Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Memilih pergi (Yuna)


__ADS_3

Hal terbaik dari memberikan nasihat adalah ketika seseorang yang di nasihati itu perlahan mulai mengubah dirinya menjadi sosok berbeda yang memberikan manfaat bagi semesta, sesungguhnya nasihat itu akan berguna jika di terima oleh orang yang berjiwa lapang. Sebaik apa pun nasihat itu, jika yang menerimanya sosok yang berjiwa dangkal maka nasihat yang lebih berharga dari permata itu pun akan berubah menjadi sampah.


Dan hal itulah yang Yuna rasakan saat ini, ia merasa percuma saja menasihati Ploy Nan, gadis anggun dengan ber juta-juta pesona indahnya. Sayang sekali, hal itu tidak berguna baginya selama ia mempertahankan sikap arogannya.


"Satu pekan!" Ploy begitu percaya diri, entah rencana apa yang ia susun sampai ia begitu yakin tidak akan gagal. Yuna yang mendengarnya sedikit takut, namun ia berserah diri pada yang kuasa untuk selalu menjaganya.


"Bukankah aku mengatakan akan mengusirmu dalam waktu satu pekan? Dan satu pekan waktu mu telah berakhir, aku bersumpah atas nama ibumu, kau akan menyesal karena telah di lahirkan ke dunia ini." Ancam ploy dengan mata menyala.


Akhirnya, amarah yang coba Yuna tahan meledak juga. Seharusnya Ploy tidak perlu memancingnya.

__ADS_1


"Cihh!" Yuna berdecih untuk mengekspresikan kekesalannya. Ia mencengkram lengan Ploy cukup keras hingga wanita kasar itu mendesah menahan sakit.


"Aku tidak pernah melihat orang yang lebih buruk di bandingkan dirimu! Kamu mengancam ku? Aku tidak takut." Teriak Yuna sambil menghempaskan lengan Ploy. Ia telah di butakan oleh amarahnya, masih untung ia tidak menyakiti wanita menyebalkan itu dengan berutal.


"Aku akan melihat rencana buruk apa yang sudah kau siapkan untuk memisahkan ku dan Zain! Ingat ucapanku, hari di saat Zain menyadari kalau kau lebih buruk dari ular berbisa, maka hari itu akan menjadi hari terakhirmu menjadi temannya." Yuna kembali menunjuk Ploy, berusaha mengingatkannya untuk kesekian kalinya agar wanita itu tidak perlu bersikap nekat sehingga hubungan pertemanannya dan Zain tidak bermasalah.


"Beraninya kau mengancamku, dasar tidak berguna!" Umpat Ploy kasar, ia mendorong Yuna hingga tubuh ramping itu tersungkur membentur dinding kemudian berakhir di lantai.


Bukankah kamu sangat yakin dengan pernikahan ini? Aku akan membuatmu menderita dalam hubungan yang sangat kau banggakan. Akan ku tunjukan tempatmu sehingga kamu tidak akan berani menunjukkan wajahmu lagi." Ploy kembali berteriak dengan nada suara tinggi, untuk pertama kali wanita itu melampiaskan amarahnya di depan seseorang yang sangat ia benci. Bayangan akan kehilangan Zain membuatnya lupa diri, ia lupa harus menjaga image-nya di depan publik.

__ADS_1


Tubuh Yuna bergetar, ia sangat marah. Perlahan ia bangkit sambil berpegangan di dinding, dorongan cukup keras yang Ploy lakukan berhasil membuat kakinya terkilir.


"Haha!" Yuna tertawa pelan, dengan langkah perlahan ia kembali bangkit. Hal terbaik untuk melukai sosok arogan seperti Ploy Nan adalah dengan cara melukai harga dirinya. Yuna tahu dengan pasti kalau itu lebih baik dari sekedar tamparan.


"Kita lihat siapa yang akan keluar sebagi pemenang, hari ini kamu bicara omong kosong soal mengambil Zain dari ku, tapi kamu tidak tahu, kan? Zain selalu menghabiskan malamnya dengan ku, istri cantiknya yang tidak akan pernah tergantikan." Ucap Yuna dengan senyuman mengembang. Tujuannya hanya ingin memanas-manasi Ploy saja.


"Kecantikan bukan kunci untuk meluluhkan hati Zain, jika kamu hanya mengandalkan kecantikan, lalu apa bedanya kamu dengan wanita yang berdiri di pinggir jalan, wanita yang menjajakan dirinya untuk alasan bertahan hidup." Ujar Yuna untuk kesekian kalinya, ia berusaha meledek Ploy Nan dengan ucapan sederhana namun cukup mengena.


Dalam hidup ini ada beberapa orang yang tidak akan mudah kita hadapi, ia menganggap dirinya lebih berharga dari orang lain sehingga ia menghalalkan segala cara untuk membuat dirinya bahagia. Jangan seperti itu, jika kamu menganggap diri mu berharga, maka orang lain pun berharga, kekayaan dan popularitas tidak memberimu hak untuk menyakiti orang lain. Dan Ploy Nan tidak sadar kalau dirinya telah melewati batasan, akan selalu ada penyesalan di akhir tindakan, karena itulah Yuna memilih pergi setelah meluapkan semua amarahnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2