
Pagi yang panas akhirnya terjadi juga. Pagi ini Zain terlihat berbeda di bandingkan dengan Zain di hari-hari biasa, biasanya Zain selalu menolak dan menjauhkan diri dari Yuna, namun pagi ini ia tidak dapat menahan gejolak di hatinya.
Yuna yang tidak ingin melihat Zain menyesali perbuatannya berulang kali mencoba untuk menghentikan pria itu. Memang dasar Zain, ia tidak bisa memikirkan apa pun selain menuntaskan hasrat yang telah memenuhi hati dan pikirannya.
"Aku hanya ingin melakukannya dengan Yuna ku. Tolong, jangan tolak aku. Aku akan tiada jika kau sampai menolak ku." Bisik Zain di telinga Yuna, bagai kerbau yang di cocok hidungnya, Yuna pasrah, ia menerima setiap perlakuan Zain pada tubuhnya.
Mengetahui Yuna tidak menolak, Zain berpikir Yuna telah memberikan izinnya. Tanpa aba-aba, Zain langsung membopong tubuh ramping itu menuju kamar yang terletak di lantai dua, ia berjalan menaiki anak tangga secara perlahan namun bibirnya tak bisa diam, lidahnya bahkan mengabsen satu per satu susunan gigi seorang Yuna Dinata. Sudah sejak lama Zain menginginkan kebersamaan ini, namun sekuat tenaga ia selalu menahan hasratnya. Entah apa yang di inginkan tubuhnya hingga Zain tidak bisa berhenti, ia merasa seolah terbang ke awan.
"Kita melakukannya, dan aku ikhlas untuk segalanya. Apa pun yang terjadi pada tubuh ku setelahnya, aku tidak akan mengeluh." Ucap Yuna dengan suara pelan, ia menatap wajah tampan Zain yang masih terlelap tanpa berkedip. Yuna menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.
"Selama ini kau selalu menahan diri, aku tidak tahu kalau kau begitu menginginkan ku. Dan sekarang, kita sudah menjadi satu. I love you Zain De Lucca, hari ini dan selamanya." Sambung Yuna lagi, ia melayangkan kecupan di puncak kepala Zain, setelah itu Yuna beranjak dari ranjang empuk itu, ranjang yang menjadi saksi bisu betapa dua anak manusia itu saling memberi dan menerima atas nama cinta.
Tiga jam berlalu sejak Zain dan Yuna menghabiskan pagi nan indah. Kini Yuna kembali berkutik di dapur membuat sarapan untuk mereka berdua. Sejujurnya itu keinginan Yuna, memasak sarapan untuk Zain. Asisten rumah tangga yang di pekerjakan bertugas hanya untuk membersihkan rumah.
"Good morning, honey." Sapa Zain begitu ia turun dari tangga. Ia mencium puncak kepala istrinya.
__ADS_1
Yuna tersentuh, ia tersenyum sambil merunduk. Perlakuan hangat Zain membuatnya merasakan aman. Sudah lama sejak terakhir kali Zain melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepala istrinya, dan hal itu membuat Yuna merasa sangat berharga. Mereka memang suami istri, apa yang di lakukan Zain pagi ini bagi pasangan lain mungkin hal biasa-biasa saja, namun bagi Yuna ini sangat luar biasa, ia bahkan berdoa di dalam hatinya agar kehangatan pagi ini selalu terulang dalam hubungan mereka.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" Zain bertanya, jemari lentiknya mengusap wajah cantik Yuna.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Zain yang di tatap terlihat malu-malu, ia bahkan bertindak konyol hanya untuk menghilangkan gugupnya.
"Tidak ada yang salah dengan wajah suami ku. Dia sangat tampan sampai-sampai semua wanita akan mengantri untuk mendapatkannya." Sanjung Yuna, ia meraih tangan Zain yang sedari tadi mengusap wajahnya sendiri.
"Jika tidak ada yang salah dengan wajah ku, lalu kenapa Yuna ku menatap ku seperti itu? Aku merasa kau akan meninggalkan ku, sangat jauh sampai aku tidak bisa menemukan bayangan mu. Hal itu membuat ku takut. Dan kepercayaan diri ku mulai menghilang." Cicit Zain dengan suara pelan, ia menangkup wajah cantik Yuna dengan kedua tangannya. Ada kebahagiaan yang terpancar di netra itu, kebahagiaan yang tidak bisa Zain ukur kedalamannya.
"Ayo kita sarapan, aku sudah menyiapkan makanan ke sukaan mu." Ucap Yuna sambil membimbing Zain untuk duduk dan menikmati sarapannya dengan tenang.
"Thank you, honey." Kali ini Zain mencium punggung tangan Yuna untuk mengekspresikan bahagiannya.
"Apa aku boleh bertanya?" Yuna kembali membuka suara di antara senyapnya udara, Zain yang tadinya ingin memasukkan sendok ke dalam mulut mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Silahkan." Jawab Zain singkat.
"Aku menunggu mu, kenapa kau pulang terlambat?" Yuna bertanya namun kepalanya tertunduk, ia tidak berani menatap Zain.
"Aku minta maaf. Sebenarnya, semalam aku ingin cepat-cepat pulang. Namun langkah kaki ku tertahan karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ku tinggalkan." Ucap Zain berbohong. Yuna mengangguk, ia tidak ingin bertanya lagi karena ia tahu suaminya bukan pria biasa, ia tahu prianya memiliki kesibukan lebih jika di bandingkan dengan orang lain pada umumnya.
Yuna tiba-tiba merasa kenyang, ia meraih gelas air mineral yang terletak di depannya. Meneguk air itu secara perlahan.
"Aku terlalu sibuk, aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa pulang." Sambung Zain lagi.
Uhuk.Uhuk.
Yuna tersedak, air yang ia minum masuk melalui saluran pernafasannya. Melihat Yuna batuk-batuk membuat Zain panik, ia berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Yuna kemudian menepuk punggung wanitanya.
Ya Rab... Zain tidak ingat apa pun. Itu artinya, ia juga melupakan apa yang sudah kami lakukan pagi ini! Yuna menyentuh dadanya. Sekujur tubuhnya bergetar. Ia bingung harus ia apakan pria ini hingga memorinya kembali pada saat-saat di mana mereka menghabiskan pagi yang indah.
__ADS_1
...***...