
Yuna baru saja kembali ke kamar setelah menyelesaikan aktivitas memasak bersama kakak iparnya di dapur. Nampak jelas rona kebahagiaan di wajah Yuna setelah berbincang dengan kakak iparnya, Raina Salsadila.
Namun tidak begitu bagi Zain, wajah tampannya berubah masam. Ia bahkan tidak menyambut kedatangan Yuna dengan senyuman. Zain yang sedari tadi duduk di tempat tidur sambil membaca buku langsung berdiri setelah menyadari kedatangan istrinya. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Yuna, wajah yang sebelumnya selalu ia rindukan.
"Kau sedang membaca apa? Ayo kita turun, sudah waktunya makan malam. Kakak menunggumu." Yuna berucap sambil berjalan kearah Zain, ia memegang lengan suaminya kemudian beralih mengeratkan jemarinya di jemari Zain.
"Aku akan turun, sekarang." Balas Zain sambil berusaha melepaskan tautan jemari Yuna. Setelah mengatakan itu ia langsung keluar dari kamar tanpa menoleh pada Yuna yang menatapnya dengan tatapan heran.
"Ada apa dengannya? Dia berubah seratus delapan puluh derajat setelah kejadian tadi." Cicit Yuna setelah menyadari Zain tak lagi bersamanya.
__ADS_1
Lima menit kemudian, makan malam berlangsung dengan tenang. Hanya suara sendok dan garfu yang saling bersahutan, selebihnya kedua pasangan yang ada di ruang tengah itu menikmati makan malam mereka tanpa keluhan. Zain yang biasanya bersikap ramah berubah menjadi pendiam hanya dalam beberapa jam saja. Yuna menyadari itu, namun ia lebih memfokuskan perhatiannya pada kedua kakaknya agar tidak menyadari perubahan drastis seorang Zain De Lucca.
"Kakak, aku ingin kalian tetap tinggal disini. Aku sangat bahagia memiliki teman bicara secerdas kak Raina. Semua masalahku seolah menguap ke angkasa." Yuna berucap sembari menatap wajah tersenyum Raina. Ia tidak menyadari wajah Zain terlihat khawatir karena ucapan singkatnya.
Apa dia menceritakan masalah tadi pada kakak ipar? Tamatlah riwayatmu Zain. Gumam Zain di dalam hatinya sembari memasukkan satu sendok terakhir makan malamnya.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Zain yang mendengar ucapan Shawn tanpa sengaja memunceratkan air yang ada di dalam mulutnya. Ia terlalu terkejut sampai tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Netra biru Zain langsung mengarah pada wajah cantik Yuna yang tampak terkejut.
__ADS_1
"Pelan-pelan." Ujar Yuna masih dalam keadaan terkejut, ia mengusap punggung Zain berharap suami tampannya baik-baik saja.
"Kenapa kau menatap istrimu seperti itu? Apa kau punya rahasia?" Shawn bertanya, ia menatap Zain penuh tanda tanya. Pertanyaan Shawn sangat sederhana, hanya membutuhkan jawabam 'Iya' dan 'Tidak' namun di indra pendengaran Zain itu terdengar bagai intimidasi.
"Kakak, aku ini istrinya. Dia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dariku. Bukankah kau tahu aku lebih hebat dari seorang detektif?" Yuna yang mencoba mengalihkan perhatian Shawn terlihat tersenyum malu-malu.
Mereka keluarga yang sempurna. Kenapa aku memasuki hidup mereka jika ujung-ujungnya aku tak layak untuk keluarga Dinata. Lagi-lagi Zain hanya bisa bergumam di dalam hatinya. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada siapa pun karena tidak ada yang tahu kondisinya selain dirinya. Inilah duka yang harus ia telan, duka yang sakitnya melebihi tusukan ribuan pedang. Makan malam terakhir ini berakhir dengan canda tawa tiga bersaudara, mereka selalu terlihat bahagia kecuali Zain De Lucca.
...***...
__ADS_1