Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 41


__ADS_3

"Jangan khawatir. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku menikmati pekerjaan ku. Sangat." Ujar Yuna berterus terang. Ia bersungguh-sungguh saat mengatakannya, dan tidak ada kebohongan dalam setiap tutur katanya.


"Sekarang katakan, kenapa Pak Aroon datang kemari? Biasanya karyawan yang menghampiri Bos-nya. Dan bukan sebaliknya, Bos yang menghampiri karyawannya." Cicit Yuna mencoba menggali informasi. Ia menatap Aroon yang telihat bingung sembari meletakkan air mineral di atas meja depan Aroon.


Aroon tampak bingung, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat seperti pencuri kecil yang tertangkap sang empunya rumah, dalam hati ia berdoa semoga Yuna tidak menemukan fakta kalau dirinya mengagumi gadis Indonesia itu. Kalau tidak, tamatlah riwayatnya.


"Ahh iya, maaf. Aku sampai lupa tujuan ku datang kemari."


"Sebagai Bos yang baik, aku ingin mengajak Mu makan malam."


"Eits! Jangan salah paham, aku berkata seperti ini bukan untuk menggoda Mu. Kita memang akan makan malam, dan kabar baiknya kita tidak makan berdua."

__ADS_1


"Aku ingin mengenalkan Mu dengan sahabat baik Ku. Sahabat yang dulu pernah ku ceritakan menikah dengan gadis Indonesia, aku akan mengenalkan kalian karena aku sendiri belum pernah melihat istrinya." Aroon terlihat serius.


"Aku ingin pergi. Tapi, maaf. Aku benar-benar tidak bisa untuk malam ini." Yuna menatap netra Aroon, ia menangkap kekecewaan besar di sana. Mau bagaimana lagi, Zain-nya lebih penting dari urusan apa pun.


"Aku janji, di lain waktu aku pasti akan bertemu dengan teman Mu itu." Sambung Yuna meyakinkan. Sekilas, ia menatap Aroon yang terlihat sedang memaksakan diri untuk tersenyum. Dan hal itu berhasil memancing senyuman Yuna.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Apa aku tampan? Atau aku terlihat lucu?" Aroon berusaha menggoda Yuna dengan tingkah polosnya, wajah tampan itu terlihat semakin tampan. Dan itu menambah nilai plus seorang Aroon di pikiran Yuna.


"Tapi, maaf. Suamiku jauh lebih tampan di bandingkan dengan diri Mu." Cicit Yuna masih dalam keadaan tersenyum. Dan hal itu berhasil membuat bibir Aroon mengerucut. Ia tidak menyangka candaannya akan di balas dengan telak oleh Yuna. Candaan yang terasa bagai tamparan untuk hatinya yang terlanjur merasakan cinta.

__ADS_1


"Yaya... Baiklah, aku mengaku kalah." Aroon berucap dengan nada suara putus asa.


"Sebagai imbalannya, aku akan mengajak kalian berdua makan malam di lain waktu. Bagaimana?"


"Ok. Itu ide yang bagus." Jawab Yuna santai sambil mengusap pangkal hidungnya.


"Kalau boleh tahu, apa pekerjaan suami Mu? Apa dia tidak khawatir istri cantiknya di lirik oleh pria lain sementara dia begitu asyik bermain handphone di rumah?" Aroon sangat penasaran, pria seperti apa yang berhasil meluluhkan hati pujaan hatinya.


Mendengar pertanyaan Aroon, Yuna hanya bisa tersenyum tipis. Entah seperti apa kejutan yang akan Aroon terima jika ia sampai tahu pria beruntung yang berhasil mendapatkan Bidadari yang sempat mengisi lubuk hati terdalamnya tak lain sahabatnya sendiri, Zain De Lucca.


Karena waktu yang semakin sempit, Yuna tidak bisa menemani Aroon berbincang terlalu lama, ia terpaksa meninggalkan Aroon dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Berkutat dengan kain, jarum dan benang, menghasilkan gaun terbaik adalah impiannya, dan saat ini ia sedang berdiri di depan impian indah itu.

__ADS_1


Mengetahui kesibukan Yuna, dengan senang hati Aroon berpamitan, kembali menuju kantornya sehingga Yuna bisa fokus pada pekerjaannya yang masih tertunda. Untuk urusan membawa Yuna makan malam dan mengenalkannya dengan sahabat baiknya, bisa ia rencanakan di lain waktu.


...***...


__ADS_2