
Waktu telah menunjukan pukul 19.19. Sesuai janji, malam ini Aroon akan makan malam di restoran bintang lima favoritnya bersama Zain dan istrinya. Tak lupa, Ploy yang juga merupakan sahabat dekat mereka ikut nimbrung dalam pertemuan ini.
Lima menit yang lalu, Ploy tiba bersama Aroon, mereka duduk dengan manis di meja dekat jendela yang mengarah ke arah kolam renang. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan mereka berdua. Karena pada dasarnya, baik Aroon atau Ploy, keduanya sedang sibuk bermain Ponsel.
Aroon menatap potret cantik Yuna yang ia ambil secara diam-diam. Sementara Ploy? Dia juga melakukan hal yang sama, menatap wajah tampan Zain saat mereka menghabiskan liburan berdua di Dubai. Hanya berdua, dan saat itu lah benih-benih cintai mulai muncul di hati Ploy Nan untuk seorang Zain De Lucca. Sayang sekali, ia terpaksa harus menyerah saat rekannya sesama model berhasil mencuri hati pria idamannya. Bahkan hingga saat ini ia sangat membeci wanita itu. Namun buruknya, kebencian Ploy Nan jauh lebih besar untuk seorang Yuna Dinata yang ia anggap levelnya jauh di bawah dirinya. Miris, ia menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, sementara ia tidak sadar dirinya lah yang lebih buruk.
"Menurut Mu, dimana Zain saat ini?" Mulai bosan, Ploy mencoba menggali Informasi dari Aroon.
"Katakan Aroon, di mana Zain? Aku bosan di tempat ini. Apa kau lihat, aku sangat lapar!"
__ADS_1
"Mmm! Maaf. Aku terlalu fokus pada handphone, aku sampai tidak mendengar ucapan Mu. Apa yang kau katakan?"
"Ck!" Ploy berdecak, ia kesal. Wajah cantiknya terlihat masam. Rasanya, ia ingin menjitak kepala Aroon, namun ia urungkan niat itu sesaat setelah ia menyadari saat ini mereka berada di tempat umum. Tidak mungkin ia bertindak buruk, bisa-bisa popularitasnya sebagai aktris ternama akan berakhir dalam hitungan detik saja bila semua orang membicarakan perilakukanya di depan publik.
"Kau lihat! Kau bertanya, dan dia datang." Tunjuk Aroon ke arah pintu masuk, Zain yang di tunjuk tampak santai, berjalan tanpa beban.
"Hay bro, how are you?" Aroon bangun dari duduknya, menyalami Zain kemudian memeluknya singkat.
"Hay Girld, how are you?" Celoteh Zain sambil memeluk tubuh ramping Ploy.
__ADS_1
Ploy hanya mengangguk, mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja, padahal sebenarnya dia sedang tidak baik-baik saja. Memikirkan Duduk satu meja dengan wanita yang telah mengambil pria-nya membuat Ploy hanya bisa mengumpat dengan kata-kata kasar. Dan buruknya, ia hanya bisa melakukan itu di dalam hatinya. Seandainya bangku yang ia duduki bisa meleleh, sudah di pastikan itu lah yang akan terjadi.
"Di mana wanita Mu? Aku rasa, dia takut datang ketempat semewah ini!" Goda Aroon pada Zain karena Ia belum melihat istrinya.
"Sebentar lagi, dia akan datang!"
"Dia sedang melakukan panggilan Vidio dengan keluarganya yang ada di Indonesia."
"Eits! Kalian jangan salah paham, dia meminta ku masuk duluan karena tidak ingin melihat kalian menunggu terlalu lama. Bukankah dia sangat manis?" Zain terkekeh, ia menatap Aroon dan Ploy secara bergantian, mengisyaratkan kalau dia pria beruntung karena mendapatkan wanita tercantik dan terbaik di dunia.
__ADS_1
...***...