
"Selamat Sore Tuan. Selamat sore Nyonya." Seorang art paruh baya, dan tiga wanita di pertengahan usia tiga puluhan berdiri di sampingnya seraya memberikan salam pada Zain dan Yuna begitu mereka tiba di depan pintu.
"Kalian siapa? Berani sekali kalian masuk kerumah orang lain saat penghuni rumah tidak ada!" Cecar Zain dengan suara lantang, nampak jelas aura tidak suka yang di tunjukkan seorang Zain De Lucca.
"Maaf, Tuan. Nyonya besar meminta saya mengantar mereka sore ini karena Nyonya besar khawatir Nona muda akan kewalahan mengurusi Mansion sebesar ini." Balas Max yang baru muncul dari dapur.
"Kau ada di sini? Sejak kapan?" Zain bertanya, ia menatap tajam pada asisten Mommy-nya. Pria muda dengan kemampuan bela diri yang tak perlu di ragukan lagi, di tambah dengan kecerdasan di atas rata-rata. Max merupakan paket kompit yang di inginkan oleh setiap wanita.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya mengantar mereka, lagi pula mereka sudah bicara dengan kakak ipar anda. Nyonya juga bilang, mereka akan segera berkunjung setelah mereka tiba di Thailand."
Zain menganggukkan kepala pelan kemudian meminta Max untuk segera meninggalkan Mansionnya. Terlalu lama bicara pada asisten Mommy-nya itu sama saja dengan membiarkan masalah datang menyapa. Zain benar-benar tidak suka padanya, dia memang setia namun tidak akan baik bagi Zain yang memiliki banyak rahasia.
__ADS_1
"Apa kalian hanya datang berempat?"
"Tidak Tuan! Kami datang bertuju, ada tiga pria di taman belakang. Tadi Tuan Max meminta mereka untuk membersihkan taman." Tutur Art paruh baya yang saat ini berdiri di depan Zain dalam keadaan menundukkan kepala.
"Bawa barang-barang ini kekamar ku. Jangan memegang apa pun dan jangan pernah bicara buruk di belakangku! Aku benci penggosip." Ucap Zain dengan suara lantang, Yuna yang berdiri di samping Zain hanya bisa diam mendengar ucapan ketus suaminya.
"Ba-baik, Tuan." Balas art paruh baya itu patuh, ia kembali menundukkan kepala untuk menghormati majikan barunya yang kemudian di ikuti oleh ketiga rekannya yang lain.
Zain berjalan menuju taman belakang. Sesuai informasi yang di berikan Max, kakak iparnya, Shawn Praja Dinata ada di sana.
"Siapa namamu?" Yuna bertanya sambil mempersilahkan Art paruh baya itu duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Tesanee Sunee, Nyonya."
"Duduk!" Yuna menunjuk sofa panjang di sebelahnya, ia tidak nyaman bicara karena itu ia meminta art barunya untuk duduk di sebelahnya.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa duduk di samping anda. Rasanya, tidak pantas untuk saya duduk di samping orang terhormat sekelas Nyonya."
Yuna menghembuskan nafas kasar, selama ini Mama dan Papanya selalu mengajarkannya untuk bersikap adil dan tidak memandang rendah orang lain. Tapi disini, art barunya seolah sedang mendiktenya kalau yang rendah itu tetaplah rendah dan harus berada di bawah.
"Baiklah. Jika anda tidak mau duduk maka saya yang akan berdiri." Ucap Yuna sambil bangun dari sofa.
"Tidak, Nyonya. Maaf. Saya akan duduk." Ucap Art paruh baya itu dengan cepat.
__ADS_1
"Hari ini kalian resmi bekerja di Mansion Lucca. Aku hanya ingin mengatakan, ada beberapa hal yang tidak boleh kalian lakukan, dan jika kalian sampai melakukan hal yang sudah ku peringatkan, aku tidak akan segan-segan untuk memecat kalian." Ucap Yuna memperingatkan. Yuna sosok yang baik hati, ia hanya mencoba memperingatkan art barunya agar apa yang mereka lihat dan dengar tidak sampai di ketahui orang pihak luar.
...***...