Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 11


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?"


"Bukankah kau tidak suka saat aku berada di dekatmu?" Yuna bertanya sambil bergerak pelan, karena tubuhnya berada di bawah Zain membuatnya merasa tak bisa mengendalikan diri, posisi ini terlalu berbahaya. Rasanya, darahnya mengalir sepuluh kali lebih cepat. Tidak ada balasan dari Zain, ia hanya bisa diam sembari menikmati kecantikan Bidadari yang ada dalam kungkungannya. Yuna Dinata.


Zain berpikir, kapan lagi ia bisa menikmati keindahan ini setelah ia berperang dengan dirinya sendiri, perang yang mengabarkan kalau Yuna harus menjauh darinya, sejauh-jauhnya.


"Apa kita akan tetap dalam posisi ini? Sampai kapan? Kau sangat berat!" Celoteh Yuna lagi sambil mengetuk kepala Zain dengan kepalanya.


"Ahh! Maaf, aku tidak sengaja." Balas Zain sambil menatap wajah curiga Yuna.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Jelas-jelas kau tidak percaya dengan apa yang barusan aku katakan!" Zain kembali berucap, kali ini ia berjalan kearah sofa kemudian duduk disana.


"Ucapan yang mana?"


"Tunggu sebentar, apakah ucapan yang kau maksud itu ucapan saat kau bilang kau tidak sengaja menindih tubuhku? Itu benar-benar lucu." Yuna berusaha keras menahan tawanya, ia tidak ingin terlihat seperti orang idiot di depan seorang Zain De Lucca.


"Kau diam? Itu artinya kau membenarkan ucapanku, bukan begitu Tuan Zain?"

__ADS_1


"Cck! Aku serius Yuna, aku ingin bicara." gerutu Zain sambil memperbaiki posisi duduknya, ia akan bicara setelah Yuna setuju meluangkan waktunya, tidak akan lama, dua menit sudah cukup.


"Tidak ada yang melarangmu, kau bisa bicara apa pun yang kau inginkan."


Mendengar ucapan ketus Yuna, Zain hanya bisa membuang nafas kasar dari bibir. Ia tahu Yuna tidak ingin mendengarnya, namun ia harus bicara.


"Besok malam kita harus menghadiri acara penting yang di adakan oleh perusahaan milikku. Semua orang tahu aku sudah menikah, dan aku ingin kau menghadiri acara itu. Jika ada yang bertanya padamu, kau cukup menjawab iya atau tidak. Mudah bukan?"


Yuna yang di tanya hanya bisa tersenyum sinis, ia berpikir Zain mendatanginya karena pria itu akan mengubah pikirannya dan mereka akan tinggal di kamar yang sama. Nyatanya itu hanya angan-angan Yuna saja, sekarang ia malah berpikir dia sangat konyol.


"Baiklah."


"Tapi dengan satu syarat." Yuna tersenyum, layaknya gadis belia yang sedang berusaha menggoda lawan jenisnya.


"Apa syaratnya?" Zain bertanya, keningnya berkerut lantaran Yuna mencoba memeras emosinya.


"Kau yakin akan menerima syarat dari ku?"

__ADS_1


"Iya." Balas Zain singkat. Ia berharap syarat yang akan Yuna berikan tidak akan memberatkan posisinya.


"Kau yakin tidak akan marah?"


"Akan ku usahakan untuk tidak marah."


"Kalau begitu tutup matamu. Sekarang!" Perintah Yuna menegaskan. Tidak ada bantahan dari Zain, dan tanpa rasa curiga Pria tampan itu langsung menutup matanya, berharap Yuna tidak akan melakukan hal yang aneh.


Sekujur tubuh Zain bergetar, ia merasa tubuhnya seolah tersengat oleh sengatan listrik bertegangan tinggi. Apa Zain tidak berlebihan? Yuna hanya menempelkan bibirnya di bibir milik Zain tak lebih dari lima detik, namun ekpresi yang di tunjukkan Zain seolah dirinya adalah korban kecelakaan patal yang mengakibatkan jantungnya berhenti berdetak.


"A-apa yang kau lakukan?" Zain bertanya dengan nada suara pelan, namun raut wajahnya menjelaskan Yuna harus memberikan penjelasan masuk akal di balik tindakan nakalnya.


"Itu syaratnya."


"What?" Zain tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, bagaimana bisa sapuan singkat bibir Yuna di bibir seorang Zain De Lucca termasuk syaratnya.


"Iya, itu syaratnya. Kau sudah janji tidak akan marah, lagi pula untuk apa kau marah? Aku berhak membuat bibirmu bengkak karena aku masih berhak atasmu." Seloroh Yuna dengan wajah datar dan senyum nakalnya. Jangan tanyakan apa yang terjadi pada Zain, karena saat ini pria tampan itu sedang merasakan jantungnya berdegup sangat kencang.

__ADS_1


Kau mengabaikanku? Perubahan sikapmu memang bagai misteri bagiku. Aku yakin akan segera menemukan kebenarannya. Batin Yuna, ia berdiri dari ranjang kemudian menunjuk kearah pintu, meminta Zain keluar dari kamarnya.


...***...


__ADS_2