
Zain memijit kepalanya yang tidak sakit, karena memang kepalanya tidak sakit. Pikirannya yang membuatnya merasa seolah dirinya yang paling menderita.
Sejujurnya, Zain merasakan lega karena penyakit yang selama ini tidak pernah bersarang di tubuhnya hanyalah karangan belaka. Yang membuat Zain sangat menderita selama sepekan ini karena penyesalannya melampaui akal sehatnya, penyesalan karena tidak mempercayai wanitanya, Yuna Dinata.
"Aku meminta mu tidak mengganggu ku, apa kau sudah bosan hidup?" Zain berteriak tanpa mengetahui siapa yang datang, ia terlalu malas menatap ke arah pintu. Kepala cerdasnya mulai tertunduk sesaat setelah Ben meninggalkan kantornya.
"Zain aku..."Ucapan Ploy tertahan di tenggorokannya, tatapan tajam Zain seolah mengiris hatinya. Mata biru yang selalu menghangatkan jiwanya kini terasa sedingin salju.
Sedetik kemudian.
"Nona harus keluar, anda tidak bisa menerobos seperti ini." Ben meraih lengan Ploy, ia berusaha menarik wanita itu. Sayangnya Ploy tidak mau bergerak, dan kegaduhan yang di buat Ben berhasil membut amarah Zain kembali meledak.
"Aku sudah bilang tidak ingin di ganggu, apa kau tuli?" Sentak Zain. Suara kerasnya berhasil membuat Ploy terkejut. Dan demi apa pun, Zain tidak perduli pada siapa pun, yang ia tahu ia akan menderita selama wanitanya belum di temukan.
"Ben, bukankah aku sudah memperingatkanmu? Apa kau masih butuh undangan dariku? Atau kau sudah bosan dengan hidupmu?" Sentak Zain untuk kedua kalinya.
"Tuan, maaf. Aku sudah..."
__ADS_1
Ucapan Ben tertahan di tenggorokannya, tatapan tajam tuannya seolah mencabik tubuh kekarnya. Untuk pertama kali setelah delapan tahun berlalu Ben merasa tidak berhadapan dengan tuannya, namun ia berhadapan dengan algojo yang siap untuk memenggal kepalanya.
Ben merinding. Untuk sesaat ia menatap Ploy Nan, dalam hati ia berdoa semoga wanita itu tidak memancing kemarahan tuannya. Kemarahan yang berapi-api.
"Zain aku..."
"Ben, bawa dia keluar. Aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun." Cicit Zain dengan ucapan datar, ia bahkan tidak menatap Ploy Nan. Mau bagaimana lagi, walau mereka bersahabat sejak lama, namun saat ini hati dan pikirannya hanya tertuju pada Yuna saja, wanitanya menghilang dan ia tidak tahu keadaannya.
Nona, aku mohon. Jangan mengatakan apa pun. Aku tidak ingin anda terluka. Batin Ben sambil meraih lengan Ploy. Namun tetap saja gadis itu menepis tangan Ben, ia berjalan mendekati Zain.
"Zain aku..."
"Aku bilang aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Termasuk dia." Kali ini Zain menunjuk Ploy.
"Jika kau bosan dengan pekerjaan mu, aku akan memecatmu. Dasar tidak berguna." Zain memperlihatkan betapa besar amarahnya saat ini. Ia tidak ingin bicara dengan siapa pun, ia juga tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Kehilangan Yuna dan Mommy tidak ingin bicara dengannya membuat Zain sedikit tertekan. Ia bahkan membatalkan rapat hari ini dengan klien penting. Apa lagi yang lebih penting selain menemukan istri cantiknya? Jawabannya, tidak ada.
"Ayo, nona." Ploy tak bisa berkata-kata saat Ben meraih jemarinya. Menuntun gadis itu untuk keluar dari kantor tuannya
__ADS_1
Baru saja Ben membuka pintu, empat pria bertubuh kekar tiba dengan seorang wanita yang di tutup wajahnya dengan kain hitam. Tak ada satu pun karyawan yang mengetahui kedatangan mereka karena kelima orang itu tiba dengan menggunakan lift rahasia, lift yang selalu di gunakan Zain saat pria itu sedang melakukan misi rahasianya untuk mengintai karyawan tidak becus yang bekerja di bawah kendalinya.
"Kalian datang? Siapa wanita itu?" Zain yang melihat kedatangan detektif kepercayaannya langsung melempar tanyanya. Pria pemilik iris biru itu terlihat tak sabaran. Kali ini ia yakin detektif yang ia bayar mahal akan membawa berita besar.
"Tuan, dia wanita yang mengirim foto dan mengancam anda." Seloroh detektif itu begitu ia berhadapan dengan Zain.
Sedetik kemudian, detektif itu mulai membuka kain penutup kepala wanita yang datang bersamanya.
Dag.Dig.Dug.
Bagai di sambar petir di siang bolong, Ploy terkejut luar biasa. Hampir saja ia terjatuh namun dengan cepat Ben menangkap lengannya. Zain yang tadinya marah terlihat semakin marah. Bagaimana mungkin pria pemilik iris biru itu tidak marah saat menyaksikan wanita yang berdiri di depannya.
Wanita itu!
Dia wanita yang sama, wanita yang pernah tidur dengan Zain. Atau tepatnya, dia wanita yang mengirim E-mail dan bukti kalau Zain menderita HIV. Dan bodohnya, kenapa Zain tidak memeriksakan diri, ia cerdas namun begitu mudah di propokasi oleh berita bohong yang ia terima. Dan hal itu berhasil menghancurkan kebahagiaannya. Siapakah yang harus di salahkan? Dan akan seperti apa hukuman yang akan Zain berikan? Semua itu terlihat dari betapa besar kemarahan pria itu, kemarahan yang siap meledak saat ini juga.
...***...
__ADS_1