainya?" Raina bertanya sambil mengelus pundak adik iparnya, tidak ada balasan dari Yuna selain anggukan kepala pelan.
"Jika itu kakak mu, dan beliau didiagnosa menderita penyakit mematikan. Satu hal yang akan ku lakukan, mencintainya. Aku akan semakin mencintainya sehingga ia tidak akan memiliki ruang untuk merasakan duka. Menggenggam erat tangannya hingga kami tidak punya waktu untuk meneteskan air mata. Cinta itu menguatkan bukan melemahkan, maka jadilah kekuatan yang akan selalu membawa senyuman untuk pasanganmu. Aku doakan semoga hubunganmu dan Zain tidak akan mudah retak seperti gelas kaca." Raina berucap dari hatinya, karena memang sebesar itu cintanya untuk suaminya Shawn Praja Dinata saudara satu-satunya Yuna Dinata.
__ADS_1
"Jadi, apa kau punya pertanyaan lain? Atau kau masih memendam kesedihan dihatimu? Masalah dalam rumah tangga itu pasti ada. Hanya saja, semoga yang kuasa selalu menguatkanmu untuk selalu tegar menghadapi masalah itu." Sambung Raina lagi. Kali ini ia berdiri dari sofa, ia berniat untuk kembali kekamarnya, terlalu lama meninggalkan suami dan putranya membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ini sudah larut, kembalilah kekamarmu. Aku yakin Zain pasti mencarimu. Katakan padanya kau sangat mencintainya dan akan selalu berada di sampingnya apapun yang terjadi." Tutup Raina untuk yang terakhir kalinya sebelum ia kembali kekamarnya. Sedetik kemudian, tinggal Yuna yang masih mematung di ruang tengah, setelah bicara dengan kakak iparnya pikirannya mulai terbuka.
Perlahan, Yuna mulai berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Butuh tiga menit untuk bisa tiba disana. Yuna deg-degan. Ia khawatir Zain akan kembali bicara ketus padanya, namun perkiraannya salah. Setelah ia membuka pintu, ia mendapati pria pemilik iris biru itu sudah berada di ranjang, menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala.
...***...
__ADS_1